alexametrics

Harus Dikaji Histori Pembangunan Sebelumnya

Oleh Prof Dr Ir Indarto DEA*
21 Desember 2018, 17:22:14 WIB

JawaPos.com – Persoalan amblesnya Jalan Raya Gubeng sangatlah kompleks. Melakukan analisis terhadap fenomena tersebut juga harus hati-hati. Tidak bisa langsung menyalahkan A atau B.

Namun, harus melihat secara luas dan detail tentang historis pembangunan sebelumnya. Termasuk lapisan geologis, kondisi tanah secara mikro, maupun cara mendirikan bangunan di sekitarnya.

Fenomena-fenomena itu tidak hanya terjadi sekali di negara kita. Perlu ada studi engineering yang cukup. Sebab, undang-undang jasa konstruksi itu mewajibkan penilaian selalu dari ahli. Lagi-lagi, tidak sesederhana itu.

Harus Dikaji Histori Pembangunan Sebelumnya

Saya melihat jalan tersebut langsung ambles ke bawah. Bukan mendorong gedung BNI, Elizabeth, maupun RS Siloam. Menurut saya, itu juga bukan fenomena sliding (pergeseran tanah).

Sebab, jika itu longsor, semua bangunan ikut hancur. Namun, jika berbicara lapisannya, di bawah lapisan tanah itulah yang harus dilihat. Termasuk yang terjadi pada kedalaman tanah tersebut. Ada satu lapisan tanah yang lunak atau tidak.

Lapisan tanah yang lunak ketika terkena air bisa menyebabkan pelemahan. Hal itu bisa membuat bagian dari tanah tersebut ambles atau terjun ke bawah. Namun, kejadian di Jalan Raya Gubeng tidak menyebabkan gedung-gedung di sekitarnya bergerak. Termasuk RS Siloam dalam kondisi baik.

Begitu juga gedung BNI dan Elizabeth. Jika ada bagian bangunan BNI dan Elizabeth yang rusak, perlu dianalisis terlebih dahulu. Ada kemungkinan bagian bangunan BNI dan Elizabeth yang rusak tersebut disebabkan amblesnya tanah Jalan Raya Gubeng yang berlokasi tepat di depannya. Amblesnya jalan itu menarik bagian-bagian bangunan yang berada di atasnya.

Kerusakan itu bisa jadi dampak atau efek dari amblesnya jalan tersebut. Apalagi jalan yang ambles itu sepanjang 100 meter dengan lebar 25 meter dan kedalaman 20 meter. Volume tanah pun sangat besar dan dapat meruntuhkan bagian-bagian bangunan di sekitarnya.

Karena itu, saat ini masih terlalu dini menyimpulkan atau menyalahkan siapa pun. Ini perlu penganalisisan yang dalam.

Menurut saya, kondisi tanah di Surabaya memiliki kecenderungan lunak. Yang saya takutkan di lokasi kejadian tersebut ada satu lapisan yang tipis. Jika lapisan itu melunak, kekuatan akan hilang dan bisa terjun ke bawah.

Penyebabnya bisa beragam. Salah satunya adalah erosi di bawah tanah. Tanah, jika terendam air, terutama tanah lempung, yang tadinya kering akan menjadi licin. Jika terkena hujan, mungkin sudah tidak kuat lagi dan terjun lagi.

Bagi saya, kejadian amblesnya Jalan Raya Gubeng itu sangat kompleks. Perlu melihat history pembangunan RS Siloam. Termasuk jenis tanahnya dulu seperti apa.

Begitu juga bangunan yang ada di sekitar lokasi kejadian dan masalah cuaca. Karena itu, hal tersebut tidak bisa dibicarakan sekarang karena bukan perkara yang sederhana. Kadang masih banyak orang yang membangun gedung tidak menyerahkan kepada ahli tanah. Hal itu juga berisiko. 

*) Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia Jatim dan Dosen Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Seperti disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Septinda Ayu Pramitasari/c6/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Harus Dikaji Histori Pembangunan Sebelumnya