JawaPos Radar

Rentetan Teror Ular Ganas yang Jadi Sorotan Media Luar Negeri

23/06/2018, 18:10 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
ular piton, ular makan manusia, ular muna sulawesi
Ilustrasi: ular piton (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tengah menjadi perbincangan di berbagai jagat dunia maya dalam sepekan terakhir. Sayangnya, hal itu bukan karena sebuah prestasi melainkan tragedi memilukan.

Pada 15 Juni lalu, seekor ular piton memangsa manusia di wilayah selatan Muna, tepatnya di Desa Lawela Kecamatan Lohia. Wa Tiba tewas mengenaskan setelah ditelan bulat-bulat oleh binatang melata di kebun miliknya.

Wanita berusia 54 tahun itu diduga diterkam ular saat hendak ke kebunnya yang berjarak satu kilo meter dari pemukiman penduduk. Ibu satu anak itu ditemukan dalam perut ular tepat di Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah.

ular piton, ular makan manusia, ular muna sulawesi
Ilustrasi: ular piton yang ditangkap warga. (Iwan Irawan/Sumatera Ekspres/JPG)

Kejadian itu bikin ngilu. Kabar Wa Tiba dimangsa ular sontak menghiasi layar televisi nasional. Media surat kabar dan media online tidak ketinggalan. Bahkan, beritanya sampai disorot media Amerika (Washington Post), Jepang dan Arab Saudi (arabnews).

Usai kejadian itu, kemunculan ular piton di pemukiman warga terus berlanjut hingga sepekan kemudian. Di antaranya di Desa Langkumapo, Kecamatan Napabalano pada 16 Juni, Desa Mantobua pada 17 Juni.

Sehari berikutnya, ular piton kembali ditemukan warga di tiga lokasi berbeda, yakni Kelurahan Jompi di Katobu, Desa Masalili di Lohia dan Desa Bumbu di Pasir Putih. Selanjutnya pada 20 Juni warga Desa Liwumetingki, Kecamatan Pasir Putih kembali menangkap ular piton.

Rentetan peristiwa kemunculan piton tersebut menjadi topik terhangat. Teror ular ini benar-benar bikin geger. Tak hanya untuk masyarakat Muna dan Sultra pada umumnya, tapi juga nasional. Peristiwa itu, bahkan dikaitkan dengan berbagai mitos. Tidak sedikit pula yang berspekulasi tentang peringatan alam sebagai penyebabnya.

Kendari Pos (Jawa Pos Group) mencoba merangkum kejadian luar biasa tersebut. Peristiwa ular menelan manusia merupakan yang pertama kali terjadi di Bumi Sowite ini.

Dari tujuh peristiwa (yang terkonfirmasi kebenarannya), kemunculan ular piton selalu terjadi di malam hari. Hewan reptil itu keluar dari persembunyiannya di tengah hutan belantara kemudian menyasar pemukiman warga.

Semua informasi tentang kemunculan ular piton di beberapa lokasi di Muna sehingga bikin geger dibenarkan Awal, pawang ular sekaligus pegawai di unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Muna. Menurutnya, ular sebenarnya termasuk hewan yang jarang bersentuhan dengan manusia. Hewan ini biasanya menghindar jika mencium aroma manusia. Mangsa yang paling dicarinya adalah babi hutan.

"Kalau di hutan seperti Warangga, wajar banyak ular karena habitatnya. Tapi kalau sudah sampai menelan manusia, itu luar biasa. Berarti ada yang salah dengan habitatnya," ungkap Awal, kemarin (22/6).

Kepala Bidang Lingkungan Hidup Muna, La Sahusu menduga, fenomena kemunculan piton diakibatkan ketidakseimbangan ekosistem alam di Muna. "Jelas karena kerusakkan lingkungan, meskipun itu bukan faktor tunggal. Ada ketidakseimbangan alam akibat ulah manusia sendiri," jelasnya, kemarin.

Penjelasan La Sahusu lebih detail dikemukkan oleh Unding, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah VI Muna. Ia mengatakan, ular piton sebenarnya bukan hal baru di Muna. Hanya saja, dia mengakui yang terjadi sepekan terakhir merupakan kejadian luar biasa, terlebih sampai merenggut nyawa.

"Kalau kami sering ketemu ular, tapi di hutan. Ada beberapa di pemukiman tapi sifatnya periodik. Beda dengan sekarang, seperti keluar sekaligus," katanya saat dihubungi, Jumat (22/6).

Unding menjelaskan, wilayah Muna memang merupakan habitat ular piton. Wilayah Muna yang terdiri dari bebatuan karst menjadi surga bagi piton. Peta sebaran ular piton sendiri, kata Unding, paling banyak terdapat di kawasan hutan Lambiku, Napabalano, kawasan pekebunan di Lohia, kawasan kampung lama di Tongkuno serta di kawasan hutan di Lawa.

"Kalau pemetaan ular itu banyak di kawasan belakang Desa Mantobua hingga Kontunaga, terus di kampung lama dan di Napabalano. Termasuk di hutan warangga. Habitat aslinya di tempat itu," terangnya.

Lebih jauh Unding menjelaskan, dalam kondisi normal ular tidak akan keluar dari habitatnya. Kemunculan di pemukiman warga menandakan ular saat ini krisis rantai makanan.

Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya, perburuan babi hutan yang marak terjadi. Pemburu ilegal biasanya menangkap babi hutan untuk kepentingan bisnis. Hal itu memicu ketidakseimbangan rantai makanan ular.

"Babi hutan itu banyak diburu di wilayah Napabalano, Lawa dan kampung lama. Mereka jual di Manado, ada pengepul di sini. Kebiasaan berburu itu yang bikin rantai makanan ular berkurang. Maka ular balik berburu di kebun dan pemukiman warga," tuturnya.

Sementara itu, Sahiudin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Muna Buton yang berkantor di Kota Bau-Bau menjelaskan, kemunculan ular bersifat periodik. Ia menduga, fenomena saat ini ikut dipicu faktor cuaca.

"Kalau musim hujan memang ular keluar cari makan karena sarangnya biasanya kemasukkan air, jadi dia memilih menjelajah. Di saat keluar itu, hutan sudah kurang makanan, makanya ke pemukiman. Tapi biasanya kalau musim pancaroba memang musimnya ular," timpalnya.

Atas fenomena saat ini, Bupati Muna LM Rusman Emba meminta para camat dan kepala desa mengidentifikasi kawasan rawan ular. Ia meminta, masyarakat tidak terlalu banyak beraktivitas di daerah yang rentan binatang berbahaya. "Kami koordinasi juga dengan TNI-Polri. Masyarakat diminta membasmi sarang ular, tapi dengan hati-hati," jelasnya.

Kapolres Muna AKBP Agung Ramos Paretongan Sinaga sendiri sempat melakukan penyisiran sarang ular di Kecamatan Lohia. Hasilnya, ditemukan lokasi yang diduga kuat menjadi tempat ular bersemayam. Dia mengimbau masyarakat senantiasa waspada dan menghindari masuk hutan yang rawan ular. "Kalau berkebun, jangan sendiri. Upayakan ada teman. Kita berharap kejadian ini yang terakhir," imbuhnya.

(fab/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up