JawaPos Radar | Iklan Jitu

Misteri Kematian Prajurit Marinir Surabaya

Ahli Forensik: Hasil Otopsi Sulit Dijadikan Pertimbangan

22 September 2018, 20:30:59 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Ahli Forensik
Sekjen Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia Ferryal Basbeth saat ditemui JawaPos.com di Universitas Airlangga, Sabtu (22/9). (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kasus kematian Kelasi Kepala (KLK) Achmad Halim Mardyansyah memasuki proses otopsi, Sabtu (22/9). Saat ini, prosesnya belum membuahkan hasil. Ahli forensik pun berpendapat prosesnya akan sulit dan lama. 

Faktor utama yang menjadi hambatan adalah terkait waktu kematian. Pasalnya jenazah korban yang ditemukan tewas tergantung di halaman belakang Detasemen Perbekalan Pangkalan Marinir (Denbek Lanmar) Karang Pilang sudah berumur 2 minggu lebih.

Sekjen Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia Ferryal Basbeth mengatakan, dengan rentan waktu 2 minggu, tentu jenazah sudah mengalami pembusukan. Proses pembusukan itu yang akan menyulitkan upaya deteksi bekas luka memar dan lebam yang terlihat di tubuh jenazah Halim. 

Ahli Forensik: Hasil Otopsi Sulit Dijadikan Pertimbangan

"Kondisi jenazahnya pun berbeda jika ditemukan hanya beberapa jam selang kematian. Nah, itu perlu pemeriksaan patologi anatomi yang mendalam," kata Ferryal saat ditemui JawaPos.com di Universitas Airlangga, Sabtu (22/9).

Menurutnya, tanda luka dan lebam di tubuh korban, dapat dipastikan terjadi saat korban masih hidup. Hal itu merupakan pertahanan atau reaksi tubuh yang masih bernyawa saat terkena trauma fisik.

Beberapa bentuk pertahanan tubuh yang akan melawan saat terjadi trauma misalnya, pembuluh darah pecah, pendarahan dalam, atau bengkak. Namun, Ferryal tidak mengatakan jika ada kemungkinan si korban disiksa dahulu lalu tewas atau sebaliknya. 

"Kalau sudah mati, ditabok pun, nggak akan ada reaksi (bekas) yang muncul. Tapi kalau saat tewas masih dalam golden periode (masa saat sel tubuh masih hidup meski nyawa sudah melayang) masih mungkin ada bekas trauma di tubuh," jelas Ferryal. 

Oleh sebab itu, Ferryal menilai hasil otopsinya pun akan semakin sulit untuk dijadikan bahan pertimbangan. Termasuk, hasil otopsi yang akan menentukan penyebab kematian Halim. "Karena, hasil otopsi bukan segalanya. Olah tempat kejadian perkaranya (TKP) seperti apa. Karena jenazah yang sudah mengalami pembusukan, akan susah otopsinya," katanya. 

Terkait tewasnya Halim dengan posisi tergantung di pohon bambu, Ferryal tidak menilai apakah Halim murni tewas karena gantung diri. Menurutnya, aksi gantung diri dengan posisi duduk sekalipun juga dapat menyebabkan kematian. 

Katanya, butuh jeratan tali di leher dengan beban seberat minimal 11 lbs atau 4,98 kg untuk menekan vena yugolaris dan trakhea (jalan nafas). Kedua,  aksi bunuh diri pada umumnya perlu percobaan berkali-kali. 

"Mau duduk kek, mau tiduran kek. Nggak harus gondal-gandul (tergantung menjulur kebawah). Jadi yang harus diinvestigasi, apakah si korban, ada usaha bunuh diri?," tuturnya. 

Senada, Dokter Spesialis Forensik RSU dr. Drajad Prawiranegara Serang, Banten dr. Budi Suhendar mengatakan, proses otopsi terhadap jenazah Halim akan sulit. Apalagi jika ditemukan bekas luka dan lebam setelah waktu yang lama. 

"Sekali proses otopsi saja mungkin tidak cukup. Mungkin akan butuh dua kali otopsi untuk menggali hal-hal yang belum terungkap pada otopsi pertama," kata Budi. 

Menurutnya, seseorang yang tewas tergantung, perlu pemeriksaan terhadap bagian tubuh jenazahnya di daerah sekitar tali gantungan. Apakah tali tersebut menyebabkan seseorang kehabisan nafas lalu meninggal. 

Selain itu, proses otopsi juga harus dapat mengungkap mekanisme dan alur kematian jenazah. Apakah, korban disiksa terlebih dahulu lalu digantung, atau sebaliknya. 

"Artinya, kalau murni gantung diri, seseorang tidak akan melakukan perlawanan. Berbeda jika seseorang dipaksa atau dianiaya dahulu sebelum digantung. Kecuali, si korban dilemahkan dahulu. Entah dibius atau dibuat pingsan," jelasnya.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up