JawaPos Radar

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Tinggi Semburan Abunya Seribu Meter

25/06/2018, 19:55 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Tinggi Semburan Abunya Seribu Meter
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda (BNPB)
Share this

JawaPos.com - Indonsia memiliki banyak gunung api yang aktif. Di tengah kondisi yang aktif itu di suatu waktu gunung tersebut bisa memiliki aktivitas tinggi dan erupsi. Terbaru Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda. Untuk kesekian kalinya gunung tersebut erupsi.

PVMBG melaporkan, pada Senin (25/6), Gunung Anak Krakatau erupsi dengan tinggi kolom abu 1.000 meter dari atas puncaknya. Sementara ketinggian gunung itu 1.305 meter di atas permukaan laut. Erupsi itu melontarkan abu vulkanik dan pasir.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut, erupsi Gunung Anak Krakatau itu tidak membahayakan penerbangan pesawat terbang. Volcano Observatory Notice For Aviation (VONA) orange. "Erupsi tidak berbahaya selama berada di luar radius 1 km dari puncak kawah. Selain itu erupsi juga tidak membahayakan pelayaran di Selat Sunda," ungkap Sutopo dalam keterangan persnya, Senin (25/6).

Diketahui saat ini status Gunung Anak Krakatau masih Waspada atau Level 2. Status Waspada itu ditetapkan sejak 26 Januari 2012 silam hingga sekarang. Sejak penetapan itu tidak ada perubahan status Gunung Anak Krakatau.

Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km.

Lebih jauh Sutopo menuturkan, erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung itu masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut pada 1927. Setiap tahunnya gunung itu mengalami penambahan tinggi rata-rata sekitar 4-6 meter.

"Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883," imbuh Sutopo.

Memang, sejak 18 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma keluar permukaan sehingga terjadi erupsi. Menurut data PVMBG, pada (18/6) selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm).

Pada Selasa (19/6) gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Rabu (20/6) terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. 

Selanjutnya Kamis (21/6) terekam lagi 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam. "Secara visual terlihat erupsi mengeluarkan abu dan pasir. Tipe letusannya strombolian yang terjadi erupsi secara berkala pada saat itu," terangnya.

Sutopo mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi.

"Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dari puncak kawah. Di luar itu aman. Justru dapat menikmati fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau dari tempat aman," tandasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up