JawaPos Radar

Peringatan BMKG: Kualitas Udara di Kalbar Masuk Kategori Berbahaya

24/08/2018, 10:16 WIB | Editor: Ilham Safutra
karhutla kalbar
Ilustrasi: petugas BNPB dan BPBD melakukan pemadaman di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) wilayah Kalteng. (Riduan/Kalteng Pos/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah Indonesia berdampak pada kualitas udara di daerah setempat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengeluarkan peringatan bahwa untuk Kalimantan Barat (Kalbar), terekam 798 titik panas.

Titik panas sebenarnya tidak hanya muncul di Kalbar, tetapi juga Kalimantan Tengah (226 titik), Jambi (19), dan Sumatera Selatan (13). Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan, pada pertengahan Agustus ini hampir seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. "Yakni, sebanyak 95,03 persen. Sisanya, sebanyak 4,97 persen, masih musim hujan," katanya kemarin (23/8).

Menurut dia, kondisi kering selama musim kemarau diikuti munculnya titik panas dan memicu karhutla. Dia menjelaskan, di Kalbar, jumlah titik panas naik 17,6 persen jika dibandingkan dengan pekan lalu.

Peringatan BMKG: Kualitas Udara di Kalbar Masuk Kategori Berbahaya
Ilustrasi: petugas memadamkan api di titik kebakaran hutan dan lahan. (Radar Sampit/Jawa Pos Group)

Lebih lanjut dia mengatakan, berdasar hasil pemantauan alat pengukur kualitas udara di Stasiun Klimatologi Mempawah, konsentrasi particulate matter (PM10) tertinggi sebesar 356,93 mikrogram per meter kubik. "Artinya, (kualitas udara, Red) masuk kategori berbahaya," jelasnya. Jarak pandang mendatar (visibilitas maksimum) tercatat kurang dari 100 meter.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ikut turun tangan untuk modifikasi cuaca. "BPPT ikut andil mengirimkan personel modifikasi cuaca untuk membuat hujan buatan," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto kemarin.

Tim dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Hujan Buatan BPPT saat ini sudah berada di Kalbar. Tim pembuat hujan tersebut dikomando Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto.

Kemarin Seto mengatakan, tim hujan buatan sebenarnya mulai bekerja di Kalbar pada 19 Agustus. Upaya pembuatan hujan itu dilakukan dengan pesawat CASA 212-200 milik TNI-AU. Diperkirakan, 5 ton bahan semai natrium klorida (CaCl) ditaburkan ke awan-awan yang potensial menjadi hujan. 

(wan/far/tau/c11/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up