alexametrics
Hari Kartini

Ratna Eliza, Sang Pejuang Anak-anak Kanker di Aceh

21 April 2018, 10:12:14 WIB

JawaPos.com – Niat membantu sesama bisa datang dari mana saja. Tak jarang tumbuh ketika melihat langsung keadaan dan kondisi sekitar. Inilah yang dialami Ratna Eliza, ketika memutuskan ‘berjihad’ membantu anak-anak yang kurang beruntung di Provinsi Aceh.

Ratna Eliza merupakan pendiri sekaligus pengampu rumah singgah yang diberi nama Children Cancer Care Community (C-Four). Sebelum berubah menjadi C-Four pada 2015 lalu, gerakan ini bernama Komunitas Peduli Anak Kanker (KPAK) yang digagas 2014.

Ratna mengatakan, niat membantu sesama khususnya anak-anak yang mengidap kanker bermula ketika melihat anak tetangganya mengalami kanker limfoma atau kelenjar getah bening. Ia pritahin melihat kondisi yang dialami tetangganya.

Ratna Eliza
Ratna Eliza pendiri rumah singgah Children Cancer Care Community (C-Four) bersama anak-anak singga yang tengah menjalani perawatan di Banda Aceh, Jumat (20/4). (murti ali lingga/jawapos.com)

“Saya sempat menanyakan kepada ibunya, ternyata bukan gondok. Mereka ketika itu dianjurkan dirujuk ke rumah sakit luar Aceh untuk mendapat perawatan,” ungkapnya mengawali perbincangan bersama JawaPos.com di rumah singah C-Four, Jalan Sepat, Gampong Lampriet, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Jumat (20/4).

Bermula dari itu, ia mencoba membantu sebisanya dengan mencari dana untuk biaya pengobatan. Bahkan ia sempat membawa anak tetangganya itu ke Dinas Sosial (Dinsos) dan berharap mendapat pertolongan. Namun apa daya, hasilnya nihil. “Maaf bu, kita tidak punya anggaran,” kata Ratna mengulangi ucapan pejabat Dinsos kala itu.

Peduli menjadi alasan mendasar Ratna terjun langsung membantu anak-anak pengidap kanker sepenjuru Aceh. Tak menyerah dengan kenyataan, ia menggalang dana atau donasi memanfaatkan kemajuan teknologi melalui Facebook. Ia selalu memberikan informasi setiap menemui anak pengidap kanker yang membutuhkan uluran tangan para dermawan. “Akhirnya saya coba untuk menggunakan media Facebook. Alhamdulillah, donasi mulai datang,” ungkapnya.

Sejak membantu dan manangani proses pengobatan anak-anak kanker petama kali sejak 2010 silam, dirinya terus mendapat laporan masih banyak anak-anak pengidap kanker lain yang membutuhkan bantuan. Ia berupaya membantu dan hingga suatu ketika menemukan seorang anak asal Kota Subulussalam dengan kondisi yang sangat memperhatinkan. Hatinya hancur melihat kondisi itu, Ratna bahkan sempat menyalahkan sang pencipta.

“Kenapa memberikan cobaan kepada anak yang masih kecil itu. Kedua matanya keluar dan mengeluarkan darah serta nanah. Kita saja yang ada bintilan kecil di mata pasti merasa sakit,” cetusnya membandingkan.

Peristiwa yang dialami Ratna membuatnya sempat putus semangat atau down untuk melanjutkan citanya kepada anak-anak kanker. Berselang sekitar tiga bulan, seseorang lantas mendatanginya dan meminta bantuan supaya menolong anak asal Kabupaten Bireuen bernama Azizi. Bersama orang tua sang anak, Erna berusaha menolong hingga akhirnya Azizi berpulang. 

“Jadi waktu jenazah Azizi diangkat, bapaknya sempat berkata, Ibu Ratna jangan patah semangat, banyak Azizi-Azizi lain yang harus ditolong. Saya kaget, loh bapak ini kehilangan anaknya tapi di sisi lain dia memberi semangat. Nah, dari situ saya mulai tidak boleh seperti ini (putus asa),” tuturnya.

Duka-demi duka dilaluinya. Kendati demikian hal ini tak membuat Ratna hanyut dalam kesediahan mendalam. Di balik duka itu membuat perempuan kelahiran Palembang, 20 Oktober 1974 ini kian tegar dan bersemangat berjalan memberikan harapan kepad anak-anak pengidap kanker. 

Dia menuturkan, alasan lain mau membantu mereka-mereka yang kurang beruntung karena kini perannya sudah menjadi seorang ibu. Semasa kuliah dirinya juga sempat bekerja di rumah sakit dan selalu melihat orang yang terbaring sakit serta berempati.

“Seorang ibu selalu identik dengan kasih sayang. Empati, nah rasa itulah yang membuat saya tetap bertahan hingga saat ini dan membantu anak-anak ini,” jelasnya.

Sejak memutuskan berjihad dari awal membangun C-Four, banyak suka dan duka yang dialami. Tak jarang pula sindiran dan cemooh didapati anak ketiga dari lima bersaudara ini. Meskipun nyatanya berbuat untuk orang-orang yang membutuhkan. Semisal ungkapan, sok cari muka, sok cari nama, sok hebat, hingga pengemis elite. Perkataan ini kerap menghampirinya.

“Namanya kita berjalan dalam aksi kemanusiaan, banyak kesan negatif kita terima. Tapi ada juga yang positif. Kita berbuat ini kerena empati. Ketika saya menampakkan kegiatan di Facebook niat cuma satu. Mengatakan kepada semua orang bahwa saat kita hidup ternyata ada anak-anak di sekitar kita yang butuh perhatian, butuh kasih sayang, dan bukan cuma nominal (uang),” jelasnya.

Kendala dan kesulitan untuk tatap bertahan menjalankan aksi sosial tak hanya dari orang-orang luar atau eksternal yang dirasakan Ratna. Pertentangan dari sang suami Afrizal, juga pernah terjadi. Ia dianggap tak lagi punya waktu bersama anak-anaknya di rumah. Ini menjadi tantangan sekaligus kesulitan yang harus segera selesaikan. 

“Saya pernah diprotes suami. Itu memang betul, saya salah. Akhirnya saya berusaha membagi waktu antara kerja, anak, dan C-Four,” pungkasnya.

Seiring perjalanan waktu, keseharian dan aktivitas Ratna sudah mulai normal. Baik ketika bekerja, mengurus rumah tangga dan mengampu rumah singgah.

Ia tak pernah beharap balasan materi dan popularitas dari siapa pun. Karena yang ia lakukan murni karena kepedulian. “Oke kerja, tapi kebajikan apa yang sudah kamu lakukan. Saya mengatakan kepada relawan dan siapa pun, inilah depositonya. Deposito yang akan kita bawa ke mati nanti,” tuturnya.

Dirinya tak terlalu kesulitan lagi untuk menggalang dana guna membantu keperluan anak-anak kanker yang ditangani. Sejak berdiri, kini C-Four sudah menangani sedikitnya 150 orang anak yang dengan beragam penyakit kanker. Kini, C-Four sudah memiliki relawan sebanyak 20 orang. Terus berbuat membantu anak-anak yang membetuhkan pertolongan.

Perempuan beranak tiga itu kini semakin semangat untuk berjalan dan berjuang di jalan kemanusiaan. Pelayanan kesehatan yang dinilai masih rendah dan kurang baik harus segera diperbaiki pemerintah. Khususnya mempermudah administrasi bagi kalangan keluarga kurang mampu. “Alhamdulillah donasi lancar dan terus mengalir. Saya yakin, setiap niat baik pasti Allah akan memberikan jalan,” tandasnya.

Ia juga berharap, perempuan-perempuan Indonesia, khususnya Aceh segera tergerak hatinya untuk membantu sesama. Peduli sesama dan orang-orang sekitarnya yang membutuhkan uluran tangan. 


Identitas: 
Nama: Ratna Eliza
Lahir: Pelembang, 20 Oktober 1974
Pekerjaan: Staf Keuangan di Sekolah Lab School Unsyiah, Banda Aceh
Anak: 3 [tiga]
Suami: Afrizal
Domisili: Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh 

Editor : Soejatmiko

Reporter : (ce1/mal/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Ratna Eliza, Sang Pejuang Anak-anak Kanker di Aceh