JawaPos Radar

2018, Sumbar Genjot Ekspor Rendang

22/12/2017, 00:22 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Rendang
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno memberikan paparan dalam pertemuan tahunan di Kantor Perwakilan BI Sumbar, Kamis (21/12) (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sumatera Barat (Sumbar) berhasil melewati 2017 dengan perekonomian stabil. Kondisi tersebut ditopang mulai dari belanja masyarakat yang terjaga, pengeluaran pemerintah yang tak tersendat, hingga perbaikan komoditas dagang seperti sawit dan karet.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, permasalahan ekonomi di Sumbar dari tahun ke tahun sebenarnya tergolong seragam. Sebagai daerah yang tidak bergantung pada komoditas pertambangan dan migas, Sumbar cenderung terbiasa dengan roda ekonomi yang didorong konsumsi rumah tangga.

"Sumbar ini agraris, di mana pertumbuhan memang tak akan tinggi betul. Tapi ketika ada gejolak tidak juga akan anjlok betul," jelas Irwan dalam pertemuan tahunan Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, Kamis (21/12).

Demi menjaga roda pertumbuhan ekonomi pada 2018 terang Irwan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar akan fokus pada perbaikan kinerja perdagangan, investasi, dan pengelolaan inflasi daerah.

Sementara dari sisi investasi, Sumbar memang "jor-joran" menawarkan pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan. Terakhir, inflasi dijaga dengan mengelola pasokan agar cukup menutup permintaan.

"Soal inflasi ini, kami seriusi dengan koordinasi dengan pemda. Suplai harus terjaga. Masalah perekonomian kami ini nggak ada yang baru. Topiknya sama saja. Tinggal mau ditindaklanjuti atau enggak," ujar Irwan.

Di sisi lain, Pemprov Sumbar juga bakal menjadikan salah satu olahan kuliner rendang Minang sebagai komoditas ekspor unggulan. Ide ini muncul untuk menanggapi masukan dari sejumlah mitra di luar negeri yang menginginkan pasokan rendang yang bisa bertahan lama.

Irwan mengatakan, animo pecinta kuliner di luar negeri terutama Eropa terhadap rendang cukup tinggi. Pemprov Sumbar akan melakukan kajian kuliner agar rendang bisa bertahan hingga 1,5 tahun lamanya. Masa kedaluwarsa yang cukup lama memang dibutuhkan agar rendang bisa menjangkau pasar dunia. "Importir di luar negeri sudah sampaikan minat mereka kepada kami," ungkap Irwan.

Peluang ekspor rendang akan diseriusi lantaran perbaikan kinerja perdagangan Sumbar mulai menunjukkan perbaikan. Momentum pertumbuhan ekonomi yang stabil akan dimanfaatkan untuk menambah satu komoditas unggulan ekspor, yakni rendang. Irwan mengaku masih melakukan penjajakan untuk merengkuh pasar ekspor.

"Orang Eropa misalnya, mau beli rendang nggak tahu ke mana. Biarlah kami di Sumbar yang masak hingga 8 jam. Kemudian kami kirim ke negara tujuan ekspor," ujar Irwan.

Pamor rendang semakin tinggi setelah beberapa kali dinobatkan sebagai olahan kuliner terlezat di dunia oleh sebuah media internasional. Rendang mengalahkan berbagai sajian kuliner yang lebih dulu tenar. Seperti sushi dari Jepang, kimchi Korea Selatan, bahkan pizza Italia. "Rendang makanan terlezat dunia. Namun stok di negara lain tidak ada," tutup Irwan.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up