JawaPos Radar

Depresi Berat, Keluarga Meliana Takut Keramaian dan Tutup Diri

24/08/2018, 22:10 WIB | Editor: Budi Warsito
Depresi Berat, Keluarga Meliana Takut Keramaian dan Tutup Diri
Terpidana kasus penistaan agama karena protes terhadap suara azan di Tanjungbalai, Meliana, 44, saat hadiri sidang di PN Medan. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pascakerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai 2016 silam, keluarga Meliana memutusakan untuk pindah domisili ke Kota Medan. Bahkan, ke empat anaknya kini mengenyam pendidikan di Kota Medan.

Keluarga Meliana mengalami depresi berat pascakrusuhan itu. Bahkan mereka takut saat melihat keramaian. Begitu pun Meliana, dia mengalami depresi berat. Tak pelak dia selalu menangis di setiap persidangan.

Keempat anak-anak Meliana juga menutup identitas. Mereka tidak ingin, masyarakat tahu bahwa mereka adalah anak Meliana. Karena mereka khawatir akan didiskriminasi.

"Mereka sengaja menutup identitasnya. Makanya sepanjang persidangan anak-anak Meliana tidak pernah ikut," kata Kuasa Hukum Meliana, Ranto Sibarani, Jumat (24/8).

Selama persidangan, hanya Lian Tui, Suami Meliana yang mendampinginya. Anak-anaknya tak pernah terlihat karena takut. Karena selama persidangan, terlalu banyak tekanan.

Ranto juga menyebut, salah satu anak Meliana sedang menimba ilmu hukum di salah satu universitas di Kota Medan. Motivasinya membela orang-orang lemah.

"Katanya ingin jadi pengacara. Biar bisa membela masyarakat lemah," ujar Ranto.

Ranto juga membeberkan alasan Keluarga meliana pindah ke Medan. Kata Ranto, rumah yang ada di Tanjung Balai tidak lagi bisa di pakai karena rusak pascakerusuhan.

Memang rumah Meliana sempat menjadi bulan-bulanan. Bahkan, nyaris habis dibakar pada 29 Juli 2016 oleh massa yang geram.

Lebih jauh lagi, Ranto berharap masyarakat bisa melihat kasus ini juga dari sisi kemanusiaan. Jangan sampai, keluarga jadi korban perundungan karena masalah yang mendera sang ibu.

Kasus Meliana kembali menjadi perbincangan publik. Bahkan, pemberitaan soal kasus ini juga sampai ke media asing. Dia dihukum 18 bulan penjara setelah dinyatakan bersalah dan melanggar Pasal 156a huruf a KUHPidana tentang penistaan agama. Saat ini kuasa hukum akan melakukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up