alexametrics

MRT Diperkirakan Peroleh Rp 100 Miliar di Luar Pendapatan Tarif (3)

25 Maret 2019, 13:38:33 WIB

JawaPos.com – Sebagai badan usaha milik daerah (BUMD) DKI, PT MRT Jakarta tak hanya dituntut untuk melayani masyarakat dengan optimal, tetapi juga menjadi perusahaan yang sehat. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan agar bisa memperoleh keuntungan.

Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, agar menjadi perusahaan yang mandiri, MRT Jakarta harus memiliki ridership yang tinggi untuk menutupi biaya pengeluaran. Sehingga, pihaknya terus melakukan integrasi dengan angkutan umum lainnya.

’’Sekarang kami lakukan upaya integrasi dengan mode lain supaya ridership tinggi,’’ ujarnya kemarin (24/3).

MRT Diperkirakan Peroleh Rp 100 Miliar di Luar Pendapatan Tarif (3)
Kereta MRT diresmikan untuk umum pada Minggu (24/3). Setelah ini, jalur MRT akan dikembangkan 231 kilometer (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Jika hanya mengandalkan penjualan tiket, MRT Jakarta akan mendapat pemasukan sekitar Rp 180 miliar hingga akhir tahun ini. Hal tersebut didapat jika tarif yang disetujui pemprov dan DPRD DKI Rp 10 ribu dikalikan proyeksi 65 ribu penumpang per hari.

Selain itu, PT MRT Jakarta mengincar pendapatan di luar pemasukan tiket (non-fare box revenue). Misalnya, iklan, ritel, hingga naming rights di stasiun-stasiun MRT. Naming right sudah dipasang di beberapa stasiun MRT, yakni Stasiun Dukuh Atas, Stasiun Setiabudi, Stasiun Istora, dan Stasiun Sisingamangaraja.

’’Masing-masing stasiun akan berubah nama. Stasiun Dukuh Atas menjadi Stasiun BNI, Stasiun Setiabudi dinamai Astra, Stasiun Istora berubah menjadi Mandiri, dan Stasiun Sisingamangaraja dinamai stasiun ASEAN,’’ terangnya.

Pihaknya juga akan mengembangkan kawasan MRT sebagai daerah transit oriented development (TOD). Pendapatan NFB itu diharapkan dapat menutup biaya operasional MRT Jakarta hingga 70 persen.

’’Bisa tertutup seperti yang dilakukan Hongkong sekarang. Hongkong itu sekarang 70 persen revenue-nya dari non-fare box, cuma memang butuh waktu,’’ terangnya.

Pendapatan dari NFB tahun ini diperkirakan Rp 100 miliar. Sementara itu, return on investment atau tingkat pengembalian investasi diperkirakan 22–35 tahun.

’’Tapi, sangat tergantung dengan non-fare box. Kalau non-fare box bagus bisa lebih cepat,’’ ujarnya.

Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana mengatakan, sebagai badan usaha, PT MRT Jakarta tidak boleh merugi. Namun, di sisi lainnya, tarif yang diberlakukan tidak boleh tinggi. Karena itu, pemerintah harus tetap hadir dalam memberikan subsidi.

Pemberian subsidi pun dapat diberikan melalui dua cara. Pertama dengan memukul rata pemberian subsidi kepada seluruh penumpang. Kedua, subsidi hanya diberikan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR).

’’MRT mungkin suatu saat tidak perlu diberi subsidi jika perekonomian masyarakat sudah baik atau subsidi diberikan dengan terbatas,’’ katanya.

Aditya mengungkapkan, di berbagai negara, penghasilan tiket MRT memang hanya dapat menutupi 30–40 persen dari biaya operasi. Sisanya didapat dari NFB. Di negara mana pun, sepengetahuannya, tidak ada pengoperasian MRT yang bebas dari subsidi pemerintah.

’’Di Hongkong tetap disubsidi, di Singapura tetap disubsidi walaupun sangat minim. Jadi, pemerintah tetap subsidi hanya besarannya saja yang berbeda,’’ jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Ryandi Zahdomo

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

MRT Diperkirakan Peroleh Rp 100 Miliar di Luar Pendapatan Tarif (3)