alexametrics

Melihat Damainya Pesta Demokrasi di Pelosok Kabupaten Bogor

Beda Pilihan Bukan Soal, yang Penting Kompak
25 Februari 2019, 20:10:49 WIB

JawaPos.com – Demam Pemilu 2019 sudah menimbulkan dua kubu yang terbelah. Tak jarang pilihan berbeda kerap mengakibatkan silaturahmi jadi renggang. Kondisi itu disadari warga di pelosok Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tepatnya di Desa Parung Panjang. Mereka tidak mau hal tersebut berimbas ke lingkungan mereka.

Minggu (25/2) sepertinya menjadi hari yang bersejarah bagi warga RT 2, RW 12 Desa Parung Panjang. Kebetulan hari itu digelar pemilihan ketua RT untuk periode 2019-2024. Pemilihan itu diikuti oleh dua calon.

Sejak pukul 07.00 warga di sana mendatangi lapangan yang disulap layaknya tempat pemilihan suara (TPS). Modelnya seperti TPS pemilu. Ada bilik suara, nama-nama daftar pemilih tetap (DPT), foto dua calon ketua RT, meja panitia, dan kotak suara. Tidak ketinggalan di pintu keluar terdapat botol tinta, tanda bukti bagi pemilih yang sudah menggunakan hak suaranya.

Melihat Damainya Pesta Demokrasi di Pelosok Kabupaten Bogor
Nurul Irawati dan Maulana Yusuf, dua calon ketua RT 02 RW 12. (Istimewa)

Pemilihan itu diikuti oleh 278 pemilih yang terdaftar. Semuanya berasal dari warga yang tinggal di Jalan Wijayakusuma I hingga Wijayakusuma X. Panitianya mengenakan seragam putih. Di satu sisi terdapat kursi kayu. Di sana ada dua orang calon ketua RT. Yakni Maulana Yusuf dan Nurul Irawati. Kedua menyaksikan warga menggunakan hak suaranya.

“Ada bawa undangan memilihnya kan, pak,” tanya salah seorang panitia kepada warga yang hendak memilih. Tanpa ragu warga itu menunjukkan kertas kecil yang berisikan nama dan alamat pemilih.

Di pintu keluar beberapa terlihat tersenyum setelah menggunakan hak suaranya. “Saya sudah gunakan hak pilih,” ujar Rahman, salah seorang pemilih sembari menunjukkan jarinya yang baru saja dicelupkan ke botol tinta.

Jati Santoso, 33, warga lainnya yang ikut memilih mengaku, pemilihan ketua RT di Parung Panjang tersbeut seperti pemilu sebenarnya. “Bisa dikatakan pemilihan ketua RT ini seperti pilpres. Sama persis,” ungkap pria berkacamata itu.

Proses pemungutan suara berlangsung hingga pukul 13.00. Sedangkan penghitungan surat suara dimulai pukul 15.00. Penghitungan suara itu menghasilkan keputusan Maulana Yusuf sebagai dengan ketua RT terpilih. Yusuf memperoleh 172 suara. Sementara rivlalnya Nurul Irawati mendapat 104 suara. Ada 2 suara abstain.

Sulaiman selaku ketua pemilihan RT menuturkan, pihaknya sengaja membuat Pemilihan RT dengan begitu demokratis. Tujuannya tak lepas dari ingin memperlihatkan suasana demokrasi yang sehat. “Apalagi di sini kami sangat plural. Ada beragam suku dan agama. Walaupun pilihan beda, kami tetap kompak,” terangnya.

Proses pemilihan RT di Parung Panjang berlangsung memang layaknya pemilihan kepala daerah atau pilpres. Mulai dari penjaringan bakal calon, verifikasi calon, penetapan calon. Begitu juga pemilihnya harus sesuai kualifikasi. “Minimal sudah tinggal di sini enam bulan. Mereka sudah punyak hak suara,” terangnya.

Sebelum pemilihan pun, kedua calon dibawa ke forum debat. Di sana calon memaparkan visi dan misinya untuk lingkungan RT 2. Debat itu berlangsung malam sebelum hari pemilihan. Hampir semua warga hadir pada debat tersebut. Di sana terjadi interaksi antarcalon. Warga langsung sebagai panelis. Mereka berhak mengetahui lebih dalam program konkret dari calon RT. Isu yang digiring tidak jauh dari keamanan, kebersihan, kemasyarakatan, pemberdayaan kemasyarakatan.

Maulana Yusuf calon RT yang terpilih pada debat memang mengutamakan program kekompakan dan keamanan lingkungan. “Kalau warga kompak, lingkungan pasti aman,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra


Close Ads
Melihat Damainya Pesta Demokrasi di Pelosok Kabupaten Bogor