JawaPos Radar

Bencana Kabut Asap

Hujan Abu Ibarat Salju, Nelayan Ogah Melaut

24/08/2018, 08:49 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
karhutla kalimantan, kabut asap kalimantan, kebakaran hutan lahan
Ilustrasi: tiga anak mengenakan masker untuk melindungi diri dari kepulan kabut asap. (Prokal.co/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat semakin pekat. Khususnya Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Bukankah seharusnya Pemprov Kalbar menetapkan status bencana kabut asap?

Karhutla terjadi setiap hari. Debu bercampur abu hampir rata di setiap teras rumah. Kondisi ini membuat warga gerah. Melalui media sosial, mereka ramai-ramai mengutuk. Ada juga menjadikannnya candaan. Untuk menghibur diri, salah seorang netizen menganggap kabut asap sebagai hujan salju. Sarkasme buat pemerintah.

"Pontianak hujan salju pak," tulis Sholihin pada status WhatsApp yang menggambarkan postingan video mobilnya dipenuhi abu putih sebagaimana dikutip dari Prokal.co (Jawa Pos Group).

karhutla kalimantan, kabut asap kalimantan, kebakaran hutan lahan
PESAN BUAT JOKOWI. Kabut asap semakin tebal, warga Kota Pontianak sindir pemerintah yang tak bisa mengendalikan karhutla, kemarin. (Warganet for Rakyat Kalbar/JPG)

Itu sindiran soal salju palsu. Belum lagi yang harus merasakan sesak saluran pernapasan. Demam meriang menyertai. Seperti dilansir akun Instagram milik istri dari mantan ajudan Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya, @Merryolivia. Pada postingan terakhir terdapat sebuah video yang menggambarkan putra bungsu mereka sedang di uap. "Akibat kabut asap tebal melande Kote Pontianak. Buntat kaseh mamak batuk sesak," tulisnya.

Bocah berbadan gempal dan tak memakai baju itu tampak menikmati prosesi uapnya. Di dalam video berdurasi 59 detik itu pun terdengar percakapan ibu dan anak. "Masih sesak?," tanya Merry. "Iya," jawab putranya.

Saking tebalnya asap, sampai-sampai hastag #savepontianak #kabutasap #savekalbar menjadi tagline terpopuler di Instagram. Berbagai postingan yang menggambarkan tebalnya kabut disertai dengan caption ‘manas’ dari netizen bertaburan. "Suasana malam hari di Pontianak. Timing mudiknya ga tepat, ngarepnya musim durian,yg ada musim asap," tulis akun @reitiva1 pada caption yang menggambarkan suasana malam di Jalan Ahmad Yani, Pontianak.

"No edit, no efek efek. Ini jam 4 sore, sinar mentari pun enggan menyapa bumi. Akibat ulah tangan tidak bertanggung jawab. Semoga ada solusi cepat tanggap. Bencana asap Pontianak, Kalbar sekitarnya," sebut akun @adysetia1 yang menggambarkan foto Rumah Radangk.

Senada, diungkapkan oleh @michaelcakpint "Pembakaran oleh orang yang gak bertanggung jawab. Semoga ditindaklanjuti lebih serius. Pemerintah gak hanya diam saja, harus lebih tegas," tulisnya menggambarkan suasana berkabut di wilayah Paris 2, Pontianak.

Selain itu, kabut asap yang semakin tebal juga menyebabkan aktivitas nelayan di Kecamatan Sungai Kakap terganggu. Sebagian nelayan memilih untuk tidak melaut. Lantaran jarak pandang terbatas akibat kabut asap.

Faisal, 23, misalnya. Nelayan asal Parit Pangeran Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap sudah sebulan tidak melakukan aktivitas mencari ikan di laut. “Tak tampak apa-apa dah di laut,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Suasana siang di laut seperti sudah menjelang malam. Sehingga susah menuju laut telok dan laut dungon. “Tempat kita biasa mencari ikan dan udang di sana,” ungkapnya.

Akibat kabut asap, terkadang dia dan beberapa nelayan lainnya tersesat di laut. Bahkan hampir bertabrakan sesama nelayan saat sama-sama mencari hasil laut. Dirinya dan beberapa nelayan akhirnya memilih menunda melaut dan melakukan pekerjaan sementara. Seperti bertani dan berkebun.

(fab/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up