alexametrics

Remisi Otak Pembunuhan Prabangsa Jadi Sinyal Buruk Bagi Jurnalis

25 Januari 2019, 20:40:29 WIB

JawaPos.com – Pemberian remisi kepada terpidana otak pelaku pembunuhan terhadap pewarta Radar Bali (Jawa Pos Grup) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa menuai kecaman dari komunitas jurnalis. Pemberian keringanan masa tahanan kepada I Nyoman Susmara itu dianggap bukan saja menyakiti keluarga korban, tetapi juga menjadi sinyal buruk bagi pewarta di Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Abdul Manan dan puluhan jurnalis lainnya saat menggelar aksi kecaman di Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat, Jumat (25/1).

Menurut Manan, usulan pemberian pengurangan masa tahanan yang disetujui Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu sangat disayangkan. Karena dari sekian banyak kasus kekerasan kepada jurnalis, pelaku utama tidak dihukum berat. Bahkan lebih banyak tidak sampai ke proses hukum.

Remisi Otak Pembunuhan Prabangsa Jadi Sinyal Buruk Bagi Jurnalis
AJI minta remisi pembunuh jurnalis Prabangsa dicabut (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

“Ini sangat melukai komunitas pers. Karena orang melakukan pembunuhan keji kepada wartawan kok mendapat pengurangan hukuman. Ini sangat jarang sekali,” ujarnya kepada awak media.

Diketahui Jokowi mengabulkan usulan remisi dengan surat Kepres No. 29 tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara tertanggal 7 Desember 2018.

Menurutnya, Kepres tersebut melukai juru warta di Indonesia. Bukannya pemerintah melindungi kebebasan pers, justru pemerintah sendiri yang seolah membiarkan pelaku kekerasan bebas mendiskriminasi wartawan.

Pengurangan masa tahanan dari seumur hidup menjadi 20 tahun kurungan penjara kepada otak pelaku pembunuhan Prabangsa, sama saja membiarkan pelaku untuk melakukan kekerasan kepada wartawan.

“Hal itu sama saja memberikan pesan silakan melaksanakan kekerasan kepada wartawan,” ujar Manan.

Ia menambahkan, proses hukum kasus pembunuhan yang dialami Prabangsa itu sebetulnya sudah bagus karena bisa sampai pengadilan. Begitu juga pelaku utama dijatuhi hukuman seumur hidup. Akan tetapi, secara tiba-tiba hukuman itu diringankan.

“Ini sebetulnya preseden yang bagus, karena pelaku dihukum secara layak. Kok tiba-tiba Kemenhukham mengajukan remisi kepada Susmara. Kemudian keputusan itu disetujui Presiden. Kami sangat kecewa,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susrama dengan divonis penjara seumur hidup.

Sebanyak delapan pelaku lain yang terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun penjara. Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa pada April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010.

Editor : Erna Martiyanti

Reporter : Wildan Ibnu Walid

Remisi Otak Pembunuhan Prabangsa Jadi Sinyal Buruk Bagi Jurnalis