JawaPos Radar

Menelusuri Fakta Tempe yang Katanya Setipis ATM

21/09/2018, 05:50 WIB | Editor: Estu Suryowati
Menelusuri Fakta Tempe yang Katanya Setipis ATM
ILUSTRASI. Pedagang tahu tempe di Balikpapan belum menaikkan harga jual. Hanya omzet mereka terpaksa turun kisaran 20 persen imbas penguatan dolar AS. (dok. Kaltim Post (Jawa Pos Group))
Share this image

JawaPos.com - Tempe setipis ATM. Ya, kiasan terkesan hiperbola yang dilontarkan Sandi tersebut tak lain lantaran imbas dari kedelai yang harus impor. Padahal diketahui, mata uang Abang Sam (AS) kini lagi gagah-gagahnya. Lalu, bagaimana dengan tempe di Balikpapan?

Gonjang-ganjing tempe ini pun memicu Kaltim Post (Jawa Pos Group) melakukan penelusuran. Pertama yang dituju tentu pasar. Pilihan jatuh pada Pasar Pandansari, Balikpapan Barat. Pasar induk ini bisa jadi barometer kondisi pangan yang beredar di Balikpapan.

Tiba di pasar pagi saat masih ramai-ramainya. Tujuan utama lapak tempe dan tahu. Tempe di setiap pedagang memiliki ukuran dan harga berbeda-beda. Baik pedagang yang berjualan di kios dalam pasar, area parkiran, sampai di jalanan semacam pembeli drive-thru.

Koran ini bertemu dengan penjual sekaligus perajin tahu tempe, Abdul Rohim. Dalam lapak di lantai dua pasar, tempe dijual Rp 10 ribu per kilogram (kg).

Ada beragam ukuran. Mulai yang paling kecil Rp 2.500 dengan berat 2,5 ons atau seperempat kilogram. Selanjutnya tempe ukuran setengah kilogram dengan harga Rp 5 ribu. Terus meningkat hingga tempe yang paling besar, berat 12 ons seharga Rp 12 ribu.

"Dolar naik, belum ada pengaruh ke harga tempe. Harga ini masih normal, sudah lama tidak ada kenaikan harga jual," kata pria yang memiliki rumah produksi tahu tempe di daerah Somber tersebut.

Dari penuturannya, harga tahu tempe di Balikpapan sulit mengalami kenaikan. Meski harga bahan bakunya memang sudah naik dalam satu bulan terakhir ini.

Sebagai perajin, mereka tinggal mengatur ukuran tempe yang dijual saja. Bagaimana caranya bisa masih ambil keuntungan walau biaya modal untuk bahan baku meningkat.

"Kami perajin dan penjual langsung, harga konsisten. Beda dengan tengkulak yang ikuti harga pasar. Kalau ramai (tempe) mahal, kalau murah baru diobral," ujarnya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (21/9).

Pria yang telah berdagang tahu tempe sejak 1980-an ini merasa sudah terbiasa dengan harga bahan baku yang terus berubah. Termasuk kondisi sekarang, Rohim tak ingin ambil pusing.

"Waktu kedelai murah kami untung banyak, waktu kedelai mahal perajin untung sedikit. Apalagi harga bahan baku juga semua sama dari koperasi," tuturnya.

Setelah berbincang dengan Rohim, media ini melanjutkan perburuan tempe ke lapak yang berbeda. Kali ini menuju para pengecer di area parkiran pasar. Harga tempe di sini kurang lebih masih sama dengan Rohim.

Pedagang menjual tempe paling murah Rp 4 ribu. Bahkan ada promosi, beli tiga harga khusus Rp 10 ribu. Perbedaannya hanya tinggal ukuran tempe yang lebih besar dari lapak Rohim.

Masih di Pasar Pandansari, terakhir mengecek harga tempe di pinggir jalan depan bangunan pasar, ala penjual drive-thru. Mudah sekali menemukan penjual eceran ini. Mereka tersebar di berbagai pinggiran toko, bahkan memakan badan jalan.

Tentu harga tempe lebih mahal dibandingkan harga dalam pasar. Ukuran yang paling kecil Rp 3 ribu dengan berat 2,5 ons. Kaltim Post juga mengecek harga tempe di Pasar Baru, dua hari lalu.

Bertemu dengan penjual tempe, Muhammad Jazuli, pria paruh baya yang mengaku harga tempe tidak mengalami kenaikan di kiosnya. Dia menjual tempe dari ukuran kecil seharga Rp 1.000 hingga yang paling besar Rp 10 ribu.

"Tempe tidak naik, tapi memang harga kedelai naik," ungkapnya.

Memuaskan fakta yang didapat di lapangan, koran ini menuju pabrik tahu tempe di Sentra Industri Kecil Somber (SIKS). Di sana terdapat sekitar 80 rumah produksi tahu tempe yang bernaung dalam Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti).

Kehadiran Primkopti tak bisa dipandang sebelah mata. Setiap bulan, para perajin yang tergabung dalam koperasi ini bisa menghasilkan tempe 320 ton atau sekitar 14 kontainer. Satu kontainer berisi 23 ton. Primkopti juga menjadi supplier bahan baku kedelai terbesar di Kota Minyak.

Dalam kunjungan ini, Kaltim Post bertemu dengan Wakil Ketua Bidang Pembelian dan Penjualan Primkopti Ahmad Arifin. Dia mengakui, dolar yang menguat memang berdampak terhadap perajin tahu tempe di Balikpapan.

Sebab, hampir 90 persen, kedelai yang masuk ke Indonesia ini masih bergantung dari Amerika. Termasuk bahan baku yang berada di Primkopti. Walhasil biaya produksi tempe ikut meningkat.

Meski begitu, hingga kini perajin sepakat, belum ada keinginan untuk mengurangi ukuran atau menaikkan harga tempe. Alasannya untuk menjaga daya beli konsumen yang sudah ada.

Namun, efek yang harus ditanggung yakni omzet para perajin tempe harus berkurang dari biasanya. "Akibat dari kenaikan harga bahan baku, perajin mengeluh soal omzet. Kerugiannya ini masih dirasakan oleh perajin belum sampai ke konsumen," jelasnya.

Dalam sehari, rumah produksi miliknya bisa menghasilkan tempe sebanyak delapan karung atau setara 4 kuintal. Ahmad bercerita, penurunan omzet berkisar 10-20 persen. Apalagi kondisi semakin tak bersahabat karena daya beli masyarakat yang menurun dari tahun sebelumnya.

Sebagai perajin yang sudah melewati pengalaman puluhan tahun, pihaknya yakin masih bisa melewatinya dengan baik. Hal terpenting bagi mereka adalah ketersediaan bahan baku. Selama stok bahan baku aman, perajin juga akan tenang.

Bahan baku tempe yang berada di Primkopti ini juga berasal dari Amerika. Mereka mengambilnya melalui importir di Surabaya. Ahmad menyebutkan, importir dari Surabaya ini menjadi yang terbesar sekaligus paling dekat jaraknya untuk menyuplai bahan baku ke Balikpapan.

Transaksi juga fleksibel bisa di Surabaya atau Balikpapan, tapi harganya berbeda. Apabila transaksi di Kota Pahlawan, pihaknya harus menanggung biaya ekspedisi. Setelah bahan baku sampai di Primkopti Somber, Ahmad dan tim melakukan perhitungan.

Dia menentukan berapa harga bahan baku untuk dijual ke perajin di SIKS. Harga bahan baku ini terus berubah mengikuti harga ter-update saat Primkopti membeli bahan baku dari importir di Surabaya.

"Saat beli di importir harga bahan baku naik, maka kami akan menaikkan harga juga. Sebaliknya kalau turun, harga jual ikut turun. Jadi mengikuti harga saat beli bahan baku di importir," ungkapnya.

Ahmad menjelaskan, sejak awal tahun hingga kini harga kedelai terus merangkak naik. Tercatat harga kedelai pada Januari masih Rp 7.200 per kilogram. Perlahan tapi pasti harga terus meningkat hingga pernah menyentuh angka Rp 8.300 per kilogram.

Harga tersebut sudah bertahan hampir sebulan terakhir ini dan menjadi harga bahan baku tertinggi sepanjang 2018. Namun, ini tak ada apa-apanya dibanding kondisi tersulit krisis moneter 1998.

Ketika itu, bahan baku tempe yang semula berharga Rp 3 ribu langsung berubah drastis menjadi Rp 7 ribu. Sementara dalam beberapa tahun terakhir, harga kedelai paling tinggi sempat terjadi 2012. Saat itu, harga bahan baku mencapai Rp 9 ribu per kg.

"Kalau sekarang stok bahan baku aman, tidak kosong, tapi memang ada pembatasan pembelian kedelai dari Amerika," sebutnya.

Teranyar harga sudah berangsur turun sejak Sabtu (15/9), kedelai dijual seharga Rp 8.200 per kilogram. Meski harga bahan baku bisa ditentukan koperasi. Namun soal harga jual tempe setiap pedagang, dia tak bisa memprediksi.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ukuran tempe setiap rumah produksi berbeda. Ukuran tempe ini mengikuti keinginan perajin sesuai dengan kebutuhan konsumen atau pasar masing-masing.

"Harga jual tempe ini tidak bisa serempak karena ukuran berbeda. Bebas, tapi intinya bersaing dengan bagus. Kalau perajin mau jual murah apa dia bisa mengatasi biaya modal," imbuhnya.

Ahmad yakin selisih harga antarpedagang tempe tidak jauh berbeda, apalagi menjual di bawah harga bahan baku. Apalagi seluruh bahan baku perajin ini berasal dari tempat yang sama, Primkopti.

Bagi perajin, saat ini yang penting mereka masih bisa meraup keuntungan. Walau tidak besar seperti biasa alias pas-pasan.

"Belum sampai tahap kerugian, buktinya tidak ada yang gulung tikar berarti masih bisa bertahan. Kalau sudah begitu pasti orang teriak-teriak," imbuhnya.

Dia berharap keadaan ini cepat membaik. Misalnya, permintaan tahu tempe mulai meningkat lagi seperti momen puasa dan Lebaran.

Contoh Juli dan Agustus, konsumsi tahu tempe di Balikpapan cukup tinggi. Akibat harga ikan mahal karena stoknya sedikit imbas angin selatan.

Begitu pula dengan harga ayam yang mahal karena stoknya tidak sesuai dengan kebutuhan. "Saat ini kami hanya bisa bersabar dan berharap rupiah kembali menguat," ujarnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up