alexametrics

Guru Mendapat Teror KKSB, Pendidikan Anak di Papua Terbengkalai

24 November 2017, 06:53:57 WIB

JawaPos.com – Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata (KKSB) melakukan penyerangan kepada sejumlah guru di Papua. Akibatnya, proses belajar mengajar harus dihentikan dan para guru saat ini telah dievakuasi ke Timika, Papua.

“Ada beberapa guru yang turun untuk dievakuasi karena mengalami teror dari KKSB, sehingga tidak ada lagi proses belajar mengajar,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musatafa Kamal, Kamis (23/11).

Menurut Kamal, ada sekitar 100 orang murid terdiri dari anak-anak SD dan TK, serta 10 orang guru. Saat ini, proses belajar mengajar dibantu oleh polisi wanita dari Polres Mimika dengan memberikan pelajaran berupa pengenalan huruf dan angka. Hal ini dilakukan untuk mengingtkan kembali apa yang telah mereka dapatkan selama mengikuti proses belajar mengajar di kampungnya.

“Karena kurang lebih satu bulan lamanya mereka tidak mendapatkan pendidikan pasca terisolir,” ungkap Kamal.

Pascaevakuasi warga dari tiga kampung, saat ini yang difokuskan yakni menghilangkan trauma mereka. Kepolisian meminta bantuan kepada instansi terkait untuk mencari solusi mengenai keinginan warga akan menetap di Timika ataukah kembali ke daerahnya masing-masing.

“Kalau mereka kembali bagaimana solusinya kelancaran kehidupan mereka sehari-hari, karena kita ketahui disana kondisi tanah atau pertanian sangat minim,” ungkap Kamal.

Kamal menuturkan, di tiga kampung yakni Kimbeli, Banti dan Longsoran sudah minim persediaan makanan, sehingga menjadi perhatian berbagai pihak agar kedepan warga Papua yang dievakuasi mendapat kehidupan yang layak.

“Telah musyawarah bersama warga untuk mencari solusi kedepannya untuk mendapatkan kesepakatan, karena kami dari TNI dan Polri akan mendukung semua itu demi kesejahteraan mereka kedepannya,” tutur Kamal.

Terkait masalah pendidikan, petugas telah berkomunikasi dengan kepala dinas pendidikan Mimika untuk kedepannya anak-anak mendapatkan tempat belajar mengajar yang layak.
Karena untuk sementara ini, hanya bisa menyiapkan buku dan pensil untuk proses belajar mengajar.

“Kami berharap dari pemerintah dan lembaga adat serta manajemen PT Freeport harus bersama-sama memikirkan secepatnya untuk mencari tempat yang layak agar anak-anak kita dapat belajar dengan baik,” pungkas Kamal.

Editor : admin

Reporter : (cr5/JPC)



Close Ads
Guru Mendapat Teror KKSB, Pendidikan Anak di Papua Terbengkalai