alexametrics

Matahari di Sekitar Katulistiwa, Suhu di Medan Capai 35.6 Derajat

26 Maret 2019, 02:06:34 WIB

JawaPos.com – Suhu udara di Kota Medan cukup terik beberapa hari belakangan. Berdasarkan catatan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, suhu udara di Kota Medan mencapai 35.6 derajat celcius.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Edison Kurniawan mengungkapkan, ini disebabkan kondisi sebagian besar massa udara basah bergerak menuju perairan Selatan Jawa yang terdapat gangguan cuaca berupa TC Veronica. Sehingga, perawanan menjadi clear.

“Cuaca panas tersebut tak hanya terjadi di Kota Medan saja. Tetapi juga di sebagian besar wilayah di Sumut,” jelas Edison, Senin (25/3).

Faktor lain yang menyebabkan suhuh udara cukup terik beberapa hari belakangan adalah posisi matahari yang berada di sekitar khatulistiwa. “Maret bertepatan dengan posisi matahari yang berada di sekitar khatulistiwa. Sehingga, menambah suhu di wilayah Sumut menjadi semakin panas. Untuk tiga hari kedepan, range suhu berkisar antara 24-33 derajat celcius,” bebernya.

Edison pun membantah soal adanya isu yang beredar mengenai fenomena Equinox yang disebut-sebut dapat menyebabkan peningkatan suhu ekstrim di Kota Medan. Yang mana bisa berakibat sun stroke dan dehidrasi. Menurutnya itu tidak benar.

“Equinox adalah salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September,”terangnya.

Edison menjelaskan, saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memang memiliki jarak paling dekat. Konsekuensinya, wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari yang maksimum.

“Fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrim. Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36°C,” papar Edison.

Menurut Edison, berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG. suhu maksimum tertinggi yang terjadi di wilayah Indonesia, yakni pada 23 Maret 2019 di Meulaboh, Aceh sebesar 37.6°C.

“Jadi, Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa; Afrika; dan Amerika,” pungkasnya.

Terpisah, Dokter Penyakit Tropik dan Infeksi, Dr Umar Zein mengatakan, cuaca ekstrim akan berdampak terhadap kesehatan. Di mana suhu udara saat siang hari terasa sangat panas dan terik, bahkan terasa menyengat di kulit. Lalu tiba-tiba cuaca mendung dan hujan ringan.

“Kondisi ini sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat di Medan. Karena rentan terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA); Demam Berdarah Dengue (DBD); gangguan kulit dan diare. Sedangkan dampak perubahan cuaca tersebut, dapat langsung dirasakan salah satunya adalah sakit kepala dan migrain,” terangnya.

Pesan Umar Zein, masyarakat supaya tidak  jajan sembarangan. Kemudian, jangan terekspose langsung pada cuaca panas. “Perbanyak minum air putih dan paling penting adalah mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin. Gunakan pola hidup yang sehat lah,” imbaunya.

Editor : Budi Warsito

Copy Editor :

Matahari di Sekitar Katulistiwa, Suhu di Medan Capai 35.6 Derajat