alexametrics

Aisyah, Mualaf Kolombia Bertahan Hidup di Bogor dengan Memulung

24 Januari 2019, 12:25:12 WIB

JawaPos.com – Perempuan setengah baya asal Kolombia  Amerika Latin mendadak jadi perbincangan di media sosial. Menjadi mualaf, Aisyah Anisa tinggal di Bogor, Jawa Barat, dengan mengandalkan dari hasil memulung. 

Setelah viral, kini dia tak sendiri lagi menanggung beban hidupnya. Beberapa kalangan dan komunitas mulai berdatangan untuk memberikan bantuan kepada dia dan anaknya.

Kisah pilu Anisa, perempuan 50 tahun itu mulai didatangi banyak orang. Rata-rata mereka yang datang karena merasa prihatin dengan kehidupan Anisa yang sehari-hari memulung. Tapi sekaligus takjub dengan prinsipnya dalam menjaga keyakinan.

Umumnya, warga negara asing yang tinggal di Indonesia selalu hidup berkecukupan. Minimal, tidak perlu memulung hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Tapi tidak bagi Aisyah Anisa, yang bernama asli Martha Eugenia Rojas Avila itu justru hidup dalam kepapaan di Kota Hujan. Sehari-harinya, ia mencukupi kebutuhan hidup dengan memulung.

Raisah, 20, anak semata wayangnya yang tinggal serumah dengannya kian menambah kepiluan hidup Anisa. Raisah hanya bisa terbaring dan terkulai lemah karena penyakit kanker darah dan stroke sejak setahun lalu.

Diajak bicarapun sulit. Ia sudah diobati berkali-kali dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, namun, penyakitnya tak kunjung sembuh. Anisa pun tak memiliki biaya tambahan untuk mengobati Raisah.

Kisah Anisa yang ramai diberitakan, rupanya dilirik oleh Yayasan Baitul Maal dari Perusahaan Listrik Negara. Mereka, bersama empat orang timnya, datang langsung ke kediaman milik Anisa di Kampung Curugmekar Kelurahan Curug Mekar.

Mereka memberikan bantuan uang tunai santunan sebesar Rp 4.000.000 untuk Anisa. “Sebenarnya kami sangat terketuk dengan perjuangan Anisa bertahan hidup. Ditambah anaknya bernama Raisah juga menderita sakit lumpuh,” kata Koordinator Bidang Pemberdayaan YBM LPM Badawi kepada Radar Bogor (Jawa Pos Group).

Secara fisik, kontrakan tempat tinggalnya cukup layak dan jauh dari kesan kumuh. Tak terlihat banyak perkakas dan barang-barang di dalam rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter itu.

Radar Bogor mendatangi kediaman wanita 50 tahun itu menjelang siang, sekitar pukul 12.00. Akses ke rumahnya cukup sempit. Hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Saya berkali-kali harus bertanya kepada warga setempat.

Meski banyak yang mengenalnya, namun jarang orang yang tahu rumahnya. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ketemu.

Orangnya kebetulan sedang berada di rumah. Maklum dia harus terus mengontorol kesehatan putrinya Raisah, 20, yang hanya bisa terbaring di kasur karena penyakit leukimia (kanker darah) yang dialaminya.

Aisyah Anisa sebenarnya bukan nama aslinya. Nama itu baru dia pakai 20 tahun silam, semenjak dia memutuskan masuk Islam. Di negara asalnya dan dokumen imigrasi,nama Martha Eugenia Rojas Avila masih menjadi identitasnya.

Dia juga masih berstatus warga negara asing (WNA). Kepada wartawan dia pun lebih senang dipanggil Anisa. Nama itu diberikan oleh seseorang yang mengislamkannya saat ia tinggal di Bandung beberapa tahun lalu.

Awalnya, Anisa enggan membuka diri. Dia masih belum terbiasa dengan media. Namun, lama-kelamaan sikapnya mulai mencair. Berkat Nuh, Ketua RT 02/04 Curug Mekar yang mau menyakinkannya. Nuh kebetulan salah satu orang yang dekat dengan Anisa.

Tim radarbogor.id memang sudah janjian untuk bertemu dengan Nuh di kontrakan Aisyah. Hal pertama yang Anisa share adalah tentang kondisi anak semata wayangnya Raisah.

Dara 20 tahun itu lumpuh. Tak bisa berjalan atau sekedar duduk. Sebagian organnya tidak berfungsi dengan baik akibat stroke. Bagian leher bengkak. Sementara kakinya terlihat seperti bekas luka lebam akut.

“Nih lihat,” kata Anisa menunjukan beberapa sisi kaki anaknya kepada wartawan.

Terlihat jelas bekas-bekas luka lebam berwarna merah di kaki kanan dan kiri. Rupanya, bekas luka itu sudah lama ada. Dari balik luka inilah, Anisa mulai terbuka.

“Dua puluh tahun lalu saya berlayar dengan kapal pesiar dari Amerika. Di sana, saya bertemu seseorang yang kemudian menikah dengan saya. Saya dibawa ke Indonesia. Saya masuk Islam dan menikah dengannya. Saya tinggal di sebuah daerah yang jauh dari sini,” kata Anisa dengan aksen khasnya.

Dari caranya berbicara, Anisa tampak mahir berbahasa Indonesia. Ia paham semua tutur kata yang ditanyakan. Ia pun tak canggung berbicara bahasa Indonesia dengan siapa pun. Hanya saja, lidahnya sebagai orang asing tak bisa disembunyikan. Setiap kata yang diucap masih terasa aksen Inggris versi british.

Dia menjelaskan saat pertama menginjakan kaki di Indonesia semua baik-baik saja. Dia tinggal bersama suaminya di Bandung. Bahagia. Mereka pun dikarunia anak Raisah.

Dia lahir dalam keadaan normal. Cantik: perpaduan Sunda-Kolombia. Meski lebih banyak Kolombia-nya. Namun, lanjut Anisa petaka itu bermula ketika suaminya memutuskan menikah lagi yang tak lain adalah pembantunya sendiri.

“Itulah yang membuat saya terpukul. Saya kemudian lebih memilih keluar dari rumah. Dan meninggalkan Bandung,” beber dia.

Di masa-masa pelarian ini, Anisa merasakan berbagai nelangsa hidup. Ia pernah mendekam di balik jeruji Lapas Paledang selama tiga bulan. Hingga pernah tinggal dan hidup lima bulan di tempat pemakaman pemakaman umum (TPU) daerah Jakarta.

Namun, di masa-masa pengembaraan itu, ia tetap memilih Bogor sebagai tempat singgah dan muara akhir perlindungan. “Saya makan apa saja. Yang penting halal saat itu,” ucapnya.

Kurang lebih selama setahun dia hidup tak pasti. Pindah-pindah kota. Bogor, Jakarta. Jakarta, Bogor. Menumpang kereta. Hidup di jalan. Akhirnya dia lelah. Dan memutuskan tinggal menetap. Kota Bogor dipilih sebagai rumah keduanya.

Tahun ini merupakan tahun ke-12 dia menetap di Bogor. Wilayah kelurahan Curug Mekar adalah tempat tinggalnya dari dulu hingga sekarang.

Di awal-awal menetap, Anisa mengaku sangat kebingungan. Dia tak mempunyai uang untuk mengontrak rumah. Sampai akhirnya dia memutuskan menjadi pemulung. Tidur masih tidak tentu. Dimana saja yang penting aman. Dari situ sedikit demi sedikit uang bisa dia kumpulkan.

Dia pun ingin mendapat rezeki lebih. Caranya dengan memiliki gerobak sampah. Dari gerobak sampah ini dia bertemu dengan Nuh, Ketua RT 02 RW 04 Kelurahan Curug Mekar. Yang menjual gerobak sampah kepada Anisa.

“Ya saya memulung, saya ambil sampah. Saya berputar dari rumah ke rumah yang lain. Saya ini Islam. Agama saya tidak melarang saya untuk memulung. Tapi agama saya melarang saya untuk menjadi pengemis dan peminta-minta. Lebih baik saya jadi pemulung dari pada harus meminta dan mengemis kepada orang lain,” bebernya.

Editor : Yusuf Asyari

Aisyah, Mualaf Kolombia Bertahan Hidup di Bogor dengan Memulung