alexametrics

Penghasilan Abu Cuma Rp 300 Ribu Sebulan dan Harus Hidupi 7 Orang Anak

22 Januari 2020, 23:25:56 WIB

JawaPos.com – Demi mensejahterakan kehidupan guru di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali membantu pahlawan tanpa tanda jasa tersebut lewat program Sahabat Guru Indonesia. Kali ini, yang mendapatkan bantuan biaya hidup adalah Abu dan Sukarman.

“Kalau ada yang menggerakannya (kepedulian mayarakat) seperti Global Zakat – ACT ini, sangat bagus. Jadi bisa terangkat dan penerima manfaat merasa terbantu. Mendapatkan angin segar. Alhamdulillah, ada (apresiasi) untuk membangkitkan semangat,” kata Abu.

Abu saat ini mengajar di Yayasan Pendidikan Islam Mathlah’ul Anwar dengan mengampu mata pelajaran Agama Islam. Pendapatan yang ia hasilkan sebesar Rp 300 ribu per bulan. Abu memilih untuk tinggal di yayasan agar menghemat biaya hidup sejak tiga bulan lalu.

Pihak sekolah juga tidak merasa keberatan dengan permintaan Abu untuk tinggal di sekolah. Pada awal tahun, rumah Abu terkena banjir besar dan hingga kini lumpur masih menggenang di dalam dan di kebun depan rumahnya.

“Pak Abu memang tinggal di sini karena memang juga beliau tinggal sendiri di rumah. Meskipun ia punya 7 anak, tapi mereka tinggal dengan ibunya. Berhubung karena jarak dari sekolah ke rumah juga jauh dan ingin menghemat, jadi beliau tinggal di sini. Untuk makan ditanggung sekolah,” kata Kepala Sekolah di Yayasan Pendidikan Islam Mathlah’ul Anwar Amudin dalam siaran pers, Rabu (22/1).

Keinginan Abu juga layaknya seorang yang telah mantap dalam mendedikasikan hidupnya sebagai seorang guru, yakni mengharapkan berkat Tuhan.

“Harapan bapak cuma satu saja, ingin mengharapkan ridha Allah. Kalau masalah harta, seperti itu adaya saya syukuri saja. Memang tidak munafik juga, terkadang kalau kita tidak punya doktrin agama, tentu timbulnya putus asa dan akibatnya buruk,” terangnya.

Sementara itu, kehidupan Sukarman selain menjadi guru adalah sebagai pedagang asongan. Sedari pagi, Sukarman sudah pergi ke pasar untuk menjajakan dagangannya di tengah orang yang lalu lalang hingga jam 7 pagi setelah itu pergi mengajar di TPQ sebuah SD di Desa Kawedusan, Kebumen dan kembali ke pasar pada siang hari.

Pada sore hari, Sukarman pun kembali mengajar anak-anak di Masjid Agung Kauman, Kebumen sebagai guru mengaji. Adapun penghasilannya sebagai guru adalah Rp 100 ribu dalam satu bulan yang dibayarkan tiap 3 bulan sekali.

“Seperti itulah kehidupan saya. Kami hanya pasrah kepada Allah. Juga mohon doanya kepada masyarakat, semoga kehidupan kami selalu dicukupkan. Saya berjuang itu bukan karena materi. Kadang saya melihat guru-guru mengaji saya terdahulu. Beliau-beliau itu mengajar tanpa pernah diberi biaya. Semua gratis. Makanya kadang saya juga malu, saya setiap bulan dapat amplop. Guru-guru saya tidak ada yang diberi amplop,” ujar Sukarman.

Sebanyak 1.070.622 guru honorer masih terus berjuang dalam ketidakpastian. Status yang tidak dijamin dengan baik, mengakibatkan mereka tak mendapatkan gaji yang pantas. Bagi mereka mungkin uang bukan segalanya, tapi tetap saja mereka pantas untuk dihargai secara materi. Mari ikut berpartisipasi memajukan pendidikan bangsa Indonesia dengan menyediakan biaya hidup guru honorer pra sejahtera melalui www.indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Saifan Zaking



Close Ads