JawaPos Radar

Antisipasi Kekalahan, Tim Hydrone ITS Pakai Cooling System

24/08/2018, 20:31 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Antisipasi Kekalahan, Tim Hydrone ITS Pakai Cooling System
Ketua Tim Hydrone ITS Hamdan Qomarudin dan timnya menjajal performa kapal remote kontrolnya yang bernama Wisanggeni. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tim Hydrone Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali ikut balap kapal remote kontrol di Saint-Tropez, Perancis, September mendatang. ITS pun bersiap dengan aplikasi sistem pendingin (cooling system) mesin.

Ketua Tim Hydrone ITS Hamdan Qomarudin mengatakan, cooling system itu diaplikasikan pada salah satu kapal boat-nya yang bernama Wisanggeni. Ada strategi tersendiri atas penggunaan cooling system itu.

Alasannya, dia ingin mesin dan kelistrikan kapalnya bertahan lama. Sebab, kapal boat itu akan berlaga pada kategori light weight atau long distance. Tentunya, akan mengutamakan kecepatan dan ketahanan.

"Kami perhitungkan, cooling system ini akan membuat mesin bekerja lebih efisien dan tahan lama. Sehingga, mesin kapal akan terhindar dari insiden mati mendadak," kata Hamdan di kampus ITS, Surabaya (24/8).

Ditanya soal cooling systemnya sendiri, Hamdan menjelaskan bahwa sistem itu sangat membantu kinerja mesin kapal. Dia mengklaim, mesin kapal mampu digeber hingga 4,3 meter per second atau hampir 9 knot.

Pada kalkulasi kecepatan itu, setidaknya kapal akan mampu berlaga hingga 19 lap atau putaran. Dengan jarak lintasan di tiap putarannya, sepanjang 200 meter.

"Memang belum menyentuh rekor. Tahun lalu, tercatat hingga 23 lap atau putaran. Tapi kami tetap optimis," kata Hamdan.

Hamdan mengaku, penggunaan system cooling itu, bukan tanpa alasan. Pada laga tahun lalu, kapalnya hanya mampu lolos pada peringkat 10.

Penyebabnya, kondisi mesin yang terlalu panas (overheat). Akhirnya, menyebabkan kegagalan sistem kelistrikan dan mati mesin mendadak.

"Tahun lalu, kami hanya mampu lolos di peringkat 10. Kesalahannya, kami mengalami overheat (kepanasan) yang mengakibatkan kegagalan sistem," katanya.

Namun, Hamdan mengaku optimis. Karena, ada faktor lain selain kondisi kelayakan mesin yang akan menentukan kemenengan. Misalnya, driver, strategi umum, dan desain bodi atau fisik kapal.

Soal desain fisik kapal, Hamdan mengaku, timnya mengaplikasikan rancang bodi dengan tipe slender body dan round hall. Katanya, bentuk lambung kapal seperti itu lebih efisien ketimbang bentuk lambung kapal konvensional.

"Kalau desain konvensional bentuknya seperti huruf V. Sedangkan, desain saya, itu lebih smooth. Sudah saya pelajari berdasarkan teori dan beberapa sumber literatur yang ada," jelasnya.

Tak hanya kapal remote kontrol bernama Wisanggeni yang akan bertanding. Tim Hydrone ITS juga punya jagoan lain. Nama kapalnya, Gatot Kaca. Kapal remote kontrol itu akan ikut pada kategori heavy weight karena bodinya yang lebih besar.

Terkait event-nya sendiri, akan ada 30 negara lain selain Indonesia dan Perancis sebagai tuan rumah. Indonesia, juga akan melibatkan kontestan asal Universitas Diponegoro dan Universitas Indonesia.

Sistemnya, dimulai dari babak kualifikasi yang akan meloloskan 16 kontestan. Kemudian, mereka akan bertanding hingga lolos ke babak final dan keluar sebagai pemenang. Swiss dan Perancis tercatat sebagai juara bertahan.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up