alexametrics

Produk UKM Jateng Dilirik Pasar Jepang-Eropa, Ganjar: Siap Komunikasi

21 September 2021, 20:36:41 WIB

JawaPos.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menjajaki pasar Eropa dan Jepang untuk memasarkan produk UKM asal Jateng. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berjanji segera berkomunikasi dengan Duta Besar RI untuk Jepang Heri Akhmadi.

Hal ini dikatakan Ganjar di sela-sela temu wicara dalam rangkaian UKM Virtual Expo (UVO) 2021 di Bank Jateng Cabang Surakarta, Selasa (21/9). Hal itu diungkapkan Ganjar guna menanggapi permintaan diaspora asal Indonesia yang kini berada di Jepang. Dikatakan mereka, peluang produk UKM asal Jawa Tengah sangat terbuka untuk dijual di Negeri Matahari Terbit tersebut.

“Hari ini (dalam UVO 2021) kita menjajaki pasar Eropa dan Jepang. Beberapa di antaranya cukup antusias. Jepang mengatakan, produk makanan diminati. Bahkan ada yang siap menjualkan. Mereka minta adjust saja, kualitas sudah baik cuma kemasan kegedean, maunya sekali makan. Oke tak gaweke,” ujar Ganjar di sela-sela temu wicara dalam rangkaian UKM Virtual Expo (UVO) 2021 di Bank Jateng Cabang Surakarta, Selasa (21/9).

Membuktikan keseriusan pemprov, Ganjar bakal segera berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang. Hal itu terkait dengan persiapan teknis pembuatan dokumen UKM ke Jepang. “Nanti saya akan kontak His Excellency Hery Akhmadi agar kita bisa siapkan lebih detail. Saya minta bantuan teman-teman di sana kira-kira produk apa (yang dibutuhkan),” papar Ganjar.

ILUSTRASI: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku siap berkomunikasi untuk memasarkan produk UKM Jawa Tengah.

Langkah Ganjar itu disambut baik oleh Teguh Wahyudi, seorang pengusaha asal Indonesia yang kini tinggal di Jepang. Dia mengatakan, kebutuhan akan produk UKM asal Jawa Tengah sangat tinggi. Bahkan, produk UKM dari Jawa Tengah cukup bersaing dan berkualitas.

“Kami juga butuh bawang merah dan bawang goreng, Pak Ganjar. Kemarin ibu konjen menawarkan produk yang bagus dari Jateng. Saya khawatir untuk teknis dokumen ketiga itu cukup susah. Harapan kami, ada konsolidator yang bisa bantu kawan UKM agar hubungan dengan kami cepat dan lancar,” papar Teguh.

Dia menyebut, ada empat ceruk pasar yang dapat disasar. Pertama, warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang sejumlah 70 ribu orang. Berikutnya komunitas muslim yang mencapai 200 ribu jiwa, warga negara asing (WNA) berjumlah 2,8 juta jiwa, serta penduduk Jepang sendiri.

Menurutnya, peluang itu bisa menjadi peluang bagi UKM Jateng. Terlebih lagi, perusahaan yang dipimpin oleh Teguh tengah menyiapkan gudang distribusi yang mampu menampung dan mendistribusikan produk dari Indonesia. Tak terkecuali dari Jawa Tengah.

Selain pasar Jepang, produk UKM Jateng juga diminati pasar Eropa. Terutama untuk produk furniture. Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Jawa Tengah kini tengah menyiapkan ekspor mebel ke Belgia.

Dinkop UKM bekerja sama dengan Bank Indonesia, Kadin, dan PT Adhyata akan mengirim sampel produk furnitur ke Belgia. Di sana, produk mebel asal Jateng akan dipamerkan selama satu tahun di Borgerhub.

“Mudah-mudahan pada 1 Oktober bisa kirim produk sampel ke Belgia. Satu kontainer 40 feet, sekitar 50 ton furniture dari Jateng. Kebanyakan yang disukai meja fosil,” tutur Kepala Dinkop UKM Jateng Ema Rachmawati.

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah Siti Atikoh juga meninjau produk kerajinan peserta UVO 2021 di Bank Jateng Cabang Surakarta, hari ini. Atikoh bahkan memborong sejumlah produk UKM, seperti gantungan kunci berbahan kayu dan gitar batik.

Menurut Atikoh, kreativitas dan kualitas kerajinan asal Jawa Tengah sangat mumpuni untuk menembus pasar lokal, bahkan mancanegara. Dia berharap pelaku UMKM mau terus belajar dan memahami apa yang dibutuhkan konsumen.

“Pola komunikasi konsumen dan perajin harus dibangun secara intens. Selain memenuhi ekspektasi pembeli, hal itu dimaksudkan untuk melakukan survei terhadap apa yang sedang tren di pasaran,” tutur Atikoh.

Apalagi di era pandemi Covid-19, pameran dan aktivitas berjualan secara offline sangat jarang digelar. Menghadapi hal ini, para perajin tak boleh tidak begitu saja menyerah. Justru momentum ini bisa dijadikan peluang untuk berani beralih ke media promosi digital. Apalagi pemasaran online bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan mudah.

“Selama pandemi, kami dari Dekranasda kesulitan memfasilitasi UMKM terkait pameran konvensional. Lalu kami jembatani dengan pameran virtual. Sebelumnya fashion, kini furniture dan home decor. Ini potensinya luar biasa, baik di pasar lokal maupun internasional,” terang Atikoh.(eno)

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : ARM, Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads