JawaPos Radar

Mengintip Geliat Bisnis Lendir di Kota Wali, Didominasi Mahasiswi

23/02/2018, 23:42 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Prostitusi di Kota Wali
Ilustrasi praktek prostitusi di Kota Wali (istimewa)
Share this

JawaPos.com - Cirebon atau biasa dikenal sebagai kota udang, juga memiliki banyak spot wisata religi. Bahkan, bagi mayarakat muslim, Cirebon juga dikenal sebagai kota Wali. Karena ada makam Sunan Gunung Jati.

Namun, di balik predikat daerah yang kental dengan nuansa religius itu, juga marak bisnis lendir alias praktik prostitusi atau esek-esek.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Cirebon, tentu diimbangi dengan gaya hidup masyarakatnya. Imbasnya tempat hiburan malam pun kini tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Begitu juga bisnis esek-esek.

Namun yang menarik, bisnis lendir itu tidak lagi konvensional karena para pelaku bisnisnya sudah memanfaatkan kemajuan teknologi guna menarik calon konsumennya.

Tanpa malu-malu, lewat media internet yang bisa dikendalikan lewat smartphone, mereka secara terang-terangan menawarkan untuk berkencan lengkap dengan tarif per jamnya.

Dari penelusuran Pojokjabar (JawaPos Group) tarif per jamnya dimulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Komunikasi pun berlanjut dengan melalui WhatsApp (WA). Tujuannya untuk menentukan lokasi berkencan, ada beberapa tempat pilihan seperti hotel maupun tempat kosan.

Menurut pengakuan Ayu (bukan nama sebenarnya) dirinya selalu memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan karena lebih mudah dan menguntungkan karena tak harus memakai jasa germo.

Selain itu, wanita yang masih berusia 19 tahun ini merasa lebih aman aktif di media sosial ketimbang mangkal di tempat hiburan malam.

“Kalau mencari pelanggan pakai media sosial kalau udah sepakat deal baru kita bertukar nomer WA,” kata Ayu yang juga berstatus seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Cirebon.

Ayu juga mengaku, dalam sehari dirinya membatasi jadwal berkencan hanya tiga pelanggan saja. Alasanya takut bentrok dengan jadwal kuliah. Perempuan berkulit putih ini memasang tarif Rp 1 juta per jamnya. Jadi dalam sehari Ayu mampu mengumpulkan uang hingga Rp 5 juta sudah termasuk uang tips. Jika ‘pelayanannya’ dianggap memuaskan pelangan.

“Saya sehari cuma tiga pelangan, nggak lebih, kalau mereka puas biasanya bayarnya ngasih lebih, termasuk uang servis,” tutur Ayu tanpa malu-malu.

Ayu beralasan menjalani bisnis esek-esek ini lantaran butuh untuk membiayai kuliah serta pendidikan kedua adiknya. Bisnis ini sudah di jalaninya sejak setahun silam saat kedua orang tuanya bercerai.

Untuk menjaga keamanan agar tidak diketahui oleh orang lain, Ayu biasanya memilih pelanggan yang sudah berumur dan tidak pernah mau bila diajak kencan dengan umur yang sebayanya.

“Yah nikmati aja, saya kan butuh buat kuliah, sekolah adik, makan sehari-hari, kalau nggak gini cari di mana. Rasa takut ketahuan pasti ada, makanya saya milih-milih pelanggan, kalau umurnya sebaya sama saya, langsung saya tolak, saya carinya yang berumur karena nggak bakalan cerita ke mana-mana,” paparnya.

Belakangan ini, Ayu mengaku agak sulit mencari pelanggan karena banyak pendatang baru dan bersaing harga. Tidak hanya dari kalangan mahasiswi. Tapi juga anak SMA. Untuk itu, dia selalu berusaha memuaskan pelanggannya agar tidak lari ke pendatang baru.

“Sekarang kan mahasiswi sudah banyak. Belum persaingan dengan pendatang baru yang masih pada ABG, tarif juga lebih murah. Tapi kalau pelanggan udah puas ama kita, nggak bakal lari,” pungkasnya.

(dms/jpg/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up