alexametrics
Pernah Dapat Penghargaan Wali Kota Surabaya

Sutrisno, Saksi Sejarah Dua Tragedi Maut di Perlintasan KA Pagesangan

23 Oktober 2018, 20:12:59 WIB

JawaPos.com- Perlintasan Pagesangan menjadi sorotan warga Kota Pahlawan sejak tragedi kecelakaan maut antara KA Sritanjung dengan Pajero Sport, Minggu, (21/10). Perlintasan itu sudah ada sejak lama, berkat swadaya warga sekitar. Salah satu yang menginisiasi pada 1991 silam adalah Sutrisno. 

ARYO MAHENDRO, Surabaya

Rambut dan kumisnya sudah memutih. Otot-otot di tangannya terbalut kulit yang sudah mengeriput. Saat ditemui di kediamannya, di Jalan Pagesangan II Rel KA 06/II, Selasa sore (23/10), Sutrisno memilih berdiam diri di dalam rumah.

Penjaga perlintasan Pagesangan
Sejak 1992, Sutrisno sudah mengabdikan diri sebagai relawan penjaga perlintasa Pagesangan, Surabaya. (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)

Sosok Sutrisno begitu bersahaja. Sederhana. Kemeja kotak-kotak yang dikenakannya, cukup mewakili kepribadiannya. Dia menyambut ramah saat JawaPos.com mencoba menggali kisahnya sebagai penjaga perlintasan Pagesangan.

Sesekali pandangan lelaki berusia 63 tahun itu menengok keluar. Dia memantau warga yang standby di sekitar perlintasan. Banyak anak-anak kecil bermain di sekitar palang pintu itu. “Iyo mas, ngawasi tok. Soale, katah lare-lare sliweran. (Ya, mas. Saya hanya mengawasi saja. Karena banyak warga yang lalu lalang di sekitar perlintasan),” ucapnya.

Sutrisno adalah salah satu penjaga perlintasan Pagesangan paling senior. Dia paham betul sekelumit sejarah perlintasan tersebut.

Dia menceritakan perlintasan Pagesangan memang tidak ada yang menjaga sejak 1985 lalu. Setahun kemudian, perlintasan itu tertutup dan dijaga oleh beberapa orang. Namun, yang dijaga adalah proyek pemasangan pipa gas tepat berada di bawah rel kereta api. 

Sutrisno mengaku tidak ingat berapa lama proyek itu berlangsung. Setelah proyek selesai, situasi di perlintasan Pagesangan kembali seperti semula. Maksudnya, tidak ada palang pintu, alarm, maupun petugas jaga. 

Kondisi tersebut bertahan hingga tahun 1991. Ada sebuah tragedi besar yang terjadi di sana kala itu. Jauh sebelum Pajero Sport disambar Sritanjung yang menewasakan sekeluarga tersebut.

Kala itu, sebuah mobil yang membawa pasangan suami istri dan seorang anak kecil diseruduk kereta api yang melaju dari arah Stasiun Wonokromo menuju Stasiun Sepanjang. Semua penumpang mobil tewas. Kondisi mobil ringsek dan terpental beberapa meter di pojok kanan dekat pos jaga yang saat ini mangkrak.

Kejadian itu sama persis dengan yang menimpa keluarga Gatot Sugeng Priyadi, penumpang Pajero Sport. “Posisinya sama persis dengan kecelakan 27 tahun lalu mas. Ya di situ mobilnya,” tutur Sutrisno sembari menunjuk pos yang mangkrak itu. 

Sejak kecelakaan memilukan itu, hatinya pun tergerak untuk menjadi penjaga perlintasan Pagesangan. Hanya saja, keinganannya itu  baru ia lakoni setahun kemudian.

Warga pun, mendukung niatnya menjaga perlintasan yang membahayakan nyawa itu. Awalnya hanya Sutrisno seorang diri yang menjaga perlintasan itu. Mulai jam enam pagi sampai jam empat sore.

Namun, kerelaannya cukup menginspirasi warga sekitar. Beberapa tahun kemudian, mulai ada beberapa warga lain yang turut membantu menjaga perlintasan Pagesangan.

Meski ada yang menemani, Sutrisno banyak mengalami suka duka selama menjaga perlintasan Pagesangan. Cerita-cerita di luar nalar pun keluar dari mulut Sutrisno

Dia pernah mendengar suara rintihan minta tolong di sekitar palang pintu.  Kejadiannya beberapa bulan setelah kecelakaan di tahun 1991.

Sutrisno juga kerap melihat perempuan misterius berambut panjang yang lalu lalang menyebrang rel saat dirinya dapat giliran jaga hingga tengah malam. Sosok itu juga muncul beberapa hari sebelum kecelakaan Sritanjung dengan Pajero Sport. Namun karena sudah niat dan ikhlas, dia tak mau menggubris fenomena mistis tersebut. fenomena gaib tersebut.

Sejak menjaga perlintasan Pagesangan 26 tahun lalu, tidak ada musibah apapun selain dua insiden maut tersebut. Dia juga kerap menerima pemberian sukarela dari para pengendara yanh melintas di perlintasa Pagesangan. 

Saat awal-awal menjadi relawan perlintasan, Sutrisno mendapat imbalan sukarela dari pengendara. Waktu itu, dapat Rp 500 saja sudah bersyukur. Belakangan terakhir, dia paling tidak mengumpulkan Rp 25 ribu sehari. Di tengah-tengah ceritanya soal pendapatan sebagai relawan, Dwi, putra Sutrisno, tiba-tiba datang memotong obrolan. ”Bapak ini dulu pernah dapat penghargaan Wali Kota mas,” seloroh Dwi.

JawaPos.com kemudian meminta Sutrisno untuk menunjukkan piagam penghargaan itu. Langkah kaki Sutrisno kemudian beranjak menuju ke dalam rumah. Tak jelas di mana piagam itu ditaruh. Sejurus kemudian, Sutrisno memamerkan selembar piagam putih. Tanpa pigora. Tanpa laminating.

Di piagam itu tertera namanya sebagai Pahlawan Sosial dalam rangka Hari Pahlawan, 2006 lalu.  Tanda tangan Wali Kota Surabaya Bambang DH, terukir jelas. ”Ngasihnya dulu di sebuah hotel mewah,” kata Sutrisno.

Sehari sebelum kecelakaan maut antara KA Sritanjung versus mobil Pajero Sport, dia juga menerima bingkisan dari Kanit Laka Lantas Polrestabes Surabaya AKP Antara. Bingkisan itu hanya sebagai upaya kecil untuk membalas jasa Sutrisno. Meski tak banyak, dia tetap bersyukur.

Begitu pula dengan relawan lain yang juga kerap menerima pemberian sukarela dari pengguna jalan yang melintas. Hasilnya, buat kebutuhan pribadi masing-masing. “Ya kalau ngandalno uang dari jaga palang pintu, ya nggak cukup dek,” katanya. 

Saat ini, dia berharap Pemerintah Kota Surabaya membuka kembali perlintasan Pagesangan tersebut. Dia juga berharap, pemerintah menyediakan fasilitas dan sarana keamanan dan keselamatan sebelum perlintasannya dibuka kembali. 

Terutama soal alarm. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, alarm penting untuk memperingatkan pengendara saat akan melintas. Termasuk, peringatan juga bagi penjaga palang pintu. 

Sutrisno menuturkan, pengetahuan itu didapat saat dirinya dan beberapa warga lain pernah mendapat pelatihan dasar sebagai sukarelawan oleh PT KAI di Mojokerto. Dia mengatakan, jika ada kendaraan yang berhenti karena mogok atau sesuatu hal lain, jangan ditolong. 

Justru, seorang penjaga yang memperingatkan kereta apinya dengan bendera khusus pada jarak 1500 meter dari perlintasan. Sehingga, masinis dapat melakukan pengereman sedini mungkin. 

“Semua sukarelawan penjaga palang pintu dapat pelajaran itu. Pendidikan dan pelatihannya setahun sekali selama dua hari di kantor PT KAI di Mojokerto. Kami semua sudah diajari,” kata pria yang memiliki usaha barang bekas tersebut. 

Tak hanya soal keamanan dan keselamatan di area perlintasan Pagesangan. Dia juga berharap perlintasan itu dibuka kembali karena banyak warga yang bukak usaha toko dan warung. 

Sutrisno mengaku kasihan melihat toko tetangganya yang sepi pembeli. Sebab, selama perlintasan itu ditutup, para pengendara tidak dapat lewat. Mereka terpaksa memutar jalan melewati Jalan Gayungsari dan Jalan Kebonsari Baru Selatan, lalu tembus ke Masjid Al Akbar. “Makanya, kasihan. Ekonomi mati semua ini. Ya, bagaimana, ini warung-warung nggak jalan (sepi pembeli). Warga sama pengendara jalannya harus muter jauh,” katanya. 

 

Editor : Dida Tenola

Reporter : (HDR/JPC)



Close Ads
Sutrisno, Saksi Sejarah Dua Tragedi Maut di Perlintasan KA Pagesangan