alexametrics

Sistem Baru Terkendala Pasien Lansia

25 Februari 2019, 15:35:38 WIB

JawaPos.com – Direktur RSUD dr Soetomo Joni Wahyuhadi menyatakan telah menerapkan aturan bahwa pasien mengantre pada saat instalasi rawat jalan (IRJ) buka. Namun, sebagian pasien menolaknya. Peristiwa antre pagi-pagi sebelum IRJ dibuka pun kerap terjadi. Sebenarnya, pihak rumah sakit telah menyediakan anjungan pendaftaran mandiri (APM).

Di mesin tersebut, pasien IRJ cukup memindai nomor barcode yang tertera di BPJS. Surat rujukan yang sudah didaftarkan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) beserta nomor antrean akan muncul di mesin itu. Adanya mesin tersebut, kata Joni, bisa mengurangi antrean di IRJ saat pengambilan nomor pendaftaran pasien lama. “Sehingga, para pasien tak perlu mengantre panjang,” katanya.

Sayangnya, banyaknya pasien yang sudah berusia lanjut membuat dia maklum bila mesin APM sering tidak digunakan. Orang-orang lebih memilih mengantre dengan menunjukkan surat rujukan dan mendapatkan nomor antrean secara manual.

Sistem Baru Terkendala Pasien Lansia
Pasien dan keluarga pasien menunggu antrean untuk dilayani di RS. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Joni menyadari bahwa para pasien yang berusia lanjut akan mengalami kesusahan untuk mengoperasikan APM. Kondisi itu telah diatasi. Dia menyebut sudah ada petugas RS yang siap membantu pemindaian barcode kartu BPJS.

Dengan adanya APM, tutur Joni, mau tidak mau masyarakat perlu belajar mengoperasikannya. Sebab, dampak positif akan dihasilkan dari upaya tersebut. Di antaranya, bisa meringankan pekerjaan. Akses layanan kesehatan pun bisa lebih mudah.

Sosialisasi penggunaan APM pernah dilakukan RS. Namun, belum ada hasil yang signifikan. Setiap orang, lanjut Joni, memiliki kemampuan penerimaan informasi yang berbeda-beda. Ada yang mudah paham. Ada pula yang butuh waktu lama untuk memahami teknologi.

”Pelan-pelan akan kami tanamkan informasi tentang penggunaan APM karena tidak gampang membuat para pasien yang kebanyakan orang tua memahaminya,” kata dia. Ke depan, Joni memperbanyak pelaksanaan sosialisasi itu. ”Agar semakin banyak pasien yang menggunakan APM,” sambungnya.

Sama halnya dengan yang disampaikan Direktur RSUD dr Saiful Anwar Restu Kurnia Tjahjani. Teknologi baru telah diterapkan. Aplikasi yang dibuat oleh RS itu, yakni Go to RSSA, bisa memudahkan pelaksanaan pendaftaran pasien di RS tersebut. Namun, lagi-lagi, dia menyayangkan masyarakat yang belum terbiasa mengoperasikannya. ”Masyarakat belum umum menggunakan aplikasi itu. Sehingga mereka masih mengantre secara konvensional,” ujar Restu.

Pemerintah dan rumah sakit telah berupaya mengurangi panjangnya antrean di IRJ. Yakni, dengan penyediaan anjungan pendaftaran mandiri (APM) dan aplikasi gadget untuk mengurangi antrean pendaftaran pasien. RS perlu memberikan sosialisasi agar penggunaan teknologi yang mempermudah pasien itu bisa dimaksimalkan.

Bukan hanya rumah sakit. Peran masyarakat juga diperlukan untuk menggunakan APM dan aplikasi gadget. Pemerintah, RS, dan masyarakat perlu bersinergi agar pelayanan kesehatan di RS tetap berjalan dengan baik.

Memang beberapa rumah sakit masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan tenaga medis dan alat kesehatan. Hal itu mengakibatkan antrean di poli belum bisa dihindari. Meski demikian, rumah sakit tidak boleh sewenang-wenang dalam menambah tenaga medis dan alat kesehatan. Sebab, ada regulasi pemerintah yang telah mengaturnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ika/c6/git)

Copy Editor :

Sistem Baru Terkendala Pasien Lansia