JawaPos Radar

Perairan Kepri Jadi Jalur Narkoba, Ini Penyebabnya

26/02/2018, 11:41 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Kapal Narkoba
MENGAWAL: Kapal patroli Bea Cukai BC7005 ketika mengawal kapal Pinui Union yang memuat sabu seberat 1,622 ton di Pelabuhan Logistik Sekupang, Batam. (Bobi Bani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Penyelundupan narkoba jenis sabu dalam jumlah besar marak di perairan Kepulauan Riau (Kepri) pada awal 2018. Beragam tanya menyeruak mencari alasan logis mengapa Kepri bisa menjadi jalur utama masuknya narkoba.

Kepala Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kepri Rusman Hadi mengatakan, bentang laut kepri yang termasuk dalam jalinan pantai Timur memang sangat terbuka menjadi jalur masuk narkoba. Berada di antara Laut Aceh hingga Kalimantan Barat, perairan Kepri seolah menjadi pintu masuk dengan pulau-pulau kecilnya.

Pengawasan di pulau-pulau tersebut terbilang tidak mudah ini. Kondisi itulah yang dimanfaatkan betul sindikat jaringan narkoba untuk menyelundupkan barang. Setidaknya untuk beberapa kasus tangkapan beberapa waktu terakhir.

Beberapa kawasan di Kepri juga berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Itu menjadi perhatian utama karena sebagai jalur klasik peredaran sabu melalui Tiongkok turun ke Taiwan, Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Samudera Hindia.

Perairan Selat Philips yang menjadi perbatasan antara Singapura dan Batam, Selat Durian di Kabupaten Karimun menuju Malaysia, dan Laut China Selatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Natuna, menjadi kawasan yang pengawasannya perlu benar-benar ditingkatkan. "Dari kawasan perbatasan inilah mereka lewat ke perairan kami," kata Rusman ketika dihubungi, Senin (26/2).

Dengan kenyataan yang terjadi, peningkatan kekuatan armada menjadi keniscayaan. Demikian juga dengan pengayaan informasi intelijen yang harus terus dipertajam. Terutama terkait bagaimana kerawanan kawasan tertentu dijadikan jalur masuk narkoba. "Itu harus kami tingkatkan. Tentu informasinya untuk internal kami dalam mengawal daerah," tambahnya.

Dari enam kabupaten dan dua kota di Kepri, Kota Batam dan Kabupaten Karimun menjadi dua pulau dengan kasus narkoba tertinggi. Data dari Polresta Barelang, ada 129 kasus sepanjang 2017. Di tahun sebelumnya ada 226 kasus.

Lalu di Kabupaten Karimun ada 74 kasus narkoba pada 2017. Jumlah itu terpaut jauh dibandingkan dengan Kota Tanjungpinang yang hanya memiliki 55 kasus narkoba sepanjang 2017. Demikian juga dengan kabupaten lainnya yang berada jauh dengan Kabupaten Karimun dan Kota Batam perihal kasus narkoba.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Batam Kolonel Laut (E) Iwan Setiawan menjelaskan, karakter geografis Batam memiliki keunikan sendiri dibanding daerah lain di Kepri. Bentuk Pulau Batam yang cenderung bundar dengan pulau-pulau kecil mengelilinginya, membuat sebaran jalur narkoba terlihat menyeluruh.

Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri mengatakan ada 28 titik rawan sebagai jalur masuknya narkoba di Batam. Namun, Iwan menyampaikan bahwa hitungan terkait jalur tersebut sangat dinamis. Tidak bisa menetapkan titik-titik tertentu sebagai jalur utama masuknya narkoba. Karena pergerakan para pengedar juga terus berubah-ubah.

"Bisa saja jumlahnya segitu. Tapi di lapangan, kami tidak bisa memastikan di mana. Karena Batam ini dikelilingi laut. Sehingga banyak jalur yang bisa saja digunakan," tutur Iwan kepada JawaPos.com.

Peningkatan pengawasan menjadi keniscayaan untuk mencegah masuknya narkoba. Memperbanyak intensitas patroli di perbatasan, membaca dan menandai cara para kurir dalam menjalankan aksinya dan menyaring informasi dari berbagai sumber, adalah beberapa hal yang cukup logis untuk dijalankan.

Ciri utama kejahatan narkoba dengan memutus jaringan, membuat penegak hukum menjadi kesulitan. Namun hal itu tidak menghentikan upaya membongkar jaringan yang ada. "Banyak cara untuk membongkar ini (jaringan narkoba). Tim kami mengumpulkan informasi lain, dari sudut pandang lain. Tentu dengan cara kerja intelijen," tukas Iwan.

Out Port Limit (OPL) antara Batam, Malaysia, dan Singapura juga menjadi tantangan serius. Berulang kali kejadian pengejaran terhadap kapal asing yang berakhir pada penghentian operasi karena mereka berada di luar teritorial Indonesia. OPL malah menjadi tempat berlindung para penjahat.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up