alexametrics
Kecelakaan Kapal Cepat di Sumsel

8 Ribu Pelampung Tak Mampu Bendung Korban Jiwa

25 Maret 2019, 00:05:43 WIB

JawaPos.com – Kecelakaan kapal cepat atau speedboat bukan kali pertama terjadi di Sumsel. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir menyebabkan banyak korban jiwa.

Beberapa upaya pun telah dilakukan untuk menekan korban jiwa. Salah satunya dengan memberikan bantuan pelampung atau lif jacket. Namun, upaya tersebut belum mampu membendung tingginya korban jiwa akibat kecelakaan kapal.

Kabid Pelayaran Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel, Sadirman mengakui sejak beberapa tahun terakhir pihaknya gencar melakukan sosialisasi untuk menekan angka kecelakaan yang terjadi di Sumsel. Salah satunya dengan membagikan pelampung kepada pemilik kapal.

“Sudah lebih dari 8 ribu pelampung dibagikan kepada pemilik kapal di Sumsel ini, salah satunya dibagikan langsung oleh Menteri Perhubungan (Menhub),” katanya saat dihubungi, Minggu (24/3).

Namun, memang kecelakaan kapal terjadi berulang dengan berbagai penyebab. Seperti, terjadinya human error atau kesalahan dari nahkodanya. Jika sang nahkodanya selamat tentunya semua kesalahan menjadi tanggung jawab dari nahkodanya bukan pemilik kapal.

Namun, jika nahkodanya ikut tewas tentu kesulitan siapa yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Seperti pada kejadian kecelakaan speedboat awet muda pada Senin (18/3). Nahkoda dan kernetnya ikut tewas dalam kecelakaan tersebut.

“Human error ini yang sangat sulit mendeteksinya,” terangnya.

Saat ini, ia mengaku belum ada spesifikasi kapal yang aman sebagai angkutan sungai. Meski dalam Pergub dijelaskan spesifikasi kapal tersebut. Hal ini dikarenakan, di dalam Undang-Undang tidak ada yang mengatur spesifikasi tersebut sehingga tidak ada sanksi tegas jika melanggar.

Menurutnya, setiap daerah itu memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan sungainya. Karena itu, sejak Januari lalu Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tengah menggodok kapal yang memiliki spesifikasi yang aman untuk digunakan.

“Saat ini kami masih menunggu hasil nya untuk melihat bagaimana kapal yang aman untuk digunakan tersebut,” ujarnya,

Sembari menunggu, pihaknya akan menggencarkan kembali sosialisasi agar nahkoda lebih berhati-hati dalam mengendarai kapalnya. Karena, tanggungjawab 100 persen dan mutlak di tanggung oleh nahkoda tersebut.

“Nahkoda berhak menghentikan perjalanan jika memang dianggap berbahaya, jadi semua bergantung kepada nahkodanya,” singkatnya.

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : Alwi Alim

Copy Editor :

8 Ribu Pelampung Tak Mampu Bendung Korban Jiwa