JawaPos Radar

Melanggar Lalin di Bandung, Pengendara Akan Diteriaki Pengeras Suara

23/02/2018, 06:45 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Melanggar Lalin di Bandung, Pengendara Akan Diteriaki Pengeras Suara
Ruang Area Traffic Control System (ATCS) Dishub Bandung (Siti Fatonah/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung berinisiatif mengimbau para pengendara untuk tertib berlalu lintas. Namun, jika ada pengendara yang membandel di setiap persimpangan Kota Bandung akan diumumkan lewat pengeras suara di lokasi.

Operator Area Traffic Control System (ATCS) Dishub Bandung Robby Habibi mengatakan, suara yang terdengar di persimpangan merupakan operator ATCS. "Kami bersuara jika ada imbauan atau terlihat adanya pelanggaran di persimpangan," kata Robby saat ditemui JawaPos.com di Ruang ATCS Dishub Bandung, Kamis (22/2).

Robby bersama lima operator lainnya mengimbau kepada pengendara baik roda dua maupun empat yang melanggar. Setiap pengendara yang melanggar akan diumumkan di sound persimpangan. "Misal tidak pakai helm atau melebihi garis putih (zebra cross) di persimpangan itu," jelasnya.

Melanggar Lalin di Bandung, Pengendara Akan Diteriaki Pengeras Suara
Ruang Area Traffic Control System (ATCS) Dishub Bandung (Siti Fatonah/ JawaPos.com)

Tidak hanya imbauan saja, kata dia, melainkan adanya sanksi sosial karena si pengemudi yang melanggar akan malu disebut berulang kali jika terus mengabaikan. Beberapa inisiatif operator ATCS bagi si pelanggar yakni putar arah, diperintahkan untuk turun atau mundur.

"Kalau si pengendara masih bisa mundur maka mundur, tapi jika tiba-tiba datang dari belakang maka kita suruh putar balik, enggak pakai helm disuruh turun, kalau enggak ya kita suruh putar balik saja," ungkapnya.

Akan ada dua kerugian bagi pelanggar, ditambahkan dia, pertama malu karena diumumkan dan saksi untuk putar arah. "Itu kan ruginya dua kali, udah disuruh mundur, dikerjain, dicatat pula," ujarnya.

Namun pihak Dishub mengatakan inisiatif tersebut bukan untuk sekadar mempermalukan pengendara, melainkan mengingatkan akan keselamatan pribadi dan orang lain. "Ada juga yang berpendapat kalau di Indonesia harus dengan sanksi sosial. Kan kurang pas kalau hanya imbauan saja," tuturnya.

Tindakkan operator hanya untuk mengimbau bukan mempermalukan. "Menurut saya mah kalau mempermalukan bukan dari imbauan, kalau mau mah megatron saja dipasang di jalan," ucapnya.

Pendapatnya, kalau si pelanggar tidak akan jera jika hanya diimbau atau didenda, tapi harus dengan sanksi sosial. "Sok kalau susah dikasih tahu, zoom aja, siarin secara langsung, kan dia pun malu," sebutnya.

Jadi efek jera di Indonesia itu dipermalukan bukan dengan denda sekian rupiah. "Bayar sanksi beres weh, besoknya lakukan lagi. Kan kalau pake foto malunya nempel," pungkasnya.

Sejauh ini persimpangan jalan Moh. Toha menjadi tempat pelanggaran tertinggi di Kota Bandung. Dengan hadirnya 213 CCTV, sebanyak 74 dari 141 persimpangan yang sudah dilengkapi CCTV, maka lalu lintas Bandung mudah untuk di-monitoring.

(ce1/ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up