alexametrics

Kapolres Jakbar: Banyak Perusuh Ngaku Santri, Tapi Memiliki Tato

24 Mei 2019, 07:37:46 WIB

JawaPos.com – Pasca kerusuhan di Jalan Petamburan, Jalan KS Tubun serta Slipi, Polrestro Jakarta Barat, meringkus 183 tersangka. Ratusan tersangka tersebut berasal dari beberapa daerah. Dari tangan para tersangka, aparat menyita barang bukti berupa busur, golok, ketapel, petasan, bambu runcing, batu, bom molotov serta uang tunai.

Kapolrestro Jakarta Barat Kombes Pol Hengki Haryadi, SIK, M. H mengatakan pihaknya telah menangkap sebanyak 183 orang tersangka penyerangan asrama Polisi dan pengrusak mobil. Pihaknya telah melakukan pemeriksaan serta penyelidikan terhadap para tersangka. Hasilnya, ditemukan fakta hukum dan bukti.

“Dari penangkapan di TKP Petamburan, kami peroleh beberapa alat bukti berupa senjata tajam, busur, bom molotov, bambu runcing dan petasan. Ini sudah dipersiapkan untuk melawan aparat dan pihak kepolisian serta menciptakan kerusuhan,” ungkap Hengki, Kamis (23/5).

Hengki berpendapat, dalam hal menyampaikan pendapat dimuka umum tidak seharusnya menggunakan senjata tajam, bom molotov serta lainnya. Hal itu membuktikan bahwa ini ada unsur kesengajaan untuk menyerang aparat dan membuat kerusuhan. Pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap barang bukti yang disita dari para tersangka.

“Nanti busur akan kita bawa ke laboratorium forensik. Karena berdasarkan informasi intelijen sebelum ini digunakan dicelupkan ke dalam zat tertentu. Lalu bom molotov zatnya pun kami akan cek dalam isinya seperti apa. Sehingga menambah daya ledak, lebih lama, jadi (apinya) melekatnya lebih lama. Itu kami akan cek, ” tegasnya.

Ia mengatakan, saat melakukan pengamanan kerusuhan, pihaknya didukung oleh masyarakat juga termasuk ulama. Bahkan pihaknya bersama imam besar FPI Jakarta bersama menghalau kerusuhan. Ia menduga kerusuhan yang terjadi di wilayah hukumnya dimungkinkan ada pihak ketiga yang berusaha menyusup.

“Seperti kemarin ada yang mengaku santri, kita lihat tampangnya. Ternyata seperti ini yang ngaku santri, sebagian besar memiliki tato,” kata Hengki sambil menunjuk ke arah tersangka yang badannya bertato.

Selain menyita barang bukti berupa saja, bom molotov da lainnya, aparat juga mendapati satu unit handy talky (HT) berstiker Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari pelaku kerusuhan di Asrama Polri Petamburan, Jakarta Barat. Dalam stiker PKS tersebut turut memuat angka 8 yang menjadi nomor urut PKS dalam Pemilu 2019 serta slogan bertuliskan Ayo Lebih Baik. Adapun bagian yang ditempeli stiker PKS tersebut hanya di bagian atas HT itu saja.

Saat ditanya adanya keterlibatan partai politik tertentu, Hengki mangaku belum bisa memastikan apakah ada keterlibatan partai politik dalam kerusuhan tersebut atau tidak. “Masih kami dalami, berkesinambungan, nanti konstruksinya seperti apa,” terang Hengki.

Hengki mengatakan saat ini pihaknya juga masih menelusuri siapa otak yang menyokong dana kepada para massa bayaran tersebut. Diketahui, dari hasil pengembangan polisi juga mengamankan uang tunai senilai Rp 20 juta dan beberapa amplop yang telah diberi nama untuk dibagikan kepada pelaku kerusuhan. Para pelaku mendapatkan imbalan sebesar Rp 100-250 ribu untuk melakukan kerusuhan dan menyerang petugas kepolisian. “Mereka memperoleh uang untuk melakukan kejahatan,” kata Hengki.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Barat AKBP Edi Suranta Sitepu menambahkan ratusan tersangka berasal dari beberapa daerah yang berbeda seperti dari Banten 41 orang, Jawa Tengah 13 orang, Jawa Barat 27 orang dan Sumatera 11 orang. Sedangkan sisanya dari Jakarta. “Selama di Jakarta mereka menetap ditempat yang berbeda,” tuturnya.

Edi menegaskan, para tersangka dijerat Pasal 212 KUHP dan atau Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 170 KUHP dan atau Pasal 187 KUHP dan atau Pasal 358 KUHP tentang perkara secara bersama-sama atau seorang diri melawan petugas dan atau secara bersama-sama melakukan pengrusakan terhadap barang dan atau turut campur dalam pengrusakan atau penyerangan atau perkelahian.

“Kita akan terus menyelidiki lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi dan berkoordinasi dengan pihak Polda Metro Jaya,” tutupnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Yogi Wahyu Priyono