alexametrics

MRT Beroperasi, Kawasan Blok M Hidup Kembali

25 Mei 2019, 15:03:36 WIB

JawaPos.com – Pusat perbelanjaan Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (25/5), nampak semakin ramai. Massa kejayaan di era 80-90an nampak mulai kembali. Tongkrongan anak muda zaman dulu ini perlahan menggeliat bangun dari tidur panjangnya.

Dengan ditopangnya banyaknya transportasi umum seperti bus kota Transjakarta membuat akses ke lokasi ini semakin mudah. Terbaru bahkan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta turut menjadi alternatif baru bagi masyarakat.

JawaPos.com sempat menengok langsung kawasan mall Blok M. Saat memasuki gerbang bagian barat atau yang terhubung langsung dengan MRT memang terlihat cukup lengang. Namun, setelah masuk ke dalam mall kerumunan orang mulai nampak.

Keramaian mulai nampak di lantai UG tempat pelapak barang seperti sepatu perhiasan perhiasan. Di situ sudah banyak muda-mudi bahkan orang tua yang terlihat lalu lalang mencari barang untuk dibeli.

Kawasan Blok M kembali bergairah usai MRT beroperasi di Jakarta. (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)

Di lantai 1, pengunjung banyak menyerbu pedagang pakaian. Sedangkan di laintai 2 terlihat outlet jam tangan banyak dikerumunin oleh anak-anak muda. Selain itu supermarket juga nampak banyak gandrungi masyarakat.

Ratna Astuti, 36, merasa senang Blok M sudah ramai kembali. Dia mengingat ketika masih menjadi siswa SMA dia kerap menghabiskan waktu bersama temannya di sini, untuk sekedar makan-makan atau nonton.

Menurutnya, kehadiran MRT cukup membantu untuk akses menuju Blok M. Seperti perjalannya dari daerah Fatmawati bisa lebih cepat menggunakan MRT dibanding harus menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi.

“Lumayan sih jadi lebih cepat. Terus stasiunnya juga langsung di depan mall nya,” kata Ratna.

MRT Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Ade Fuadi juga mengatakan hal serupa. Meskipun dirinya datang ke blok M tidak menggunakan MRT, tapi menurutnya, akses ke Blok M semakin banyak pilihan. “Udah enak sekarang, ada Transjakarta, ditambah MRT,” ucapnya.

Andri salah satu penjual pakaian di mall Blok M merasakan ada perubahan pendapatan hari demi hari. Namun, dia tidak bisa menyimpulkan apakah itu juga efek dari beroperasinya MRT. “Sekarang-sekarang lumayan sih kalau pendapatan,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna menilai MRT sudah mulai berdampak pada perokonomian di sekitar Blok M. Meski begitu menurutnya, belum terlalu signifikan.

“Di Blok M itu ada untuk menumbuhkan pusat perbelanjaan yang tadinya mati, menjadi agak hidup,” ujar Yayat saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (25/5).

Kawasan Blok M kembali bergairah usai MRT beroperasi di Jakarta. (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)

Perekonomian yang meningkat seperti kuliner, maupun sekedar untuk temlat nongkrong. Namun, dalam aspek bisnis properti seperti pengembangan apartemen dan sejenisnya dianggap belum memiliki dampak.

Oleh sebab itu, Yayat mendorong PT MRT segera membuat kerjasama konkrit dengan para pengusaha. Adanya branding nama stasiun MRT seperti Istora Mandiri, maupun Setiabudi Astra tidak cukup untuk memaksimalkan integrated building di sekitaran stasiun MRT.

“Kalau bisa jika ada aset pemprov ya dikerjasamakan saja kan ada PT Jakpro. Kalau enggak ya susah emang,” imbuhnya.

MRT Jakarta terintegrasi mal di Blok M. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Di sisi lain, Yayat menilai langkah konkrit pertama yang harus dilakukan oleh PT MRT adalah membuat payung hukum supaya mereka memiliki otoritas dalam menjalin kerjasama dengan para pengusaha. Adanya payung hukum ini juga penting demi memberikan kepastian bagi para pelaku usaha.

“Sebagai contoh antara stasiun Dukuh Atas kan itu ada railling ada MRT, ada Kereta Api, ada BNI City Hallnya ada Shangrila, kenapa nggak dibuatkan jembatan antara hotel dengan stasiun kereta api dikaitkan dengan MRT. Kalau tidak ada kerjasama egonya di masing-masing,” pungkas Yayat.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan