JawaPos Radar

Harapan DPRD DKI, Jakarta Jadi Kota Aman dan Ramah Warga

22/06/2018, 07:05 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Harapan DPRD DKI, Jakarta Jadi Kota Aman dan Ramah Warga
Ilustrasi Ibu Kota Jakarta. (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Melihat kesejahteraan rakyat di Ibu Kota Jakarta menjadi impian banyak orang. Salah satunya Sekertaris Komisi A DPRD Jakarta, Syarif (Gerindra) yang berkeinginan Jakarta bisa menjadi kota yang lebih aman dan ramah bagi warganya.

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta, masyarakat Jakarta, dan para stakeholder harus terus menentukan kembali komitmennya menjadikan Jakarta kota yang besar dibandingkan kota yang lain.

"Jadikan Jakarta kota yang aman, ramah dan warganya bisa turut berpartisipasi sehingga kota bisa sejajar dengan kota besar lainnya.
Mensejajarkan dengan kota lain sebagai kota aman dan ramah, dimulai dengan komitmen mengurangi kesenjangan sebab itu sangat mencolok," ujar Syarif saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (20/6).

Harapan DPRD DKI, Jakarta Jadi Kota Aman dan Ramah Warga
Sekertaris Komisi A DPRD DKI Syarif. (Evi Ariska/ JawaPos.com)

Syarif berpandangan, ekonomi kerakyatan harus menjadi prioritas Pemerintah sekarang. Jika, masyarakat produktif dan sejahtera ini akan menjadi langkah yang mudah menjadi kota aman.

"Kalau masyarakat tingkat ekonominya bagus kemudian kesenjangan berkurang maka kota aman mudah diraih, basisnya kesejahteraan masyarakat," tuturnya.

Namun, Syarif menyayangkan penyerapan tenaga kerja masih belum siginifikan, sebab dirinya merasakan beberapa tahun belakangan memang angka penganggurab tidak begitu menggembirakan.

Terutama, lanjut Syarif, kesenjangan seperti yang satu berpendapatan rendah satunya tinggi ini menjadi nilai yang sangat kontras. Sebagai Wakil masyarakat DKI, dirinya ingin ke depan kesenjangan dapat dikurangi dari penyerapan tenaga kerja yang baik.

"Kalau dilihat Infrastruktur justru sudah melebihi dari yang di butuhkan, perkembangannya saat melesat tapi belum punya dampak untuk masyarakat. Bahkan, saya akui infrastruktur kita sangat maju dari tahun ke tahun, menggembirakan tapi pembangunan SDM itu belum bahkan jauh dari hasil yang diinginkan," kata Syarif.

Kesenjangan, menurut Syarif dapat dilihat dari perkampungan kumuh dan miskin (kumis) yang dinilai masih banyak jumlahnya. Namun dirinya merasa komitmen Pemprov DKI memang cukup kuat dalam menanggulangi hal tersebut,  membenahi memperbaiki wajah ibukota.

"Kampung kumis harus diubah, aksesbilitas warga dalam pemanfaatan insfrastruktur masyarakat saya lihat masih jauh. Ada hubungan yang terasing dan alienasi dengan pembangunan," jelas Syarif.

Misalnya saja, Syarif sempat memantau trotoar pedestrian kota yang dilakukan pelebaran sampai 2 meter di Jalan Pramuka, kemudian trotoar dimasuki mobil untuk lahan parkir. Ketika ditanya, banyak warga belum tahu fungsi pelebaran trotoar tersebut.

"Belum ada hubungannya pengembangan infrastruktur dengan pengurangan kesenjangan, saya belum menemukan. Tapi kita berdoa, berusaha bahu membahu mengatasi bersama. Pemerintah tidak bisa kerja sendirian, masyarakat harus menyadari harus dibantu ditingkatkan partisipasi," jelas Syarif.

Begitupula soal yang melegenda, sampah yang belum teratasi, namun soal taman dirinya mengakui perkembangannya signifikan, namun sayangnya hal tersebut belum memiliki dampak langsung terhadap peningkatan sebagai kota aman dan sejahtera.

"Kalau infrastruktur ada tapi tidak digunakan bagaimana coba? Jadi ke depan memang harus ada pembenahan ke arah tersebut," tandasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up