alexametrics

Miris, di Hari Kartini Tren Kekerasan Perempuan Masih Tinggi

21 April 2018, 23:33:22 WIB

JawaPos.com – Di tengah maraknya peringatan Hari Kartini di berbagai daerah, tren kekerasan terhadap perempuan di Cirebon, Jawa Barat masih tinggi. Data dari 2016 hingga 2017, tercatat ada kenaikan hampir 200 persen kasus kekerasan perempuan yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Dari 50 kasus di 2016, tren kekerasan perempuan meningkat hingga 143 kasus atau hampir 200 persen. Kondisi demikian mengindikasikan bahwa kaum perempuan di wilayah Cirebon masih rentan diskriminasi.

Penasehat Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) RSUD Gunung Jati, dr. Siska Liliana Muliadi mengatakan, kasus kekerasan kepada perempuan trennya dari tahun ke tahun terus meningkat.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Karena korban kekerasan terhadap perempuan yang melaporkan ke RSUD Gunung Jati setiap tahunnya meningkatkan. Ini membuktikan bahwa, perempuan masih menjadi korban tindak kekerasan,” ungkapnya kepada JawaPos.com usai menggelar peringatan Hari Kartini di RSUD Gunung Jati, Sabtu (21/4).

Dikatakannya, bentuk kekerasan terhadap perempuan beragam, dari kekerasan psikis, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan dalam pacaran. Korban yang melaporkan diri ke PPT RSUD Gunung Jati tersebut dari berbagai daerah seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu, dan daerah lainnya.

Disinyalir, angka kekerasan terhadap perempuan lebih banyak dibandingkan dengan data yang terlapor. Sebab, para korban kebanyakan enggan untuk melapor ke pihak berwenang, karena masih dipandang sebagai aib keluarga.

Siska menjelaskan, tindak kekerasan lebih banyak dilakukan oleh pelaku incess atau masih keterikatan hubungan daerah. Misalnya, bapak memperkosa anak kandung. Kemudian, anak yang jadi korban enggan melapor karena takut diintimidasi.

“Kekerasan kepada perempuan, ibarat fenomena gunung es. Yang terlihat pucuknya saja. Dipastikan, angka kekerasan lebih banyak, sebab korban enggan melapor karena malu dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurutnya, ruang semacam P2TP2A menjadi sarana solusi bagi perempuan korban kekerasan. Mengingat, layanan tersebut sangat terbuka dan tidak dipungut biaya apapun, bahkan dibantu upaya hukum untuk pendampingan korban.

“Pusat layanan PPT ini menggratiskan semua rawat jalan dan rawat inap bagi perempuan korban kekerasan. Pasien korban kekerasan, hanya datang ke IGD, dan bilang ingin ke PPT. Dan langsung direkam medik gratis. Ini kenapa layanan PPT menjadi role model RSUD yang mengakomodir kekerasan perempuan,” ujarnya.

Sementara aktivis perempuan Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis, Sa’adah menambahkan, kasus kekerasan perempuan terus meningkat di wilayah Cirebon.

Beberapa kasus yang diadvokasi, rata-rata pelaku merupakan orang dekat, dari ada yang punya hubungan darah maupun tidak. Dilihat dari segi ekonomi korban, paling banyak adalah dari kalangan ekonomi berpenghasilan rendah.

“Sebagian besar, korban merasa terbelenggu oleh keadaan ekonomi. Karena tidak merasa punya apa-apa, apalagi pelaku adalah orang dekat. Maka mereka banyak menutup diri. Tugas kita semua untuk menyelesaikan kasus kekerasan perempuan,” terangnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (wiw/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Miris, di Hari Kartini Tren Kekerasan Perempuan Masih Tinggi