alexametrics

Bantu Petani Sarolangun, Kementan Kucurkan Bantuan Rp 11,6 Miliar

26 Maret 2019, 10:51:15 WIB

JawaPos.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penuh upaya peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Di Kabupaten Sarolangun, Jambi, Kementan mengucurkan bantuan Rp 11,6 miliar.

Direktur Jenderal Pekebunan, Kasdi Subagyono bersama Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Justan Riduan Siahaan secara simbolis menyerahkan bantuan ini. Bantuan tersebut diserahkan pada acara Kunjungan Kerja Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Laman Basamo Sriwijaya, Sarolangun, Senin (25/3).

Kasdi mengungkapkan bahwa bantuan berasal dari APBN dan DAK sektor pertanian untuk kabupaten ini tahun 2019. Bantuan berupa alat mesin pertanian (alsintan) kebutuhan pra panen, pasca panen dan bantuan untuk peremajaan serta intensifikasi pemeliharaan tanaman karet.

Alsintan pra panen yang diserahkan berupa 10 unit traktor roda dua, 5 unit cultivator, 6 unit pompa air 6 inch, dan 50 unit handsprayer elektrik. “Sementara alsintan pasca panen yang diserahkan berupa 5 unit power tresher,” ujar dia melalui keterangan tertulisnya, Selasa (26/3).

Kasdi memaparkan, pihaknya juga memberikan bantuan untuk peremajaan karet rakyat seluas 350 ha untuk petani di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Sarolangun. Bantuan tersebut berupa benih karet, pupuk, dan pestisida serta herbisida.

“Sedangkan bantuan pemeliharaan karet rakyat berupa pupuk untuk area perkebunan karet rakyat seluas 600 ha di Desa Perdamaian, Kecamatan Singkut,” jelas dia.

Menurut Kasdi, bantuan peremajaan dan intensifikasi karet tersebut merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas petani, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan petani karet di Sarolangun.

“Peremajaan atau replanting tersebut menurutnya adalah upaya jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan petani,” ungkap dia.

Kasdi mengungkapkan, untuk jangka pendek, pemerintah saat ini tengah berupaya untuk meningkatkan harga jual karet. Meski Indonesia termasuk salah satu produsen terbesar karet di dunia, namun urusan harga masih bergantung pada harga pasar internasional.

Untuk itu, tambah Kasdi, Indonesia menginisiasi pertemuan dengan Tahiland dan Malaysia untuk membahas peningkatan harga jual karet di pasaran Internasional.

“Produksi tiga negara ini sama dengan produksi 70% karet dunia. Jadi kita membuat kesepakatan untuk membatasi ekspor agar karet dunia berkurang. Sesuai hukum supply and demand, jika barang di pasar langka, maka harga akan meningkat,” paparnya.

Dalam pertemuan itu disepakati untuk mengurangi ekspor sebesar 240 ribu ton tahun. Hal tersebut, menurut Kasdi, cukup efektif menaikkan harga. “Baru mau ketemu saja, harga sudah naik dari 6 ribu jadi 8 ribu, apalagi kalau terus diberitakan. Kita berharap harganya bisa mencapai 1,2 US Dolar,” pungkasnya.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : Yesika Dinta

Copy Editor :

Bantu Petani Sarolangun, Kementan Kucurkan Bantuan Rp 11,6 Miliar