JawaPos Radar

Listrik dari Limbah Tetes Tebu

25/07/2018, 10:43 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Energi Alternatif
Tri Wahyuning Eka Purnama Sari (kiri) dan Martiana Nugraeny meneliti limbah tetes tebu untuk diolah menjadi energi terbarukan. (Dok. Humas ITS for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Keberadaan minyak bumi sebagai sumber energi semakin menipis. Hal tersebut mendorong banyak pihak untuk mencari energi alternatif. Salah satunya adalah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang berinovasi mengolah limbah tetes tebu (molases) menjadi energi alternatif terbarukan.

Kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan, cadangan minyak bumi tanpa adanya eksploitasi baru hanya mampu bertahan selama 21 tahun mendatang. Artinya, dibutuhkan inovasi energi alternatif terbaru untuk dapat mengatasi masalah keterbatasan minyak bumi.

Atas dasar inilah, tiga mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS Martiana Nugraeny, Tri Wahyuning Eka Purnama Sari, dan Chandra Adiwijaya membuat energi baru terbarukan. Merka memanfaatkan limbah molases dan limbah logam berat. Limbah molases diolah dengan reaktor dual chamber Microbial Fuel Cells (MFCs) sistem resirkulasi kontinyu agar dapat menghasilkan energi.

Tri Wahyuning Eka Purnama Sari menjelaskan, pemanfaatan limbah molases di Indonesia masih sangat kurang. Padahal tiap hektare lahan tebu mampu menghasilkan molases sebanyak 10–15 ton. Limbah yang berasal dari olahan tebu ini memiliki kandungan selulosa tinggi. "Selulosa ini merupakan sumber biomassa terbarukan," jelasnya.

Mahasiswi asal Bojonegoro itu juga menerangkan bahaya limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) seperti krom. Logam berat krom sering dijumpai di lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di industri. "Krom merupakan limbah B3 dengan daya racun tinggi yang dapat membahayakan kesehatan manusia," terang Tri.

Melihat kedua masalah tersebut, Tri dan kawan-kawannya menawarkan sebuah inovasi ide MFCs sistem resirkulasi kontinyu sebagai solusi. "MFCs merupakan fuel cell berbasis biologi yang mengubah energi kimia menjadi energi listrik dengan bantuan reaksi katalitik mikroorganisme," paparnya.

Teknologi yang digunakan memanfaatkan limbah molases dan limbah logam berat sebagai sumber energi alternatif. MFCs sendiri terdiri dari dua tabung pengembang (chamber). Yaitu, anoda dan katoda. Dalam chamber anoda, diisi dengan limbah molases dan bakteri. Sedangkan pada chamber katoda diisi dengan limbah logam berat Cr6+.

Metabolisme yang terjadi pada chamber anoda akan menghasilkan listrik. "Selain menghasilkan listrik, MFCs juga dapat mereduksi limbah logam Cr (VI) pada limbah molases," lanjut Tri.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up