alexametrics

Penantian Puluhan Tahun, Akhirnya Jakarta Punya MRT (1)

25 Maret 2019, 13:18:55 WIB

JawaPos.com – Keberadaan MRT Jakarta digadang-gadang menjadi salah satu angin segar bagi warga ibu kota. Hal itu bukan tanpa alasan. Embel-embel sebagai kota yang macet seolah menjadi trademark yang disematkan masyarakat pada Jakarta.

Jakarta sebenarnya tak sendirian mengalami problem di sektor transportasi dan mobilitas warga. Jika dirunut ke belakang, negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Bangkok sama-sama membangun MRT. Namun, tak seluruhnya didasari pada alasan kemacetan.

Singapura, misalnya. MRT di Singapura dibangun berdasar alasan untuk memperluas mobilitas warga. Lee Kuan Yew yang merupakan perdana menteri Singapura kala itu berpendapat bahwa transportasi yang hanya mengandalkan bus tidak akan mumpuni di negara tersebut. Sebab, jalur jalan di Negeri Singa tersebut terbilang terbatas. Karena itu, sistem transportasi di atas rel dianggap sebagai salah satu solusi yang tepat.

Penantian Puluhan Tahun, Akhirnya Jakarta Punya MRT (1)
Warga saat mencoba MRT Jakarta sebelum resmi dibuka untuk umum pada Minggu (24/3) (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Pada Oktober 1983, Singapura memulai pembangunan konstruksi awal di Jalan Shan. Jaringan MRT dibangun bertahap. Jalur utara–selatan diutamakan karena melewati daerah pusat kota yang sangat memerlukan transportasi publik. Biaya konstruksi awal menelan dana SGD 5 miliar.

Pada 7 November 1987, bagian pertama dari jalur utara–selatan mulai beroperasi yang terdiri atas lima stasiun dengan jarak 6 km. Tak lama berselang, pada Maret 1988, 15 stasiun resmi dibuka. Stasiun pun terus ditambah. MRT Singapura berkembang tahap demi tahap. Kini, ada 154 stasiun MRT di Singapura. Sebanyak 102 di antaranya beroperasi, sedangkan 52 di antaranya dalam perencanaan.

Belum ada kereta yang didiskontinu sejak MRT dimulai dengan rangkaian C151 yang tertua beroperasi pada 1987. Kereta yang sudah tua diperbarui kembali untuk meningkatkan usia pakai sekaligus meningkatkan keamanannya. Pembaruan tersebut meliputi sistem informasi, penambahan titik pegangan, kursi yang lebih lebar, ruang yang lebih besar dekat pintu, ruang untuk kursi roda, dan CCTV.

Sedikit bergeser dari Singapura, negara tetangga lainnya yang memiliki MRT adalah Malaysia. Negeri jiran tersebut mulai mengoperasikan MRT secara penuh pada Juli 2017. MRT Malaysia melintasi 51 stasiun pemberhentian dari Sungai Buloh hingga Kajang. Sebanyak 58 kereta melayani jalur yang melintasi 31 stasiun pemberhentian itu. Proyek yang menelan biaya RM 21 miliar atau Rp 65 triliun tersebut menjadi semacam ikon baru penyemai optimisme warga Malaysia.

Bahkan, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menggambarkan MRT Malaysia sebagai proyek infrastruktur kelas wahid. Namun, apa daya, besarnya antusiasme warga belum diimbangi kepedulian untuk menjaga fasilitas publik.

Namun, seiring waktu berjalan, ada harga yang harus dibayar pemerintah Malaysia. Di antaranya, pengembalian investasi yang tidak jelas dan jumlah penumpang yang diangkut meleset dari target.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menuturkan, sejatinya, MRT Jakarta lebih unggul jika dibandingkan dengan MRT di negara-negara tetangga. Jangankan MRT, layanan KRL di Indonesia pun, sambung dia, lebih baik daripada negara makmur seperti Prancis. ’’Di sana (Prancis), yang namanya pintu itu ada daun pintunya. Kalau nggak ada, itu orang loncat karena nggak bayar. Karena negara-negara penjajahnya, koloninya itu, ya begitu. Kita lebih bagus,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Djoko, MRT atau KRL tak jauh berbeda. Hanya saja, KRL memiliki lintasan sebidang, sedangkan MRT tidak. Adanya lintasan sebidang sebenarnya juga memengaruhi psikologis masinis KRL. ’’Masinisnya nggak deg-degan kalau MRT karena nggak ada lintasan sebidang,’’ imbuhnya.

Djoko menuturkan, di Malaysia, MRT memang tidak diperuntukkan seperti di Jakarta. Di ibu kota, MRT sekaligus menjadi upaya pendorong agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, sedangkan di Malaysia tidak.

Di Kuala Lumpur, lanjut dia, MRT lebih mengacu pada persiapan jangka panjang. Karakter wilayah di Malaysia lebih didominasi perkebunan sawit. Sementara itu, Jakarta didominasi permukiman penduduk. ’’Lebih ke masa depan mereka. Sepanjang jalur kereta juga, tidak ada rumah tapak, adanya bertingkat semua,’’ tambahnya.

Djoko optimistis kondisi MRT Jakarta tidak sama dengan di Malaysia. Menurut dia, kehadiran Ratangga telah lama dinanti warga. Terutama yang gemar menaiki kendaraan pribadi, yakni roda empat. Hal itu, didasari pada pertimbangan efisiensi pengeluaran. Dia memerinci, jika menggunakan kendaraan roda empat, dalam sebulan, rata-rata masyarakat bisa mengeluarkan Rp 6 juta–Rp 7 juta untuk ongkos BBM. Sementara itu, dengan tarif MRT Jakarta di kisaran Rp 8.500–Rp 10.000 per 10 km, hal itu jauh lebih terjangkau.

Dengan kondisi MRT Jakarta yang mumpuni secara sarana dan prasarana, dia optimistis masyarakat tak akan berpikir dua kali untuk naik MRT secara bertahap. ’’KRL Jabodetabek itu orang yang punya mobil yang beralih baru 10 persen. Kalau MRT Jakarta bisa mengalihkan dari mobil, sekitar 50 persen saja, itu sudah luar biasa,’’ jelasnya.

Dia menambahkan, karakteristik masyarakat di Indonesia, Singapura, dan Malaysia memiliki perbedaan. Indonesia, lanjut dia, lebih bisa disamakan dengan di Bangkok. Hanya saja, yang patut disoroti adalah perilaku masyarakat yang harus lebih meningkatkan kesadaran dalam menaiki transportasi publik. ’’Nggak boleh kerubutan seperti Tanah Abang, ya. Harus antre, sesuai jalur,’’ tuturnya.

Djoko melihat, MRT Jakarta hanya berbeda jika dibandingkan dengan Korea Selatan dan Tiongkok. Menurut dia, di Korsel, gate selalu terbuka. Hal itu didasari pada teknis operasional dan fungsi ketertiban keluar dan masuk penumpang.

Sementara itu, di Tiongkok, ada X-ray yang diletakkan di setiap gate. Menurut dia, Jakarta harus menempatkan X-ray seperti Tiongkok. Hal itu didasari pada prinsip keamanan. Sebab, isu terorisme tak bisa dikesampingkan begitu saja. ’’Bukan menakuti, tapi sebaiknya ada X-ray untuk keamanan. Kita ingatkan dari sekarang,’’ jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Dinda Juwita

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Penantian Puluhan Tahun, Akhirnya Jakarta Punya MRT (1)