alexametrics

Wali Kota Malang Sutiaji Jelaskan Soal Larangan Perayaan Natal

22 Desember 2018, 16:26:26 WIB

JawaPos.com – Beberapa hari terakhir, netizen sempat dihebohkan adanya Surat Edaran terkait Imbauan Perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di Kota Malang. Dalam surat tersebut terdapat poin yang diduga menyudutkan umat Kristiani. Yakni dengan tidak mengadakan pesta perayaan Natal secara demonstratif. Surat edaran tersebut menjadi viral setelah diunggah dalam akun Facebook bernama Wahyu Eko Setiawan.

Surat Edaran Wali Kota Malang nomor 730/4146/35.73.406/2018 tertanggal 17 Desember itu berisi lima poin. Pada poin nomor dua disebutkan, bagi warga yang mengadakan pesta perayaan Natal dan tahun baru tidak dilakukan secara demonstratif yang mengganggu perasaan umat lain dan mengganggu ketertiban umum serta menyampaikan pemberitahuan kepada pihak terkait sesuai ketentuan yang berlaku.

Penggunaan kata ‘demonstratif’ itu kemudian dimaknai sebagai upaya membatasi perayaan yang digelar umat Kristiani. Akun Wahyu Eko Setiawan itupun mengkritisi isi surat. “Tapi ketika ada umat beragama lainnya yang hendak merayakan Hari Raya Natal, sudah dilarang menyelenggarakannya secara demonstartif. Bahkan sudah dituduh mengganggu perasaan umat lain,” tulisnya.

“Dan parahnya, tuduhan laknat itu dilegalkan melalui surat imbauan oleh Wali Kota Malang,” lanjutnya. Postingan itu mendapatkan respons beragam dari netizen yang sebagian besar merupakan warga Malang. Ratusan komentar membanjiri unggahan itu.

Menanggapi polemik yang terjadi, Wali Kota Malang Sutiaji segera menggelar rapat koordinasi khusus. Dalam rapat tersebut hadir jajaran Forum Kerukunan Antar-umat Beragama (FKAUB) Kota Malang, perwakilan pengurus gereja-gereja, tokoh masyarakat, serta Forkopimda Kota Malang.

Dalam paparannya, Sutiaji menegaskan bahwa Pemkot Malang sangat menghargai nilai-nilai pluralisme serta semangat kebersamaan dalam harmonisasi kehidupan beragama. “Diksi (kata) demonstratif dalam poin tersebut tidak dalam konteks melarang untuk merayakan dan juga menyemarakkan Natal. Namun lebih pada klausul agar para pelaku usaha tidak memaksa atau mengharuskan karyawan yang berbeda keyakinan untuk menggunakan atribut-atribut Natal,” jelas Sutiaji.

Sutiaji juga menerangkan bahwa dirinya termasuk Presidium FKAUB. Dia juga telah berkoordinasi dengan perwakilan-perwakilan gereja. “Saya selalu beranggapan, orang beragama itu merupakan privasi masing-masing. Kami harus menjunjung tinggi dan menghargai privasi orang,” tegasnya.

Sutiaji akan turun langsung untuk mengecek keamanan di gereja-gereja pada momen Natal. “Saya akan berkeliling pada momen Natal tahun ini. Dalam sehari mengunjungi dua atau tiga gereja dulu. Karena ini adalah bagian yang tidak dipisahkan dari Kota Malang. Sebagai bagian dari masyarakat Malang,” jelasnya.

Pria yang juga pengurus PCNU Kota Malang itu mengimbau kepada seluruh pihak agar ikut berperan dan bergandengan tangan menjaga perdamaian yang telah terbangun berabad lamanya. “Saya harus hadir, dipahamkan ke semua. Saya hadir ingin merepresentasikan bahwa wali kota ini bapaknya orang Malang yang mengayomi semua. Saya tidak akan pernah mendiskreditkan,” tuturnya.

Sutiaji pun meminta maaf atas kesalahpahaman yang ada pada surat edaran tersebut. “Jika ada salah paham atas kata demonstratif itu, saya mohon maaf. Saya ingin Malang yang sudah kondusif ini terjaga. Gereja dan masjid berdiri berdampingan tidak masalah,” pungkasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (fis/JPC)


Close Ads
Wali Kota Malang Sutiaji Jelaskan Soal Larangan Perayaan Natal