alexametrics
Kaleidoskop 2018

Harimau yang Menampakan Diri Selama 2018, Dua Orang Tewas Diterkam

22 Desember 2018, 14:31:07 WIB

JawaPos.com – Interaksi harimau dan manusia memakan korban jiwa. Sedikitnya dua orang tewas diterkam harimau pada 2018 lalu. Sepanjang 2018, Harimau Sumatera tercatat 6 kali menampakkan diri dan masuk ke daerah perkebunan warga di beberapa daerah di Riau.

Dari data yang dihimpun, penampakan satwa dilindungi itu terjadi di 5 kabupaten diantaranya, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, Kuantan Singingi dan Kampar.

Begini rangkuman peristiwa kehadiran harimau di sejumlah wilayah di Indonesia:

Harimau yang Menampakan Diri Selama 2018, Dua Orang Tewas Diterkam
Harimau Sumatera yang diberinama Bonita menerkam dua warga hingga tewas (istimewa)

Si Bonita, Harimau yang Menewaskan 2 Pekerja

Dari kemunculan satwa yang disebut Datuk ini, yang paling menggegerkan adalah kemunculan Bonita. Sebab, harimau berjenis kelamin betina berusia diatas 4 tahun tersebut, telah menewaskan dua pekerja kebun sawit di Dusun Danau, Kecamatan Pelangiran, Inhil. Mereka adalah Jumiati dan Yusri.

Tenaga dan pikiran petugas BBKSDA Riau terkuras, hingga harus melibatkan ahli suara satwa dari Kanada, Shakti Wolvers Teeg dan tim penembak jitu dari kepolisian. Selain itu, proses evakuasinya memakan waktu lebih dari 100 hari.

Selama itu, banyak warga yang takut keluar rumah, anak-anak sekolah terpaksa diliburkan. Aktifitas menjadi lumpuh karena Bonita sering masuk ke pemukiman dan bertatapan langsung dengan warga.

Menurut Kepala Bidang I BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo mengatakan, Bonita sudah berkategori wajib dievakuasi. “Perilakunya berubah total dari liar menjadi satwa jinak tapi mematikan. Bonita tak takut bertemu manusia karena mendekat lalu mengejarnya,” jelasnya.

Setelah kerja keras dari semua pihak, akhirnya pada April lalu Bonita berhasil ditangkap. Ia kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar). Dari hasil pemeriksaan dokter hewan, Bonita disebut pernah melahirkan anak. Kemudian ia juga menderita tumor jinak di sekujur tubuhnya. Kini, Bonita masih dalam tahap observasi menjelang dilepasliarkan.

Harimau Bernama Boni

Bersamaan dengan kemunculan Bonita, ada seekor harimau lainnya juga yang nampak oleh masyarakat maupun kamera pengintai. Ia diberi nama Boni. Hanya saja, Boni masih liar dan selalu mengelak ketika berjumpa manusia. Boni tak sampai meneror warga seperti Bonita, sehingga dianggap tidak perlu dievakuasi.

Kabar Kemunculan Si Datuk Belang

Di samping itu, setelah Bonita ditangkap, kabar kemunculan Datuk Belang berhembus di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Kesaksian warga, ada dua individu muncul diperkirakan induk dan anaknya yang sedang mencari makan.

Kemunculan di Desa Lugu Loga itu terjadi 9 April 2018. Lokasi ini berdekatan dengan Kecamatan Pelangiran, tempat Bonita dan Boni muncul. Lokasi ini juga berbatasan dengan Kerumutan yang menjadi tempat suaka margasatwa dan didiami kelompok harimau.

“Di sini, ditemukan jejak kaki dengan ukuran berbeda. Diduga ada indukan dan anakan yang muncul karena sedang mencari makan,” kata Hutomo.

Setelah di Pelalawan, harimau kembali meresahkan warga Desa Sialang Jaya, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu. Datuk Belang ini muncul pada pertengahan Mei 2018 lalu. Ia sempat berkeliling di arel perkebunan sawit selama beberapa hari.

Penampakan satwa dilindungi ini, bermula dari laporan sekuriti perusahaan bernama Syahrial yang menyebut bahwa, ada seekor harimau berkeliaran tepatnya di perbatasan Kecamatan Lirik dan Air Molek.

Harimau itu kini sudah tak ada lagi kabarnya. Besar kemungkinan, satwa tersebut kembali masuk ke habitatnya atau mencari lokasi lain yang masuk ke wilayah jelajahnya.

Harimau di Desa Koto Tuo

Selanjutnya, pada pertengahan Juli 2018, giliran harimau di Desa Koto Tuo, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, yang menunjukkan belangnya. Dia muncul di perkebunan karet dan sempat bertemu petani. Namun, harimau tersebut menjauh.

Temuan jejak juga menguatkan kemunculan harimau tersebut. Setelah mendapatkan informasi, petugas BBKSDA lalu ke lokasi untuk memasang kamera pengintai, serta memasang jerat berbentuk kandang lengkap dengan umpan kambing.

“Ada tiga kamera yang dipasang di lokasi temuan jejak harimau,” kata Kabid Wilayah II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro saat itu.

Hanya saja, jerat itu tak diliriknya. Tiga kamera yang dipasang juga tak berhasil merekam penampakannya hingga akhirnya dilepas kembali. Hingga kini, harimau itu tak lagi ada kabarnya karena kembali masuk ke hutan.

Harimau di Kuantan Singingi

Kemudian ada kabar yang paling menyedihkan. Sebab seekor harimau di Kuantan Singingi tewas terkena jerat di tepi jurang perbatasan antara Desa Muara Lembu dan Pangkalan Indrarung. Dari hasil pemeriksaan petugas, harimau ini sedang mengandung dua janin yang diprediksi beberapa pekan lagi akan lahir.

Dalam kasus ini, Kepala BBKSDA Riau Suharyono menyatakan, menangkap seorang warga di lokasi karena dicurigai memasang jerat maut itu. Kasus ini tengah ditangani Balai Gakkum Wilayah II Sumatera.

Seekor Harimau Sumatera ditemukan mati tergantung di pinggir jurang di Muara Lembu, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Pinggangnya terlilit tali nilon yang diduga jerat babi hutan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono menyebut, bangkai harimau dewasa betina itu sudah dievakuasi petugas. Bangkainya sudah dibawa ke Pekanbaru untuk dikuburkan. Kaki dan bagian pinggang terbelit nilon dari jerat babi yang terpasang di lokasi.

Harimau Bernama Atan Bintang

Terakhir, yang tak kalah menyita perhatian publik dan pecinta satwa adalah, kemunculan harimau jantan yang diberi nama Atan Bintang. Kehadirannya di tengah-tengah pemukiman masyarakat Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi sorotan.

Atan Bintang terjebak di kolong ruko warga pada pertengahan November lalu. Sebelum itu, Atan sempat merusak kandang ternak dan menerkam sekitar 4 ekor ternak warga.

Petugas BBKSDA juga memasang jerat berupa kandang lengkap dengan umpan dan kamera pengintai. Lalu jerat dan kamera dibuka kembali karena Atan Bintang tak kunjung masuk perangkap.

Akhirnya, pertualangan Atan Bintang berakhir setelah terjebak di kolong ruko di pasar pada 14 November 2018. Proses evakuasi Atan Bintang berlangsung hingga 17 November 2018 dini hari. Setidaknya, ada dua kali tembakan bius yang dilakukan dokter hewan dari BBKSDA Riau beserta tim medis ke badan Atan.

Percobaan pertama gagal karena Atan kian jauh masuk ke lorong ruko. Upaya kedua berhasil setelah petugas melobangi sejumlah lantai ruko. Sebagiannya terpaksa dijebol begitu Atan tak sadarkan diri usai terkena tembakan bius.

Kini, Atan menjadi penghuni baru di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya Sumatera Barat bersama Bonita. Atan menjalani tahap observasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke lokasi yang dipilih BBKSDA Riau.

Menurut Suharyono, harimau masuk ke pemukiman disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, hutan yang dulunya tempat mencari makan serta berkembang biak berubah menjadi perkebunan yang membuatnya tidak nyaman.

“Fragmentasi hutan sangat berpengaruh kepada pakannya. Diapun keluar karena di habitat aslinya jarang ditemui pakan,” kata Suharyono.

Faktor lainnya adalah daerah jelajah. Setiap harimau punya kawasan untuk mencari makan. Berubahnya hutan menjadi kebun dan dibangun pemukiman membuat harimau masuk ke sana.

“Dulunya hutan lalu mencari makan, ternyata sudah ada pemukiman. Seperti di pasar itu, sekitarnya termasuk kawasan jelajahnya,” kata Suharyono.

Suharyono memastikan, harimau tidak akan keluar dari habitatnya kalau pakannya cukup. Dan harimau termasuk satwa yang memangsa sesuatu sesuai dengan kebutuhan hidupnya. “Harimau tidak akan menumpuk makanan dan dia selalu makan secukupnya,” pungkasnya.

Harimau Muncul di Pemukiman Batu Busuk

Kemunculan Harimau Sumatera membuat geger warga di pemukiman Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Harimau yang diperkirakan dua ekor itu dilaporkan telah memangsa sejumlah hewan ternak warga.

Informasi yang didapat, satwa liar dilindungi itu sudah menampakkan diri ke pemukiman warga sejak sepekan lalu. Harimau ini pertama kali dilaporkan salah seorang warga yang hendak pulang dari ladangnya.

“Kemunculan Harimau ini sangat meresahkan. Apalagi bagi yang pergi ke ladang. Anak sekolah saja hari ini takut turun pergi sekolah,” kata Ketua RT IV RW III Kelurahan Lambung Bukik, Abdurrahman pada sejumlah wartawan di Padang, Kamis (16/8).

Sementara itu, Ketua RW III, Januar Z menduga, kehadiran harimau itu karena masyarakat melanggar pantangan yang menjadi kepercayaan masyarakat. Yakni, tidak diperbolehkan mendirikan bangunan pondok di atas batang kayu yang sudah ditebang.

“Jangankan membuat pondok, duduk saja di atas pokok kayu yang ditebang tidak boleh. Untuk itu, warga kembali merobohkan pondok itu. Kami berharap dengan menghindari larangan itu, harimau pergi dan tidak muncul lagi,” katanya.

Di sisi lain, Harimau tersebut juga dilaporkan telah memangsa sejumlah ternak masyarakat. Seperti yang dialami warga bernama Yohanas. Menurutnya, tiga ekor kambing dan sejumlah itiknya telah dimangsa Harimau. Terakhir terjadi dini hari Kamis (16/8), Harimau diduga memakan se ekor kambing betina miliknya.

“Sebelumnya anak kambing juga sudah dimangsa. Kalau itik entah berapa ekor,” kata Yohannas.

Untuk menjaga keselamatan ternak, terang Yohanas, dia bersama warga sekitar sempat berjaga-jaga di lokasi kandang ternak masing-masing. Sayangnya, kehadiran warga tidak membuat Harimau menjauh, bahkan justru memperlihatkan diri dan terus berkeliaran.

“Yang membuat kami resah, harimau ini tidak takut dengan kehadiran kami. Kadang duduk di bawah jemuran, melintas di balik rumpun pisang. Paling sekitar lima meter dari kami. Kami usir, namun tidak mau lari. Tingginya sepinggang, panjangnya lebih dari semeter,” sebutnya.

Anas yang mengerti aturan, tidak mau menyakiti hewan dilindungi tersebut untuk mengusir. Namun, dia berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap ternaknya yang sudah mati dimangsa. “Kalau dibunuh tentu saya melanggar, saya tau hewan ini dilindungi. Saya harap ada perhatian dari pemerintah,” katanya.

Harimau Bernama Si Bujang Ribuik

Lima hari setelah ditangkap, seekor harimau Sumatera yang sempat membuat resah masyarakat masih berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD). Harimau itu ditangkap di kawasan Karang Putih Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar), Erly Sukrismanto, kondisi harimau berjenis kelamin jantan itu dalam keadaan fit dan baik. Namun, untuk melepaskan liarkan harimau tersebut perlu menunggu waktu dan lokasi yang tepat.

“Untuk lepas liar, nanti kami infokan. Masih mencari lokasi yang tepat,” kata Erly saat dihubungi JawaPos.com, Senin (3/9).

Erly mengatakan, harimau yang sudah membuat resah dengan memakan hewan ternak masyarakat itu sudah diberi nama. Karena tindakannya, harimau yang diperkirakan berusia sekitar 1 tahun itu diberi nama Bujang Ribuik (Ribut).

Pihaknya berharap, segera mendapatkan lokasi yang tepat untuk mengembalikan satwa dilindungi itu kembali ke habitatnya. “Semoga tidak lama. Sekitar dua mingguan sampai 1 bulan,” bebernya.

Sebelumnya, petugas BKSDA Sumbar bersama masyarakat berhasil menangkap seekor harimau Sumatera, Selasa (28/8) malam. Harimau yang sempat beberapa sebelum ditangkap memangsa hewan ternak warga itu, terpantau melintas di kawasan penangkapan, Karang Putih Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang.

Agar tidak mengancam keselamatan nyawa, harimau jantan berusia muda itu terlebih dahulu dilumpuhkan dengan cara di bius. Setelah itu, harimau di angkut ke kantor BKSDA Sumbar untuk pemeriksaan kesehatan. Sehari setelahnya, harimau dikirim ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD).

Teror Macan Tutul di Karanganyar

Akhir Oktober lalu, warga Tawangmangu, Karanganyar digemparkan dengan adanya hewan buas yang diduga macan tutul. Dalam dua hari terakhir, hewan buas tersebut telah membunuh sejumlah kambing milik warga. Kejadian ini berlangsung pada Selasa (30/10) malam sekira pukul 24.00 WIB. Kejadian pertama menimpa Karto Wagiyo,65 warga Sendang, Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu.

Sedikitnya ada lima ekor kambing milik Karto mati diterkam macan tutul. Empat diantaranya mati di kandang, sedangkan seekor lainnya dibawa macan ke hutan. Kejadian ini kali pertama diketahui Karto saat dirinya hendak memberi makan pada Rabu (31/10) pagi. Saat itu dia mendapati empat ekor kambing sudah mati dengan keadaan mengenaskan. Ada bekas gigitan hewan buas di bagian leher.

Kejadian kedua terjadi pada Rabu (31/10) sekira pukul 23.00 WIB. Kali ini yang menjadi korban adalah kambing milik Arjo Paimin,50, warga Sendang, Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu. Kejadian diketahui Arjo saat dirinya berada di rumah. Waktu itu, Arjo mendengar suara berisik yang berasal dari kandang kambing yang berada di sebelah timur rumahnya.

Setelah dilakukan pengecekan, Arjo mengaku melihat seekor macan tutul sudah berada di dalam kandang. Sementara, ada tiga ekor kambingnya yang sekarat. Plt Kapolsek Tawangmangu, Iptu Ismugiyanto, membenarkan adanya laporan tersebut. Tetapi, pihaknya belum bisa memastikan apakah hewan buas yang dimaksud warga adalah benar harimau atau tidak.

Setelah sempat menghilang beberapa lama, teror macan tutul ternyata tidak berhenti di wilayah Tawangmangu saja. Tetapi, juga terjadi di wilayah lain di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Blanten RT 01, Desa Wonorejo, Jatiyoso. Jumlah kambing yang mati karena hewan buas ini bahkan sangat banyak yakni mencapai 18 ekor. Kambing tersebut milik beberapa warga. Kondisi ini pun membuat warga, terutama para pemilik kambing mulai resah. Mereka khawatir kambing-kambing mereka akan dimangsa oleh macan tutul tersebut.

Untuk mengamankan hewan ternak warga, kepolisian, TNI dan relawan melakukan jaga malam. Selain itu, warga juga membunyikan meriam tradisional yang terbuat dari bambu. Kapolsek Jatiyoso, Iptu Subarkah mengungkapkan, empat hari setelah kejadian macan tutul memangsa puluhan kambing milik warga, jumlah personel yang disiagakan terus bertambah.

Subarkah juga mengatakan, membunyikan meriam bambu dinilai cukup berhasil untuk menghalau macan tutul sehingga tidak kembali turun ke permukiman warga. Terbukti, sejak meriam tersebut dibunyikan tidak ada lagi macan tutul. Sementara untuk penanganan lebih lanjut mengenai keberadaan hewan buas di lereng Lawu, Subarkah mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Surakarta.

Setelah sempat menghilang, teror macan tutul kembali terjadi di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng). Kali ini serangan macan tutul beralih di Dusun Pondok Pengkok, RT 001 RW 001, Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso. Serangan macan tutul yang terjadi pada Sabtu (1/12) dini hari. Akibatnya dua ekor kambing milik warga mati dengan luka di lehernya.

Kasi Konservasi balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Surakarta, BKSDA, Titi Sudaryanti mengatakan, ancaman macan tutul mulai bergeser ke lokasi lain. Mengingat, di desa sebelumnya penjagaan terus dilakukan. Sehingga, macan tutul mencari lokasi yang tidak dijaga.

Jarak antara lokasi pertama yang didatangi itu lebih kurang 15 kilometer. Untuk mengantisipasi ancaman macan tutul, BKSDA memasang perangkap. Tetapi, macan tutul berhasil menghindar sehingga tidak ada macan tutul yang masuk dalam perangkap.

3 Macan Tutul di Garut

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyebutkan masih ada tiga macan tutul di kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang Kecamatan Cibalong, Garut.

“Dari hasil tangkapan kamera kami, masih ada tiga macan tutul yang berkeliaran di Leuweung Sancang itu,” ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah III Garut Himawan Sasongko kepada wartawan di kantornya Jumat (23/11).

Dari hasil pemantauan, ketiga macan tersebut yakni satu jantan dan dua betina. Ketiga binatang buas ini berada di area tengah hutan.

“Jumlah itu baru hasil survei kecil saja, tetapi diperkirakan jumlahnya lebih dari itu jika dilakukan survei besar,” terangnya.

Himawan mengatakan saat ini pemantauan satwa terus dilakukan untuk mengetahui jumlah populasinya. Ia berharap jumlah macan tutul bisa lebih banyak.

“Perlu ada pemantauan lagi. Sekarang baru diketahui ada tiga. Semoga saja masih ada lagi,” katanya.

Selain macan tutul, lanjut dia, owa jawa dan lutung masih banyak ditemui di kawasan Sancang. Keberadaan satwa itu jadi patokan tentang kondisi alam di Sancang.

Sancang juga dikenal dengan keberadaan banteng. Namun BKSDA mengaku belum memiliki data terakhir. Masih banyak misteri yang harus dikuak dari hutan seluas 2.300 hektare itu.

“Banteng itu belum punya data terakhir. Mudah-mudahan masih ada. Masih banyak yang belum tergali,” ucapnya.

Keanekaragaman satwa itu, tambah dia, diharap bisa melestarikan cagar alam. Apalagi untuk pertama kalinya, Sancang dijadikan tempat pelepasliaran elang.

“Jika ada satwa lain yang mau dilepasliarkan di sini bisa dibahas bersama. Dilepaskannya elang di sini juga berdasar hasil kajian,” katanya.

Bukan hanya satwa, kata dia, Leuweung Sancang juga memiliki keanekaragaman hayati. Hutan mangrove di Sancang seluas 270 hektare merupakan yang terbaik di pesisir selatan Jabar.

“Ada 100 lebih varietas tanaman di Hutan Mangrove-nya,” paparnya.

Kemuculan Harimau di Kerinci

Masyarakat Pendung Semurup dan Kemantan, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci, Minggu (05/08) malam kemarin, dihebohkan dengan kemunculan seekor Harimau yang melintas di ruas jalan perbatasan dua desa tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun, kejadian tersebut diketahui saat salah satu warga melintas di ruas jalan itu. Namun dari kejauhan, ia melihat Raja Hutan itu melintas dan langsung lari menuju sawah warga.

Tibar, salah seorang warga Pendung Semurup dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan sekitar pukul 21.30 Wib, ada warga melihat harimau yang melintas di jalan dan lari ke dalam sawah.

Dikatakannya lagi, pihaknya telah melaporkan ke petugas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). “Ya tadi malam warga langsung melaporkan ke KPHP dan Kehutanan, dan Tim langsung turun ke lapangan bersama dengan masyarakat melakukan pencarian,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci, Neneng, dikonfirmasi membenarkan adanya laporan masyarakat terkait adanya harimau yang berkeliaran dipersawahan warga Pendung Semurup.

“Iya tadi Minggu malam sekitar pukul 22.00 Wib kita mendapatkan laporan dari Kades, kita langsung turunkan tim ke lokasi,” katanya seperti dikutip Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Selasa (7/8).

Dikatakannya lagi, langkah yang diambil yakni memerintahkan anggota ke lapangan, mencari bukti di lapangan dengan mencari dan meyelusuri seluruh sawah dan pemukiman masyarakat di Pendung Mudik dan Kemantan. Namun, anggota tidak menemukan bukti yang valid. “Kami tidak mendapkan tanda-tanda di lapangan, seperti jejak harimau maupun bukti yang lain,” sebutnya.

Sementara itu, Putra salah seorang anggota KPHP Kerinci yang berada di lapangan saat dikonfirmasi mengatakan tim telah menyelusuri seluruh sawah dan pemukiman masyarakat di pendung mudik dan kemantan.

Namun sampai Senin sore pukul 15.00 Wib anggota tidak menemukan jejak harimau. “Jika memang harimau itu masuk sawah, pasti ada jejaknya disana, namun kita tidak menemukan jejak sama sekali disana,” sebutnya.

Dia meminta kepada masyarakat Pendung Mudik dan Kemantan yang melihat dan menemukan jejak harimau, untuk melaporkan ke petugas. “Bagi warga yang melihat silakan laporkan,” pungkasnya.

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : (apl/bew/sar/ica/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Harimau yang Menampakan Diri Selama 2018, Dua Orang Tewas Diterkam