alexametrics
Sisa-sisa Dampak Gempa Lombok

Santri Ponpes Al-Aiziziyah Masih Tidur dan Belajar di Bawah Tenda

25 Oktober 2018, 10:19:20 WIB

JawaPos.com – Selasa (23/10) siang, rombongan relawan Batam Peduli Lombok tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Aiziziyah Gunung Sari, Lombok Barat. Rombongan disambut Ustad Fawaz dan pengurus ponpes lainya. Kepada rombongan dari Batam, Ustad Fawaz lantas menjelaskan soal kerusakan bangunan pondok yang digoyang gempa pada Juli lalu.

Bangunan ponpes bercat hijau yang terdiri dari asrama dan kelas berlantai empat itu hanya menyisakan kayu pada atapnya. Sementara sebagian dinding sudah roboh. Di tengah lapangan berderet terpal-terpal yang dijadikan tenda sebagai tempat berlindung santri selama gempa melanda Pulau Lombok.

Ponpes Al-Aziziyah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Santrinya mencapai 3.500 orang. Mereka berasal dari Lombok dan luar daerah. Ponpes ini merupakan salah satu pencetak hafiz dan hafizah di pulau seribu masjid.

Gempa Lombok
LAZ Batam menyalurkan bantuan kepada Ponpes Al-Aiziziyah. (Istimewa)

“Bapak-bapak bisa lihat anak-anak kami tidur dan beraktivitas di bawah tenda sejak gempa. Anak-anak hanya bisa bertahan sampai jam 11 siang belajar di bawah tenda. Setelah itu, Masya Allah panasnya luar biasa. Sehingga anak-anak dipindahkan ke masjid yang alhamdulillah tidak roboh,” jelas Fawaz dalam ketetangan yang diterima JawaPos.com di Batam, Kamis (25/10).

Saat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang, seorang santri menjadi korban. Santri tersebut sedang sakit. Karena semua panik, santri tersebut terlambat keluar dan tertimpa dinding.

“Tapi itu sudah takdir Allah. Seperti inilah kondisi kami sekarang. Walau secara konstruksi masih bisa digunakan, tapi dinding dan atap semua hancur dan harus kami mulai dari awal,” ujar Fawaz.

Setelah gempa, sebagian santri harus dipulangkan ke orang tua masing-masing. Namun hikmah di balik bencana kemudian ditunjukan Yang Maha Kuasa. Orang tua santri dan donatur dari luar daerah membantu ponpes untuk bangkit dan terus mencetak generasi penghafal Alquran.

Fawaz menyampaikan, bantuan dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam juga sangat disyukuri dan disambut baik. Empat unit ruang sementara yang dibangun dirasa manfaatnya. Bahkan sebelum diresmikan, ruang tersebut sudah digunakan untuk asrama santri dan tempat belajar.

Mewakili pengurus dan santri Ponpes Al-Aziziyah, Fawaz mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Batam. Bantuan yang disalurkan diharapkan menjadi amal jariah bagi masyarakat Batam.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam Usman Ahmad mewakili rombongan menyampaikan duka mendalam atas musibah gempa yang menimpa Lombok. Namun saat melihat semangat santri yang istiqomah menjaga ayat-ayat Alquran, memberikan inspirasi dan semangat bagi rombongan dari Batam.

Ia berpesan kepada pengurus dan seluruh santri agar tetap semangat dan bangkit. Sebab masih ada saudara-saudara umat muslim yang akan membantu hingga pulih kembali. “Kami terharu melihat semangat anak-anak kami menghafal Alquran dengan situasi yang sulit,” ucap Usman.

Pembangunan empat sekolah sementara di Ponpes Al-Aziziyah tidak lepas dari peran relawan LAZ Masjid Agung Batam. LAZ Batam sejak pertama gempa langsung menurunkan tim ke Lombok.

Ketua LAZ Batam Ustad Syarifuddin menjelaskan, pihaknya bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggalang dana saat Tabligh Akbar Ustad Abdul Somad dan Habib Syech Abdul Qodir Assegaf. Dana sudah disalurkan ke Lombok Timur dan Lombok Utara dengan membangun tenda darurat, dapur umum, dan obat-obatan.

Sedangkan aksi yang kedua ini dari sumbangan masyarakat Batam melalui masjid, yayasan, dan sekolah di bawah koordinasi Kementerian Agama. Adapun dana yang terkumpul sebanyak Rp 460 juta.

Adapun Rp 200 juta diserahkan melalui Pemkot Batam kepada Pemprov NTB. Sedangkan Rp 260 juta diwujudkan dalam bentuk bangunan. Yaitu, empat ruang kelas di Ponpes Al-Aziziyah, satu musala, dan 10 hunian sementara di Lombok utara.

Penentuan bantuan dalam bentuk bangunan ini setelah survei dari pertama tanggap darurat sampai rekonstruksi. Kebutuhan saat ini tidak berupa makanan. Tetapi rehabilitaai setelah gempa untuk tempat tinggal dan belajar.

Apalagi seperti diketahui, terpal yang digunakan sejak tanggap darurat mulai lapuk dan masyaraat membutuhkan hunian sementara sampai proses rekonstruksi Lombok selesai. “Insya Allah amanah dari masyarakat Batam sudah kami salurkan tepat sasaran,” tutup Syarifuddin.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (bbi/JPC)



Close Ads
Santri Ponpes Al-Aiziziyah Masih Tidur dan Belajar di Bawah Tenda