JawaPos Radar

Diejek 'Rombongan Gajah' Pelaku Habisi Muhajir dan Keluarganya

22/10/2018, 19:29 WIB | Editor: Budi Warsito
Diejek 'Rombongan Gajah' Pelaku Habisi Muhajir dan Keluarganya
Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto memaparkan kasus pembunuhan Muhajir, manajer PT Domas bersama istri dan anaknya. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Kasus pembunuhan sadis terhadap Manajer PT Domas, Muhajir, istri, dan anaknya akhirnya menemukan titik terang. Polisi berhasil meringkus empat tersangkanya. Satu di antaranya tewas ditembak.

Dua tersangka yang hidup dipaparkan di hadapan awak media di depan instalasi jenazah Rumah Sakit Bhayangkara, Senin (22/10).

Kapolda Sumaera Utara (Sumut), Irjen Agus Andrianto, yang langsung memaparkan kasus itu mengatakan, empat tersangka yang ditangkap antara lain DN, AH (sebelumnya AG), R, dan Y. Polisi mengabarkan jika AH yang tewas ditembak.

Agus menjelaskan, motif para pelaku nekat membunuh korban karena dendam. Pelaku AH merasa dendam karena kerap kali diolok-olok oleh korban. "Diduga korban mengejek tersangka AH dengan sebutan 'rombongan gajah'," kata Agus.

Sesuai dengan penuturan para pelaku, ternyata mereka juga membalas ejekan Muhajir dengan menyebut korban sebagai 'tuyul'.

"Kalau dibilang almarhum (korban) ke AH: Pasukan gajah wis teko. Artinya, pasukan gajah sudah datang," kata tersangka R saat ditanyai Kapolda Sumut.

Tersangka AH pun dendam. Dia mendatangi rumah korban di Dusun III Gang Rambutan, Desa Bangun Sari, Tanjung Morawa, Selasa (9/10). Korban tidak curiga. Karena pelaku masih terbilang tetangga.

Dari penyidikan diketahui, modus yang dilakukan tersangka yakni ingin meminjam uang kepada Muhajir. Begitu masuk ke rumah, tersangka langsung memukul kepala korban Muhajir dengan batu bata.

Tersangka R kemudian masuk. Muhajir diikat dengan lakban. Begitupun Suniati dan Sholihin sang anak. "Ketiga korban dikumpulkan di ruang tamu dan dijaga tersangka R," ujarnya.

AH kemudian mengambil mobil yang dikendarai DN. Korban pun dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke arah jembatan di wilayah Kecamatan Talun Kenas, Deli Serdang. Ketiganya langsung dibuang dalam kondisi kaki dan tangan terikat lakban.

Para korban diduga masih hidup saat dibuang. Karena sempat ditemukan pasir di dalam paru-paru korban saat diotopsi.

R dan AH kemudian melarikan diri ke Pekanbaru. Mereka diringkus pada Minggu (21/10) sekira pukul 17.30 WIB. Saat diringkus, AG mencoba melawan petugas. Tembakan diletuskan dan menerjang tubuhnya. Dia roboh dan akhirnya tewas.

"AH menyerang personel yang mengendarai mobil dengan cara mencekik dengan kondisi tangan tersangka terborgol," ujar Agus.

Tak hanya AH, R yang dibawa dengan mobil lainnya juga ingin melarikan diri. R pun diberi tindakan tegas di kaki. Sebelum meringkus R dan AH, polisi telah menangkap DN yang berperan membantu membawa ketiga korban.

Kemudian ada satu tersangka lagi yang ditangkap berinisial Y. Dia diduga berperan sebagai penyimpan senjata yang digunakan untuk menghajar korbannya.

Sebelumnya, Muhajir, 49, bersama Suniati, 50, serta anak mereka M Solihin, 12, dilaporkan hilang. Ketiganya raib dari rumah mereka sejak Selasa (9/10). 

Desy Rahmawati, sang anak sulung yang tahu pertama kali keluarganya hilang. Muhajir terakhir terlihat Senin (8/10) malam. Keesokan paginya, Desy mencoba menelepon orang tuanya. Namun berkali-kali panggilannya tak mendapat jawaban.

Desy pun mendatangi kediaman orang tuanya. Di dalamnya kosong. Jasad Muhajir yang pertama kali ditemukan, Kamis (11/10). Dia dibuang di aliran Sungai Belumai, Deliserdang. Tiga hari kemudian giliran adiknya, Sholihin, yang ditemukan tidak jauh dari lokasi.

Jasad yang diduga Suniati ditemukan terakhir. Tepatnya pada Selasa (16/10) di Perairan Batubara. Dia ditemukan bersama jasad lainnya yang sempat diduga sebagai korban pembunuhan itu. Nyatanya tidak. Itu jasad lain yang tidak berkaitan dengan pembunuhan sadis tersebut. 

(ce1/pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up