JawaPos Radar

Belajar dari Kasus Sebelumnya, TNI AL Bakal Petakan Danau Toba

25/06/2018, 16:52 WIB | Editor: Ilham Safutra
Belajar dari Kasus Sebelumnya, TNI AL Bakal Petakan Danau Toba
Penyelam dari TNI AL tengah mencari korban dan bangkai KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba. (Triadi Wibowo/Sumut Pos/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun bukanlah yang pertama di Danau Toba. Sebelumnya pada Oktober 2015 juga ada helikopter yang jatuh. Ketika itu tim SAR pun kesulitan untuk mengevakuasi. Belajar dari kasus itu, Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-AL (Pushidrosal) akan mencoba untuk memetakan kondisi danau terbesar di Indonesia tersebut.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-AL (Kapushidrosal) Laksamana Muda Harjo Susmoro menyatakan, insiden KM Sinar Bangun menjadi pelajaran bagi instansinya.

Ke depan, pemetaan Danau Toba seperti yang sudah mereka lakukan di wilayah laut Indonesia harus segera dilaksanakan. "Kami akan petakan kontur, kedalamannya (Danau Toba, Red)," katanya kemarin.

Belajar dari Kasus Sebelumnya, TNI AL Bakal Petakan Danau Toba
Kapal Basarnas tengah bersandar usai melakukan pencarian korban KM Sinar Bangun. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Selama ini, Pushidrosal memang lebih berfokus memetakan laut. Padahal, menurut Harjo, perairan danau yang luas juga penting untuk dipetakan. Setidaknya terjadi 12 kecelakaan di Danau Toba. Termasuk insiden helikopter jatuh di Danau Toba pada Oktober 2015. Tim penyelamat sulit menemukan helikopter dan kru karena petunjuk yang minim tentang danau itu.

Karena itu, apabila operasi pencarian korban hilang dan bangkai KM Sinar Bangun sudah selesai, Pushidrosal masih akan mempertahankan personel dan peralatan di Danau Toba. "Sehingga kami akan tahu posisi riil (Danau Toba, Red)," papar Harjo.

Untuk memetakan salah satu danau terluas di Asia Tenggara itu, Harjo memperkirakan timnya butuh waktu dua sampai tiga bulan. Namun, semua bergantung alat, situasi, dan kondisi di lapangan.

"Memang untuk memetakan itu harus dihitung secara cermat," ujarnya. Meski fokus pekerjaan mereka saat ini memetakan laut, pemetaan Danau Toba juga bakal menjadi prioritas.

Saking luasnya Danau Toba, hampir 1.200 km persegi, ombak di sana mirip laut. Saat KM Sinar Bangun tenggelam pada 18 Juni lalu, cuaca sedang buruk karena sirkulasi siklon yang terbentuk di pantai barat Sumatera. Kondisi itu mengakibatkan ketinggian gelombang di sana mencapai 2 meter.

Sementara itu, peneliti di Pusat Penelitian Limnologi LIPI Arianto Budi Santoso membenarkan bahwa penelitian tentang kondisi Danau Toba masih minim. Pada 2017, baru dilakukan survei awal tentang suhu hingga kadar oksigen danau tersebut.

"Beberapa meter dari bibir pantai itu mungkin kedalamannya sudah 20 meter lebih. Agak jauh sedikit sudah 100 meteran lebih, bahkan 200-400 meter, memang dalam sekali," ulas Arianto kemarin (24/6).

Doktor alumnus The University of Waikato, Selandia Baru, itu mengungkapkan, pada kedalaman 10 hingga 12 meter, danau masih dapat ditembus cahaya matahari. Nilai tersebut adalah hasil pengukuran alat yang dia pakai. "Hanya 1 persen cahaya matahari di permukaan yang dapat menembus kedalaman tersebut," ujar dia.

Suhu air danau itu 23 hingga 24 derajat Celsius. Sedangkan suhu di permukaan sekitar 25 derajat Celsius. Menurut dia, kondisi cuaca tersebut umum ditemui pada danau-danau di Indonesia atau wilayah tropis.

Hidrogeolog ITB Lambok Hutasoit menuturkan, saat ini belum ada pemetaan yang benar-benar detail tentang kondisi Danau Toba. Mulai arus laut hingga kondisi angin di sekitar danau.

"Belum rinci diteliti, diselidiki itu. Kemudian, arusnya harusnya diketahui ke mana-mana. Belum banyak diselidiki, anginnya gimana, meteorologi bagaimana di sana," ujar dia. 

(jun/syn/tau/c11/ang)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up