JawaPos Radar | Iklan Jitu

Datang Ke Parungpanjang, Mobil Ridwan Kamil Terjepit Truk

25 September 2018, 20:50:59 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Datang Ke Parungpanjang, Mobil Ridwan Kamil Terjepit Truk
Ilustrasi jalanan rusak di Parungpanjang (Ilham Safutra/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menanggapi aspirasi warga terkait dampak penambangan di Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Pasalnya aspirasi tersebut disampaikan melalui akun media sosialnya.

Tiga hari mendapati keluhan warga, Kang Emil langsung meninjau jalur yang dilewati truk penambangan batu dan pasir. Setelah itu Kang Emil bersama rombongan berdialog bersama warga perwakilan dari Parungpanjang, Rumpin, Gunung Sindur, Cigudeg, dan daerah lainnya yang terkena dampak buruk penambangan itu.

"Tadi saya sengaja mencoba jalur itu, mobil saya sampai terjepit di antara truk-truk besar dan enggak bisa maju," kata Kang Emil di Kabupaten Bogor, Selasa (25/9).

Datang Ke Parungpanjang, Mobil Ridwan Kamil Terjepit Truk
Ilustrasi jalanan rusak di Parungpanjang (Ilham Safutra/ JawaPos.com)

Dalam dialog, Kang Emil menuturkan sudah memetakan semua permasalahannya. Kebijakan prioritas yang akan dilakukannya dalam waktu tujuh hari ke depan adalah memanggil seluruh pimpinan perusahaan tambang ke Gedung Sate. Maka akan dibahas mengenai keseimbangan solusi termasuk jam operasional truk.

"Saya sudah cermati ada lima problem yang saya catat. Saya tidak bisa ambil keputusan langsung hari ini, tapi akan dibawa dulu ke Gedung Sate. Untuk pertama akan saya panggil dulu semua pengusaha tambang ke Bandung," tuturnya.

Mantan Wali Kota Bandung itu akan meregistrasi ulang perizinan tambang untuk semua perusahaan tambang di wilayah tersebut. Pada registrasi, akan ditambahkan pasal-pasal yang lebih adil bagi semua pihak.

"Kami akan muat pasal-pasal yang lebih adil terkait dampak lingkungan, harus punya parkir yang luas agar tidak memakan jalan, terkait truk harus keadaan bersih sebelum beroperasi," ujarnya.

Kang Emil berkomitmen akan mewujudkan jalur khusus tambang sesuai aspirasi warga. Jalur tambang ini akan langsung menuju Tangerang tanpa melintasi permukiman warga.

"Ya kita akan prioritaskan jalan tambang langsung menuju Tangerang," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sudah hampir dua pekan Ridwan Kamil menjabat sebagai gubernur di Jawa Barat (Jabar). Hadirnya mantan Wali Kota Bandung di provinsi bagian barat Jawa itu menjadi harapan besar bagi warga perbatasan. Terutama mereka yang berbatasan dengan ibu kota Jakarta atau yang menjadi bagian dari Jabodetabek.

Salah satunya harapan dari warga Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Kecamatan ini bersebelahan langsung dengan Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Tapi nasib warga di sana sangat miris dan jauh dibandingkan Kota Bandung ataupun Kota Bogor.

"Kalau Kota Bogor disebut kota hujan, di sini kota debu," ungkap Suhanda, 38, salah seorang warga Parungpanjang kepada JawaPos.com, Sabtu (22/9).

Pernyataan Suhanda itu merupakan ungkapan keluh kesah warga setempat yang tidak tahan dengan kondisi daerah yang penuh dengan kepulan debu. Sebab di sebuah jalan raya yang melintang di Parungpanjang ini dilintasi setiap hari oleh ribuan truk pengangkut material tambang galian C. Berupa tanah, batu kali, pasir, dan sejenisnya.

Jalan yang melintang itu menghubungi dua kabupaten dan dua provinsi. Di jalan tersebut ribuan truk melintas setiap harinya dari arah Kecamatan Jasinga dan melintas ke arah Parungpanjang hingga ke Kecematan Legok, Kabupaten Tangerang.

Jika dari arah Legok jalan tersebut bernama Jalan Raya Parungpanjang. Namun setelah di wilayah Parungpanjang, namanya menjadi Jalan M Toha dan Jalan Sudamanik. Di sepanjang jalan itu terdapat depo atau pangkalan persingahan truk pemuatan pasir atau batu galian C.

Semua truk itu memuat material dan melintas di Jalan Raya Parungpanjang, kendaraan itu mencemarkan jalan. Di sepanjang jalan, debu-debu hinggap ke hidung orang. Saking banyak truk melintas setiap hari, rumah-rumah di pinggir jalan itu dindingnya sangat berdebu tebal. Bahkan kantor pelayanan publik di sana, seperti markas polsek, markas koramil, puskesmas, dan kantor camat tidak indah lagi dipandang. Lebih tebal debu daripada warna catnya.

Pada Jumat (21/9) malam, warga Parungpanjang bergejolak. Mereka nyaris berbuat anarkistis. Hal itu dipicu adanya sebuah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia secara mengenaskan. Korban yang merupakan warga Perumnas 2 Parungpanjang itu diketahui mengendarai sepeda motor. Dia terlintas truk pengangkut material tambang galian yang tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya.

Atas kejadian itu warga setempat pun sempat memblokade jalan dan melakukan sweeping setiap truk yang melintas. Saking emosinya warga, anggota polisi dari Polsek Parungpanjang pun harus turun dan mengamankan warga.

Kata Suhanda, kecelakaan itu bukanlah yang pertama. Melainkan sudah kesekian kalinya. Bahkan tiga minggu terakhir sudah ada delapan orang kehilangan nyawa akibat melintas di Jalan Raya Parungpanjang. "Enam korban terjadi di Malang Nengah (Tangerang), dua di Parungpanjang," sebut ayah satu anak itu.

Semua kecelakaan itu rata-rata akibat bersenggolan dan tertabrak truk pengangkut material galian tambang. Kecelakaan yang sering berujung dengan maut itu, akibat dari truk pengangkut material galian membawa muatan di atas kapasitasnya. Bak truk tidak pernah ditutup sehingga pasirnya mudah jatuh dan bertebaran menjadi sumber polusi udara.

Selain itu pengemudi truk pengangkut tambang itu kerap sopir tembak. Wigianto, 40, warga Parungpanjang lainnya menyebut banyak masyarakat melihat sopir truk pengangkut tambang itu berusia muda. Mereka mengemudi sangat emosional dan tidak sabaran.

Buktinya, ketika berpapasan dengan kendaraan lebih kecil terutama sepeda motor, truk itu tidak pernah mengalah. "Malah truk ini semakin ngebut. Padahal lebar jalan sangat sempit. Hal itu membuat pengendara sepeda motor mudah kaget dan hilang kendali," terang Wigiyanto.

Dia menuturkan, hampir tidak pernah warga mendapatkan udara bersih. Sebab truk yang melintas hampir tidak ada hentinya. Terutama di siang hingga malam hari. 

"Kalau pagi dari pukul enam sampai sembilan, intensitas truk melintas memang rendah. Setelah itu truk akan melintas tiada henti," beber pria yang biasa disapa Wigi itu.

(ce1/ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up