alexametrics

Massa Ormas Islam Pertanyakan Netralitas Bawaslu

22 Maret 2019, 19:23:25 WIB

JawaPos.com – Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sumatera Utara (Sumut), Jalan Adam Malik, Kota Medan, dijaga ketat kepolisian, Jumat (22/3). Massa dari ormas Islam berunjuk rasa di sana untuk mempertanyakan kinerja Bawaslu sebagai lembaga pengawas.

Unjuk rasa diikuti ratusan massa. Mayoritas adalah ibu-ibu. Takbir memekik di sela orasi. Disambut acungan simbol dua jari yang identik dengan Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Pengunjuk rasa juga membawa poster berisi pernyataan-pernyataan soal netralitas aparat negara.

Berbagai bendera turut dikibarkan. Mulai dari bendera tauhid, Romo Centre hingga bendera Bertuliskan Relawan Ganti Presiden. Masing-masing ulama bergantian berorasi. Isinya mempertanyakan soal kinerja Bawaslu yang dituding tidak netral.

Setelah berorasi cukup lama, massa dipersilakan bermediasi dengan Bawaslu Sumut. Setiap perwakilan menyampaikan pendapat. Intinya, massa meminta Bawaslu bertindak adil dan berani menindak jika ada pelanggaran di lapangan.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Sumut Ustaz Heriansyah menjelaskan, target aksi adalah menginginkan pemilu yang jujur dan adil. Sehingga mereka bertanya ke Bawaslu apakah mampu mengawasi tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

Dalam orasinya, Heriansyah menyebutkan bahwa pemilu kali ini adalah yang paling brutal sepanjang reformasi. “Karena calon presiden melawan presiden. Ini berpotensi bahwa satu calon bisa memobilisasi semua infrastruktur negara untuk mendegradasi satu calon dan memperkuat posisi 1 calon yang lain,” ungkapnya.

Mereka khawatir lembaga negara berjalan dalam tekanan. Sehingga tak bisa lagi bekerja secara objektif. Massa juga berharap Bawaslu bisa adil dalam menindak kasus pelanggaran. Jangan sampai ada intervensi yang membuat penegakan hukum menjadi tebang pilih.

“Ada kasus yang dalam tanda kutip begitu cepat direspons. Itu tentu kalau berkaitan dengan pihak tertentu. Tapi di pihak yang satu lagi, hampir tidak ada reaksi apa-apa. Di antaranya kekisruhan yang diucapkan pejabat negara di Tebing Tinggi di Hari Ulang Tahun NU,” ujar Heriansyah menyinggung pernyataan Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto.

Pengunjuk rasa meminta Bawaslu bisa memanggil pejabat terkait dan meminta klarifikasi. “Karena menurut kami, itu masih terkait dengan kontestasi Pemilu. Karena persoalan ini menimbulkan keresahan di masyarakat,” tukasnya.

Terpisah, Ketua Bawaslu Sumut Syafrida R Rasahan mengapresiasi apa yang dilakukan pengunjuk rasa. Dia mengajak masyarakat untuk sama-sama mengawal pemilu.

“Kami sudah menjelaskan kepada para perwakilan masyarakat yang datang ke Bawaslu. Bahwa Bawaslu bekerja sesuai undang-undang. Silakan kepada masyarakat untuk mengawal pekerjaan kami. Kalaupun ada yang tidak sesuai, bisa melaporkan,” ucapnya.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Prayugo Utomo

Copy Editor :

Massa Ormas Islam Pertanyakan Netralitas Bawaslu