alexametrics

Kisah Penyintas Yang Berhasil Pulih Dari Trauma Gempa

21 September 2018, 18:49:04 WIB

JawaPos.com – Trauma yang dialami korban gempa Lombok begitu berat. Psikologisnya begitu terguncang atas gempa yang berturut-turut menimpa daerah tersebut. Sejak 29 Juli 2018 hingga Agustus sudah tak terhitung lagi gempa yang mereka rasakan.

Di balik bencana besar itu ada sejumlah penyintas yang berhasil bangkit dari trauma. Sebagaimana yang dialami Muhammad Sumil, 8, dan ibunya Asmawati. Keduanya mengalami dampak dari gempa yang terjadi pada 29 Juli 2018 malam.

Kamis (20/9), ibu dan anak itu didatangi tim Mobile Social Rescue (MSR) Aksi Cepat Tanggap (ACT). Kedatangan MSR di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur itu untuk memberikan pemulihan terhadap trauma yang alami Sumil dan Asmawati.

Asmawati bercerita, anaknya mengalami sejak gempa yang terjadi Juli 2018 itu, anaknya kesulitan berjalan. Sendi di kedua lutut Sumil pun hanya bisa ditekuk dan sulit untuk diluruskan. “Sumil pernah mengalami panas tinggi di usia dua tahun,” ujar Asmawati kepada wartawan, Jumat (21/9).

Saat itu dia langsung membawa Sumil berobat ke RSUD Selong. “Dua minggu sudah dia tidak ada perubahan, saya bawa pulang. Ternyata kondisinya seperti ini. Sekarang tidak bisa jalan,” cerita orang tua tunggal Sumil itu.

Sementara itu, Koordinator MSR Nurjannatun Naim menerangkan pihaknya hadir di tengah penyintas korban gempa Lombok untuk memberikan pendampingan kepada Sumil. Terutama untuk mendapatkan penanganan medis. “Sejauh ini dari hasil pemeriksaan medis ulang, Sumil mengalami Cerebral Palsy dan mengalami gizi buruk,” jelas Nurjannatun Naim.

Kondisi yang tak jauh berbeda dialami Mahfud, 45. Buah hati Mahfud yang bernama Putrianija Dia Lestrai, 11, mengalami patah tulang akibat tertimpa reruntuhan. Kini Putrianija dirawat di salah satu rumah sakit di kawasan Cakranegara, Mataram.

Akibat gempa Agustus lalu, mengalami duka cukup dalam. Salah seorang putrinya yang lain meninggal tertimpa reruntuhan. Sedangkan sang istri kini menjalani perawatan di RSUD Selong. “Anak saya yang berusia 21 tahun meninggal dunia,” katanya.

Kamis kemarin Mahfud termasuk satu dari beberapa keluarga yang mendapat bantuan kruk. Bantuan itu kolaborasi antara Mobile Social Rescue – ACT.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (yes/JPC)


Close Ads
Kisah Penyintas Yang Berhasil Pulih Dari Trauma Gempa