JawaPos Radar

Dihantui The Fed, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5-5,2 Persen

22/06/2018, 06:05 WIB | Editor: Estu Suryowati
Dihantui The Fed, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5-5,2 Persen
Ilustrasi. Merespons kenaikan Fed Fund Rate, suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate sudah naik dua kali masing-masing 25 basis poin dari 4,25 persen menjadi 4,75 persen. (dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pertumbuhan ekonomi tahun ini dikhawatirkan tumbuh melambat. Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-day reserve repo rate yang diprediksi kembali naik menjadi salah satu penyebabnya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Balikpapan Yaser Arafat mengatakan, target pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah sulit tercapai. Pasalnya kenaikan suku bunga acuan bisa mengganggu aktivitas industri.

Diprediksi, pertumbuhan ekonomi hanya mampu mencapai 5-5,2 persen saja, di bawah target sebesar 5,4 persen.

Dihantui The Fed, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5-5,2 Persen
Ilustrasi. Suku bunga acuan bank sentral AS, the Fed sudah naik dua kali, masing-masing 25 basis poin dari 1,5 persen menjadi 2 persen. Diprediksi, kenaikan Fed Fund Rate masih akan terjadi. (dok. JawaPos.com)

Proyeksi tersebut didasarkan pada kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika, The Fed yang nantinya pasti diikuti kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). Kenaikan suku bunga BI dikhawatirkan bakal diikuti naiknya suku bunga kredit dan menurunkan permintaannya.

"Memang menjadi dilema. Di tengah tahun politik, membutuhkan pertumbuhan ekonomi tinggi tapi kenyataannya seperti ini. Pengusaha pun bingung. Mendukung tapi bakal memberatkan produksi," katanya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Jumat (22/6).

Diketahui, The Fed tahun ini sudah menaikkan suku bunga mereka dua kali. Kenaikan pertama dilakukan Maret lalu. Waktu itu, The Fed menaikkan suku bunga mereka sebesar 25 basus poin, dari 1,5 persen menjadi 1,75 persen.

Sementara kenaikan kedua juga sebesar 25 basis poin, dari 1,75 persen menjadi 2 persen. Kenaikan tersebut kemungkinan besar masih akan dilakukan kembali pada tahun ini.

Ia menyebutkan, BI langsung merespons kebijakan The Fed tersebut. Bulan lalu, mereka bahkan menaikkan suku bunga acuan sampai dua kali. Pertama, BI menaikkan suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Kenaikan kedua sebesar 25 basis poin juga, menjadi 4,75 persen.

Saat ini, BI memberi sinyal menaikkan suku bunga acuan lagi sebagai bentuk komitmen dan fokus pada kebijakan jangka pendek memperkuat stabilitas ekonomi. Khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.

Oleh karena itu, BI siap menempuh kebijakan lanjutan yang preemptive, front loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan The Fed dan ECB pada RDG 27-28 Juni 2018 mendatang.

Kebijakan lanjutan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga yang disertai dengan relaksasi kebijakan LTV (loan to value) untuk mendorong sektor perumahan. Selain itu, kebijakan intervensi ganda, likuiditas longgar, dan komunikasi yang intensif tetap dilanjutkan.

BI, pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan terus mempererat koordinasi untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan. "Kalau demikian, bisa jadi jumlah pengangguran kembali meningkat. Pengusaha harus mengencangkan kembali ikat pinggang karena bunga kredit," katanya.

"Sekarang saja, sudah dinilai cukup tinggi. Kalau naik lagi, otomatis ada cost yang bertambah. Untuk menutup itu, salah satu cara paling cepat yang melakukan pemangkasan karyawan. Akan kembali lagi kondisi ekonomi melambat,” imbuhnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up