JawaPos Radar

Burlian, Pengusaha Lulusan SD Asal Palembang

20 Tahun Nafkahi Keluarga Dengan Tulang Ikan

25/02/2018, 06:05 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pengusaha Makanan
Burlian Topo, pengusaha kerupuk tulang ikan asal Palembang. (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Tulang ikan kerap dianggap sebagai limbah dan berakhir di bak sampah. Namun di tangan Burlian Topo, tulang ikan bisa menjadi barang bernilai ekonomi.

Suami Hj Eliza itu memulai usaha sejak 25 tahun silam. Usaha pertamanya bukan tulang ikan. Melainkan daging ikan gabus yang dibuat menjadi kerupuk. Namun, persaingan usaha membuatnya terpuruk. Banyak pengusaha yang menjalankan bisnis serupa. Ditambah dengan mahalnya daging ikan.

"Usaha pertama berjalan selama lima tahun. Tapi terus mengalami penurunan hingga akhirnya saya dan istri sepakat untuk menyetop usaha tersebut," kata pria berusia 63 tahun saat berbincang santai di kediamannya, Jalan Sukarjo H Wardoyo, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Pengusaha Makanan
Burlian Topo saat menunjukkan kerupuk tulang ikan (Alwi Alim/JawaPos.com)

Keterpurukan sempat membuatnya putus asa. Di sisi lain, Topo harus terus berusaha agar mampu menafkahi keluarga. Terlebih, pria berambut putih itu hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Sehingga peluang untuk bekerja di perusahaan sangat minim.

Hingga suatu hari, Topo mendapat sebuah ide setelah berkeliling pasar di dekat rumahnya. Ia melihat para pedagang ikan membuang tulang ikan begitu saja. Bahkan dalam jumlah yang banyak.

Sehingga muncul keinginan untuk mengolahnya. "Ya, saya orangnya memang hobi untuk coba-coba. Kebetulan banyak kenalan orang di pasar jadi saya minta saja tulang ikannya," terang Topo.

Eksperimen pertama berjalan mulus. Topo berhasil mengubah tulang ikan menjadi kerupuk meski belum dalam jumlah yang besar. Karena untuk melakukan produksi massal membutuhkan biaya cukup besar. Harga bahan bakunya tergolong mahal. "Usaha tersebut cukup berhasil dan diminati masyarakat. Terutama di Palembang," ungkap kakek tiga cucu itu.

Kemudian sekitar tujuh tahun silam, Topo kembali mendapatkan ide untuk mengubah bahan baku krupuk tulang ikan. Tujuannya agar kualitas lebih baik dan dana yang dikeluarkan lebih ekonomis. Eksperimen kedua pun berhasil. Bahkan, ia mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar tanpa menurunkan kualitas usaha.

Bukan hanya membuat krupuk dari tulang ikan gabus. Topo juga memproduksi kripik crispy dari kulit ikan belido. "Alhamdulillah, lancar sampai sekarang usahanya dan sudah banyak pelanggan. Baik dari Palembang, Medan, Bandung dan lain sebagainya," tutur Topo.

Pria yang dulunya berprofesi sebagai tukang kayu itu mengaku dalam sehari mengolah tulang ikan sebanyak 20 kilogram. Semua hasil produksinya langsung ludes terjual. Dalam satu bulan, pemasukan yang mampu diraupnya mencapai Rp 10 juta.

Dengan keuntungan tersebut, Topo mampu menafkahi keluarga. Termasuk menyekolahkan kedua anaknya, menunaikan ibadah haji dan umrah bersama sang istri tercinta.

Kini, Topo mempekerjakan sekitar 10 karyawan. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) inovatif hingga mampu berjabat tangan dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Selain usaha krupuk dari tulang ikan saya juga ditopang bisnis pembuatan alat pengolahan ikan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur semuanya dapat terpenuhi. Bahkan mampu bersalaman dengan presiden. Ini sungguh tidak terduga bagi seorang lulusan SD," ucapnya.

Untuk itu, Topo selalu mengingatkan kepada anak dan cucunya untuk terus berusaha dan ciptakan ide kreatif. Karena ini akan sangat membantu dalam kehidupan mereka.

Ia juga mengaku tidak sungkan untuk memberikan informasi kepada setiap orang yang ingin belajar membuat usaha krupuk tulang ikan. Sebab hal itu salah satu ladang amal. "Kalau ada yang ingin belajar, ya saya ajarkan. Karena cuma itu yang dapat saya berikan dan saya bantu," tukas Topo.

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up