alexametrics
Hari Kartini

Pesan Saomiyanah Sang Pejuang Kemerdakaan untuk Perempuan Indonesia

21 April 2018, 11:13:53 WIB

JawaPos.com – Kisah perjuangan melawan penjajahan kolonial di Tanah Air, masih membekas dalam ingatan Saomiyanah Emon Legora. Perempuan 93 tahun tersebut adalah tokoh pejuang kemerdekaan. Dia masih ingat betul bagaimana perlakuan penjajah kepada Rakyat Indonesia.

Perempuan kelahiran Bangodua, Indramayu 30 April 1925 adalah saksi hidup dari rentetan panjang sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Hidup di tiga generasi, era pendudukan zaman penjajahan Belanda, Jepang dan era kemerdekaan.

Saomiyanah dan pejuang lainnya saat itu pernah mendapat perlakuan yang tidak manusiawi oleh tentara penjajah. Di Hari Kartini, dia pun berpesan kepada perempuan muda di Indonesia, agar bisa menjaga martabat dan harga diri bangsa. Sebab, Hari Kartini merupakan simbol kemerdekaan perempuan Indonesia.

Pesan Saomiyanah Sang Pejuang Kemerdakaan untuk Perempuan Indonesia
Saomiyanah Emon Legora (tengah) bersama kedua puterinya membawa penghargaan kehormatan tokoh pejuang perempuan. (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

Dia mengatakan, perjuangan para pahlawan perempuan membela harga dirinya dulu dibayar dengan darah. Maka itu, di era kemerdekaan saat ini, perempuan Indonesia hanya perlu banyak belajar dan memberikan ilmu dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

“Kalau melihat perjuangan perempuan dulu, saya sangat terharu,” ujarnya sedih.

Ia mengisahkan, saat zaman penjajahan Belanda dan Jepang, harkat dan martabat perempuan diinjak-injak dan direndahkan oleh tentara penjajah. Jangankan ingin menjadi seorang pemimpin, agar bisa membaca dan menulis saja, anak-anak perempuan harus belajar secara sembunyi.

Di masa mudanya, Saomiyanah adalah satu dari ribuan anak perempuan yang beruntung, karena bisa mengenyam pendidikan Hollandsch Inlandsche School (HIS), atau sekarang pendidikan setingkat sekolah dasar.

Sekolah dasar bentukan pemerintahan Belanda di Kecamatan Bangodua Indramayu itu, membuatnya fasih berbicara bahasa Belanda. Sehingga, saat tentara mengejek-ejek bangsa ini dengan kalimat yang tidak pantas, Saomiyanah paham betul.

Istri dari pejuang kemerdekaan, 1945 Brigade 17 Batalyon 400, Emon Sulaiman Reksa Legora, tersebut menceritakan bahwa perlakuan penjajah Belanda kepada kaum perempuan Indonesia saat itu sangat merendahkan. Pemerintah Belanda melarang keras perempuan desa meningkatkan derajat pendidikannya.

Jangankan untuk jadi pemimpin, bisa baca tulis saja, perempuan saat itu tidak dibolehkan. Pemerintah Belanda sangat tidak menghendaki perempuan rakyat jelata membaca dan menulis.

“Saat penjajahan, yang boleh belajar hanya keturunan ningrat saja. Perempuan yang ada di desa-desa banyak yang dipaksa melayani tentara,” ungkapnya pilu saat ditemui di rumahnya di Jalan Siliwangi Kota Cirebon, Jumat (20/4).

Saomiyanah atau yang akrab disapa Bu Emon kembali mengingat-ingat masa penjajahan. Pada 1942, pemerintah Jepang kemudian masuk ke Indonesia. Berbeda dengan kolonial Belanda, tentara Jepang lebih keji dan tidak ramah kepada perempuan.

Rakyat Indonesia yang tidak menghormati tentara Jepang dengan cara membungkuk 90 derajat (seikerei) akan ditendang. Bahkan, perempuan-perempuan Indonesia banyak dipaksa ‘melayani’ tentara kolonial.

“Kalau tidak membungkuk ke tentara Jepang, akan ditendang. Bahkan gadis-gadis desa dipaksa jadi budak seks tentara Jepang,” tutur Saomiyanah sedih.

Perlawanan mengalahkan penjajah terus digelorakan. Perempuan-perempuan muda pun ikut pergi medan perang. Sebagian besar mereka bekerja di dapur barak, membuat makanan untuk para pejuang kemerdekaan.

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : (wiw/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Pesan Saomiyanah Sang Pejuang Kemerdakaan untuk Perempuan Indonesia