JawaPos Radar

Saung Mewah di Lapas Sukamiskin Dibongkar

25/07/2018, 10:11 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Lapas Sukamiskin
Mobil pickup mengangkut material saung mewah di Lapas Sukamiskin, Selasa (24/7) malam. (Siti Fatonah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Saung mewah di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat (Jabar), sudah tidak ada lagi. Petugas Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham) membongkarnya pada Selasa (24/7) malam. Sebelumnya, saung tersebut kerap dimanfaatkan para narapidana untuk menerima keluarga maupun tamu lainnya.

Pembongkaran saung dilakukan puluhan petugas. Mereka mulai bekerja pukul 17.00 WIB hingga dini hari. Beberapa mobil pickup keluar-masuk Lapas Sukamiskin untuk mengangkut saung mewah yang sudah dibongkar. Selanjutnya, material tersebut dibawa ke rumah barang sitaan (Rumbasan) yang tak jauh dari Lapas Sukamiskin.

Saung mewah itu ukurannya bervariasi. Mulai dari 3x4 meter hingga 3x5 meter. Jumlah saung sekitar 32 unit. Lahan bekas saung akan dibangun fasilitas baru yang bisa digunakan untuk semua warga binaan Lapas Sukamiskin.

Pelaksana tugas (Plt) Kakanwil Kemenkumham Jabar Dodot Adi Kuswanto mengaku tidak tahu sejak kapan saung didirikan. Termasuk saung diperjualbelikan atau disewakan, pihaknya belum begitu mengetahuinya. Pasalnya, Dodot baru saja ditunjuk Menkumham untuk menggantikan Kakanwil Jabar yang dicopot.

"Kebetulan saya Plt baru satu hari ini. Jadi informasi itu dapat dari media terkait dengan pemanfaatan (saung) diperjualbelikan atau disewakan. Yang jelas, perintah pimpinan saung tersebut harus dibongkar," kata Dodot di Lapas Sukamiskin, Bandung, Rabu (25/7) dini hari.

Saat proses pembongkaran, tidak ada protes dari pemilik atau warga binaan. Semua menerimanya sehinga proses pembongkaran berjalan dengan lancar.

Ketika disinggung tarif pemakaian saung mewah, Dodot mengakui tidak mengatahuinya. "Saya tidak tahu apa itu diperjualbelikan atau disewakan. Tapi yang jelas ukuran yang di dalam itu berbeda-beda. Karena yang bikinnya masing-masing juga," ujarnya.

Yang jelas, tidak semua warga binaan bisa memanfaatkan saung tersebut. Sehingga saung mewah yang terbuat dari bambu dan ijuk itu harus dibongkar.

"Itu yang jadi permasalahan. Saung itu karena tidak bisa dimanfaatkan semua, sehingga ada terindikasi bahwa dimanfaatkan orang-orang tertentu. Maka saung harus dibongkar," tegas Dodot.

(ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up