JawaPos Radar

Ditipu Investasi Ojek Online, Dosen Laporkan Adik Iparnya ke Polisi

21/07/2018, 19:51 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kasus Penipuan
Laporan korban terkait penipuan investasi PT Sahabat Solusi Intermoda (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Salah seorang dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya, T. Handoko, 41 menjadi korban investasi. Dia mengalami kerugian telak hingga mencapai Rp 1 miliar.

Saat ditemui JawaPos.com, Sabtu (21/7), lelaki yang tinggal di South Yorkshire, Inggris bersama keluarganya ini mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir dia bersama istrinya, Rosa sengaja datang ke Surabaya untuk melaporkan kasus penipuan tersebut.

"Tanggal 10 Juli lalu saya sudah buat laporan ke Polda Jatim," ujar pria yang menempuh S3 ini mengawali pembicaraan.

Handoko diketahui ditipu oleh PT Sahabat Solusi Intermoda. Perusahaan tersebut membawahi sebuah startup yang bergerak di bidang jasa ojek online bernama CakTrans. Chief Executive Officer (CEO) perusahaan itu masih adik iparnya berinisial YW alias Wawan.

Ceritanya berawal pada Juli 2015. Saat itu Handoko bersama keluarganya pulang ke Indonesia. Selama 5 minggu di tanah air, yang bersangkutan juga mencari rumah untuk investasi jangka panjang. "Waktu itu saya ingin investasi properti. Tapi dia (Wawan) ngajak saya untuk menanam modal di bisnisnya," cerita dia.

Kala itu, Wawan menjanjikan keuntungan 1,5 persen per bulan dari jumlah modal yang diinvestasikan. Untuk meyakinkan kakak iparnya, Wawan juga mengajak ke notaris. Kedua belah pihak lantas membuat akta.

Di dalam pasal 3 akta tersebut tertulis, dalam kondisi apapun (baik rugi maupun untung), PT Sahabat Solusi Intermoda tetap diwajibkan membayar keuntungan tersebut tiap bulannya kepada investor. Handoko bersama istrinya pun mengeluarkan dana investasi awal sebesar Rp 750 juta.

Selanjutnya pada Januari 2016, melalui WhatsApp, Wawan kembali mengajak Handoko untuk berinvestasi di bidang properti. Handoko kembali dijanjikan bagi hasil 1,5 persen per bulan ditambah 15 persen dari keuntungan penjualan rumah.

Handoko kemudian menransfer uang Rp 200 juta secara bertahap. Dana sebesar itu dicicil sebanyak enam kali antara kurun waktu Januari hingga September 2016. "Dia ini mengaku menjalankan banyak bisnis, ya ojek online, properti, sampai perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Ngakunya enterpreuner sukses, sering ngisi seminar, muncul di pemberitaan media. Tapi kami tidak pernah mendapat keuntungan investasi sama sekali dari yang dijanjikan," tambah ayah satu orang anak tersebut.

Hingga akhirnya, kesabaran Handoko pun habis. Mereka memutuskan untuk menggugat Wawan secara perdata pada 18 Oktober 2017 di PN Sidoarjo dengan Nomor gugatan 225/Pdt.G/2017/PN SDA. Tanggal 18 Maret 2018, HK menang dan Wawan diwajibkan membayar Rp 1,035 miliar.

Namun menurut Handoko, kewajiban ganti rugi itu dianggap enteng oleh Wawan. Mulai putusan itu ditetapkan hingga sekarang, Wawan cuma mentransfer uang sebanyak dua kali, masing-masing sebesar Rp 1 juta. Atas dasar itulah, Handoko melaporkan Wawan secara pidana atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan.

Rosa, istri Handoko menambahkan, keluarganya sudah kesal dengan perbuatan Wawan. Dia menduga banyak korban lain yang telah ditipu adik kandungnya itu. "Saya rela memutuskan tali persaudaraan, karena perbuatan Wawan sudah keterlaluan. Dia tidak pernah terbuka sama kami. Kami minta mana laporan keuangan perusahaan, tapi dilarang melihat karena investor dianggap pihak eksternal," katanya.

Tanggal 10 Juli lalu, Handoko sudah mendatangi Mapolda Jatim untuk membuat laporan polisi (LP). Laporannya tertuang dalam tanda bukti lapor bernomor LPB 814/ VII/ 2018/ UM/ Jatim.

Laporan tersebut kemudian diarahkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim. Tanggal 17 Juli, Ditreskrimum melimpahkan kasus tersebut ke Polresta Sidoarjo.

Dikonfirmasi terpisah, Dirreskrimum Polda Jatim Kombespol Agung Yudha Wibowo membenarkan pelimpahan kasus tersebut. "Ya memang ada laporan itu. Kami akan pantau terus perkembangannya di Polresta Sidoarjo," tegas Agung.

JawaPos.com juga mengkonfirmasi Wawan lewat sambungan telepon. Wawan mengaku bila kasus yang dilaporkan kakak iparnya itu hanyalah salah paham. "Ya ini kan masalah keluarga. Saya rasa cuma delik aduan, nanti saya jelaskan ke penyidik," ucap Wawan.

Wawan sendiri mengaku belum dipanggil oleh penyidik. Ditanya soal bisnis ojek onlinenya jalan atau tidak, dia kembali mengatakan bahwa dirinya siap menjelaskan ke penyidik. "Ya saya tunggu dipanggil penyidik, nanti saya jelaskan. Kan belum dipanggil toh, ya ikuti proses hukumlah," imbuhnya.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up