alexametrics

3 Dokter RSUD Arifin Achmad Keluar dari Penjara

26 Februari 2019, 11:48:06 WIB

JawaPos.com – Tiga dokter menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Riau. Mereka sempat ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB, Sialang Bungkuk, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Kini ketiganya sudah keluar dari penjara. Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru mengabulkan permohonan pengalihan penahanannya, Senin malam (25/2) malam.

Ketiga dokter adalah dr Welli Zulfikar, dr Kuswan Ambar Pamungkas, dan drg Masrial. Selain mereka, hakim juga mengalihkan penahanan Direktur CV Prima Mustika Raya (PMR) Yuni Efrianti. Sementara staf CV PMR Mukhlis tetap ditahan karena tidak mengajukan permohonan pengalihan penahanan.

“Hakim mengalihkan penahanan tiga dokter. Jadi tahanan kota,” ujar Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru Yuriza Antoni, Selasa (26/2).

Ketiga dokter telah mengajukan pengalihan penahanan kepada hakim sejak menjalani sidang perdana pada Desember 2018 lalu. “Hanya empat terdakwa dialihkan (penahannya). Mungkin karena mengajukan permohonan,” kata Yuriza.

Tiga dokter langsung mengurus pembebasannya dari Rutan Klas IIB Pekanbaru, Senin malam. “Sedangkan terdakwa Yuni hari ini,” ucap Yuriza.

Tiga dokter dan dua terdakwa dari swasta ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru sejak 26 November 2018. Penahanan itu menimbulkan protes. Terutama dari rekan-rekan terdakwa.

Puluhan dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI) Koordinator Wilayah Riau dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Riau melakukan aksi solidaritas ke Kejari Pekanbaru. Mereka meminta agar penahanan ketiga tersangka ditangguhkan. Alasannya, tenaga ketiga dokter sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan masyarat.

Pengacara ketiga dokter, Firdaus Azis menyebutkan, ada jaminan orang agar penahanan ketiga terdakwa dialihkan. “Ada jaminan orang dari asosiasi (dokter) di Pekanbaru dan pusat. Serta istri bersangkutan yang siang malam ada bersama mereka,” ucap Firdaus sebelumnya.

Ada 20 item penjamin terhadap tiga dokter. Firdaus menjamin persidangan tidak akan terganggu kalau ketiga terdakwa berada di luar penjara. “Justru yang terganggu adalah pelayanan kepada masyarakat,” ucap Firdaus.

Ketiga dokter itu adalah sub spesialis. Untuk dr Welly Zulfikar hanya ada satu orang. “Jadi mereka tidak hanya dokter spesialis. Jadi kami berharap dari sisi kemanusiaannya,” tutur Firdaus.

Diberitakan sebelumnya, perbuatan kelima terdakwa terjadi pada 2012 hingga 2013. Modusnya, membuat Formulir Instruksi Pemberian Obat (FIPO) dengan mencantumkan harga yang tidak sesuai dengan pembelian sebenarnya dalam pengadaan alat kesehatan spesialistik Pelayanan Bedah Sentral di staf fungsional RSUD Arifin Achmad.

Dalam pembelian itu, pesanan dan faktur dari CV PMR disetujui instansi farmasi. Selanjutnya dimasukkan ke bagian verifikasi untuk dievaluasi dan bukti diambil Direktur CV PMR Yuni Efrianti. Selanjutnya dimasukkan ke Bagian Keuangan.

Setelah disetujui pencairan, bagian keuangan memberi cek pembayaran pada Yuni Efrianti. Pencairan dilakukan di Bank BRI, Jalan Arifin Achmad. Setelah itu, Yuni Efrianri melakukan perincian untuk pembayaran tiga dokter setelah dipotong fee 5 persen. Pembayaran dilakukan kepada dokter dengan dititipkan melalui staf SMF Bedah.

Tindakan terdakwa melanggar peraturan pemerintah tentang pengelolaan keuangan daerah. CV PMR diketahui bukan menjual atau distributor alat kesehatan spesialistik yang digunakan ketiga dokter.

Kenyataannya, alat tersebut dibeli langsung dokter bersangkutan ke distributor masing-masing. Alat kesehatan juga tidak pernah diserahkan CV PMR kepada panitia penerima barang dan bagian penyimpanan barang di RSUD Arifin Achmad. Hal itu sebagaimana ketentuan dalam prosedur tetap pengadaan dan pembayaran obat, gas medis, dan alat kesehatan pakai habis BLUD Arifin Achmad.

Selama medio 2013 dan 2013, Direktur CV PMR dibantu stafnya Muklis telah menerbitkan 189 faktur alat kesehatan spesialistik. Harga alat kesehatan yang tercantum dalam faktur berbeda-beda dengan pembelian yang dilakukan terdakwa dr Welly Zulfikar, dr Kuswan Ambar Pamungkas, dan drg Masrial.

Dari hasil audit, kerugian keuangan negara ditemukan sebesar Rp 420.205.222. Jumlah itu diterima CV PMR dan tiga dokter dengan jumlah berbeda. CV PMR sebesar Rp66.709.841. Sementara selisih harga alat kesehatan (mark up) harga yang diterima ketiga dokter adalah dr Welli Zulfikar sebesar Rp213.181.975, dr Kuswan Ambar Pamungkas Rp8.596.076 dan dr Masrizal Rp131.717.303.

Akibat perbuatan itu, para terdakwa dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3, jo Pasal 18 ayat (1) b Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke~1 KUHP jo Pasal 64 KUHP.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Virda Elisya

Copy Editor :

3 Dokter RSUD Arifin Achmad Keluar dari Penjara