JawaPos Radar

Utang Tembus Rp 4.000 Triliun, Sri Mulyani: Jangan Mudah Makan Fitnah

26/05/2018, 15:28 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani (dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Sabtu (26/5). Pada kesempatan tersebut, Ani begitu ia akrab disapa, memberikan pemaparan mengenai peranan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mewujudkan tujuan pembangunan.

Selain itu, Ani juga menjelaskan mengenai kondisi keuangan negara termasuk utang yang sudah mencapai hampir Rp 4.000 triliun.

Ani menjelaskan, bahwa APBN menjadi instrumen penting dalam mengelola Negara Indonesia. Salah satu tujuannya adalah untuk pembangunan ekonomi. Dan sampai saat ini, pertumbuhan ekonomi di Indonesia termasuk cukup tinggi.

Sri Mulyani
KULIAH UMUM: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum di kampus IAIN Surakarta, Jateng, Sabtu (26/5). (Ari Purnomo/JawaPos.com)

"Ada pengalaman, Indonesia pernah tumbuh di atas 6 persen. Dan Pak Jokowi menjanjikan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen, jadi memang mempunyai standar yang sangat tinggi," ungkapnya di hadapan ratusan mahasiswa.

Pertumbuhan ekonomi, kata Ani, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Baik faktor dari dalam negeri maupun luar negeri. Dan jika dibandingkan dengan negara lain di dunia, dengan G20 Indonesia adalah nomor tiga tertinggi.

Selama ini memang negara maju lebih kaya, akan tetapi pertumbuhan ekonominya tidak tinggi sekali. Bahkan di Jepang hampir 0 persen, beberapa negara yang pernah mengalami krisis 2008-2009 pernah minus.

"Pertumbuhan ekonomi juga memengaruhi sosial juga keamanan, Dan inilah tantangan kita, pertumbuhan tinggi tapi lingkungan cepat berubah," katanya.

Menkeu juga mengatakan, jika selama ini APBN yang ada mencapai Rp 2.220 triliun. Tetapi penerimaannya hanya Rp 1.894 triliun, sehingga masih defisit sebanyak Rp 325 triliun. "Dan ini di media sosial dibaca dengan utang, utang, utang. Jangan mudah makan fitnah, keji kalau dimakan jelek," ungkapnya.

Ani menambahkan, bahwa saat ini kondisi utang Indonesia masih dalam batas aman. Dan untuk utang sudah diatur di dalam Undang-undang. Bahwa setiap utang diatur sebesar 3 persen dari total PBB yang mencapai Rp 14 triliun.

Dan untuk batas uang total mencapai 60 persen dari Rp 14 triliun atau total mencapai Rp 8.400 triliun. "Kalau sekarang utang kita sudah Rp 4.000 triliun Indonesia akan bangkrut, dan kita kan tidak mungkin untuk mementokkan jumlah utang," pungkasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up