alexametrics
30 Ibu Hamil di Kaltara Positif HIV/AIDS

30 Ibu Hamil di Kaltara Positif HIV/AIDS

Wajib Periksa Kandungan di Puskesmas
21 Agustus 2019, 14:28:27 WIB

JawaPos.com – Pengidap HIV/AIDS di Kalimantan Utara (Kaltara) bertambah banyak. Sebelumnya pada 2018, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara mencatat 19 ibu hamil (bumil) yang positif HIV/AIDS. Kemudian dari Januari hingga Juli 2019 Dinkes kembali menemukan sebanyak 11 bumil positif HIV/AIDS. Artinya, selama dua tahun telah ditemukan sebanyak 30 bumil yang positif HIV/AIDS.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes Kaltara Agust Suwandy mengatakan, semua bumil yang positif HIV/AIDS akan terus dikawal hingga proses persalinannya. “Jadi bumil harus melahirkan di layanan kesehatan,” kata Agust kepada Radar Kaltara (Jawa Pos Group) saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/8).

Dia mengungkapkan, secara data memang terlihat ada peningkatan dari 2018 hingga sekarang. Namun, data itu bisa saja berubah karena pada 2019 hanya sampai Juli. Artinya data itu belum selesai. “Tapi kita berharap jumlah itu tidak semakin bertambah,” ujarnya.

Agust menjelaskan, seorang ibu yang positif HIV/AIDS kemungkinan besar akan melahirkan anak yang menderita HIV/AIDS. Apabila bumil cepat terdeteksi, minimal enam bulan sebelum melahirkan itu ada kemungkinan bayi yang dilahirkan tidak menderita HIV/AIDS. “Sudah ada beberapa kejadian bumil yang sudah menjalani terapi selama enam bulan di masa kehamilan, bayi yang dilahirkan tidak menderita HIV,” bebernya.

Sekarang ini ada namanya Program Triple Eliminasi. Dalam program itu, semua bumil akan diperiksa tiga penyakit menular. Pertama HIV/AIDS, kedua hepatitis B, dan ketiga infeksi menular seksual. “Jadi setiap bumil yang berkunjung ke puskesmas, wajib mendapatkan pemeriksaan tiga penyakit itu. Dari situ kita akan bisa menjaring mana bumil yang kena hepatitis B maupun HIV,” jelasnya.

Apabila seorang bumil masuk di wilayah malaria, maka bumil juga akan mendapatkan tambahan pemeriksaan malaria. Tapi minimal tiga penyakit menular itu. Karena sudah menjadi program. “Untuk Kaltara sejauh ini pelaksanaannya sudah cukup baik, bahkan hampir semua layanan kesehatan telah melakukan program tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agust menerangkan, cara penularan hepatitis B sebenarnya sama dengan HIV/AIDS, dan cara pengobatannya juga sama seumur hidup. Kedua penyakit ini sama-sama berbahaya. “Sekarang ini banyak orang yang beranggapan bahwa hepatitis B sebagai penyakit yang biasa saja. Sebenarnya hepatitis yang biasa itu hepatitis A, kalau B itu sangat berbahaya,” jelasnya.

Dalam hal ini, Agust mengimbau kepada bumil agar dalam waktu masa kehamilan melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas. “Minimal satu kali dalam masa kehamilan, khususnya di awal-awal masa kehamilan, karena apabila ditemukan positif penyakit menular akan cepat mengikuti proses terapi untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan,” bebernya.

Agust menambahkan, pemeriksaan harus di puskesmas, karena kalau pemeriksaan di swasta atau dokter praktek tidak ada pemeriksaan tiga penyakit itu, sehingga bumil harus melakukan pemeriksaan di puskesmas. “Puskesmas itu sudah ada standarnya, jadi kami mengimbau kepada bumil untuk melakukan pemeriksaan di puskesmas, hal itu penting dilakukan untuk memastikan tumbuh kembang bayi,” pungkasnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Saksikan video menarik berikut ini: