alexametrics

Miris! Ada Sekolah Berdinding Papan, Berlantai Tanah, Beratap Daun (1)

23 Januari 2019, 05:05:39 WIB

JawaPos.com – Memang benar, menuntut ilmu bisa dimana saja. Tapi kalau tidak dibarengi fasilitas memadai, tentu juga akan menjadi suatu hambatan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Misalnya bangunan SDN 45 Tatai di Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Kondisinya sungguh memprihatinkan, bahkan tak layak disebut sekolah.

SDN 45 Tatai hanya berdindingkan papan, berlantai tanah dan beratap daun. Tragisnya lagi, murid akan tertimpa air andaikan hujan turun. Lantaran atap-atap bangunan banyak yang bocor.

Begitu juga dengan kondisi ruang belajar, sangat jauh dari kata layak. Meja dan kursi belajar dibuat seadanya dari kayu.

Dengan tiang kayu bulat kemudian dipasang papan di atasnya. Kondisinya yang sudah berlangusung lama, sehingga banyak meja dan kursi tersebut rusak parah.

Papan tulis yang dipakai tiap hari juga tak jauh berbeda. White board-nya tampak usang dimakan usia. Dipaku di dinding depan ruang kelas, pinggir white board terlihat telah mengelupas.

Tentu kondisi ini sangat kontras sekali dengan bangunan sekolah-sekolah yang ada kota. Karena di kota ada yang bertingkat dua, berlantai porslen dan fasilitas-fasilitas lainnya sangat megah.

Tentu gambaran itu melihatkan, bahwa belum adanya pemerataan pendidikan, meski sudah 73 tahun Indonesia merdeka. Ketua Komunitas Mari Melihat, Syahrul Tri Ubargi mengatakan, pihaknya telah melakukan survei ke SDN 45 Tatai, Sabtu (12/1). Memang kondisi sekolah tersebut sangat memprihatinkan.

“Komunitas kita datang ke sana untuk survei, sekalian berencana akan melakukan bakti sosial di sekolah itu tanggal 21-24 Februari 2019,” kata dia dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (22/1).

Berdasarkan penyampaian pihak sekolah, bangunannya ada tiga lokal. Satu lokal yang dijadikan ruang guru kondisinya sudah disemen. Kemudian ada bantuan perpustakaan dari provinsi sebanyak dua lokal.

“Tapi bantuan itu dimanfaatkan jadi ruang kelas juga, karena memang kekurangan ruangan,” jelasnya.

SDN 45 Tatai selama 9 tahun ini berstatus sebagai kelas jauh. Baru enam bulan terakhir diresmikan menjadi SD Negeri. Sekolah tersebut terdapat 65 murid, satu guru ASN dan lima honorer. Sedangkan kelasnya lengkap dari 1 hingga 6.

“Sebagian besar warga dusun memang sekolah di sana. Hanya saja waktu hujan mereka tidak sekolah, disebabkan atapnya yang bocor,” terangnya.

Letak sekolah tersebut memang tidak jauh dari Dusun Tatai. Hanya 200 meter. Sedangkan dari pusat desa sekitar 1 jam. Meski dengan kondisi terbatas, sekolah tersebut memiliki keistimewaan tersendiri.

“Jadi, sekolah itu punya predikat green school atau sekolah berbasis lingkungan,” jelasnya.

Untuk membantu sekolah tersebut, Komunitas Mari Melihat sudah mengumpulkan donasi. Dana yang terkumpul rencananya akan digunakan untuk renovasi sekolah.

Salah satunya mengecor lantai bangunan sekolah serta memperbaiki atap yang bocor. Pihaknya juga membuka pendaftaran menjadi relawan.

“Mudah-mudahan donasi terkumpul sesuai target. Karena kami juga berencana memperbaiki WC dan membantu peralatan sekolah,” harap Syahrul.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Jpg



Close Ads
Miris! Ada Sekolah Berdinding Papan, Berlantai Tanah, Beratap Daun (1)