alexametrics

Polisi Tegaskan Dokter di Palembang Meninggal Bukan Efek Vaksin Covid

25 Januari 2021, 20:36:35 WIB

JawaPos.com–Polda Sumatera Selatan menegaskan kejadian meninggalnya seorang dokter di Kota Palembang bukan karena vaksin Covid-19. Dokter tersebut sebelumnya ikut divaksinasi.

Kabidhumas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi mengatakan dokter Jamhari Farzal, 49, meninggal karena serangan jantung berdasar hasil visum luar Biddokes RS Bhayangkara Palembang.

”Kami tidak melakukan visum pemeriksaan dalam karena tidak ada tanda-tanda kekerasan dan keluarga korban juga tidak menginginkan autopsi,” ujar Supriadi seperti dilansir dari Antara di Palembang, Senin (25/1).

Sebelumnya Jamhari ditemukan meninggal dunia di dalam mobilnya yang terparkir di minimarket di jalan Sultan Muhammad Mansyur, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, pada Jumat (22/1) pukul 21.00 WIB.

Supriadi menjelaskan, dari rekaman kamera pengawas, Jamhari diketahui menepi di minimarket pada Jumat pukul 08.05 WIB. Korban tidak keluar-keluar dari mobilnya sampai ditemukan meninggal pukul 21.00 WIB. Saat ditemukan pertama kali posisi korban tertelungkup ke arah kiri dengan tangan kanan memegang dada kiri. Di dekat korban terdapat 1 kaplet obat Nitrokaf Retard berisi 10 kapsul, namun satu kapsul sudah hilang.

Setelah berkonsultasi dengan tim ahli, Nitrokaf Retard diketahui sebagai obat untuk penderita jantung. Petugas menduga satu kapsul yang hilang sudah dimakan korban sebelum meninggal dunia.

”Polisi juga mendapatkan keterangan jika tiga bulan lalu korban pernah berobat ke salah satu dokter jantung di Sumsel karena merasa nyeri di dada kiri. Sehingga, dugaan serangan jantung semakin kuat,” tutur Supriadi.

Selain itu, lanjut dia, dalam proses visum petugas menemukan bintik pendarahan di bola mata kiri-kanan korban, serta bagian dada, perut, dan bagian tubuh yang tidak tertutup kain akibat kekurangan oksigen.

”Perkiraan korban meninggal antara pukul 13.00 sampai 15.00 WIB,” ucap Supriadi.

Dia menyatakan telah berkoordinasi dengan Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terkait diagnosa efek vaksin terhadap korban. KIPI menyatakan kejadian syok anafilaktif pascavaksin hanya 1 sampai 2 jam, sedangkan saat korban meninggal rentang waktunya sudah lebih dari 24 jam dari penyuntikan vaksin pada Kamis (21/1) pukul 10.06 WIB.

”Korban meninggal bukan karena vaksin. Korban ada rekam penyakit jantung,” terang Supriadi.

Sementara itu, adik kandung korban, Fauzi, menyatakan, kakaknya memang mengeluhkan nyeri dada sejak tiga bulan terakhir. Sehingga, keluarga menolak korban diautopsi. ”Kami juga sudah ikhlas,” ujar Fauzi.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads